Mengunjungi Tamansari Bertamasya ke Masa Lalu
![]() |
| Kampung Tamansari Yogyakarta @abahraka |
Berkunjung ke Kampung Tamansari, Berkunjung ke Masa Lalu
Bagaimanapun, Yogyakarta, adalah kota budaya
dengan sejarah yang tidak terpisahkan dari masa lalunya sebagai kerajaan yang
sampai kini masih eksis. Sehingga bagi saya, saat memilih destinasi, jika bukan karena orang mengajak pergi ke suatu tempat, salah satu pilihannya adalah
karena ada edukasi sejarahnya.
Pilihan pertama Candi Prambanan, sayang sekali
informasi yang saya dapatkan kurang valid, sehingga saya mengurungkan niat
berkunjung ke Prambanan, karena tiketnya mahal. Padahal harga tiket ratusan
ribu dialamatkan untuk pengunjung mancanegara. Akhirnya, pilihan yang cukup saya
jatuhkan ke Kampung Tamansari. Kebetulan juga Tamansari cukup dekat dengan area
kota; alun-alun kidul, Malioboro, serta Pasar Ngasem yang terkenal itu.
Berangkat dari Kaliurang, akhirnya kami sepakat
untuk mengunjungi Tamansari Yogyakarta. Perjalanan dari Kaliurang ke Malioboro kurang lebih 15-20 menit, tergantung
situasi jalan. Saya benar-benar tidak ingat, nama jalannya apa, tapi tidak jauh
setelah melewati jalan Malioboro, akhirnya saya melewati pusat oleh-oleh
Yogyakarta dan berbelok ke kiri, bertemulah dengan Pasar Ngasem.
Puluhan meter dari Pasar Ngasem, saya menemukan area parkir yang dikelola
warga. Saya pun parkir dengan retribusi Rp5000 lengkap dengan karcisnya. Saat
keluar parkiran, seorang guide lokal menawarkan jasa untuk mengantar
kami ke area Tamansari. Karena harus melalui perkampungan dan rumah padat
penduduk, saya pun sepakat menggunakan guide yang tidak menyebutkan tarif.
Wisata Edukasi Sejarah Kampung Tamansari Yogyakarta
Beruntung menggunakan guide, selain saya tidak tersasar jalan, juga
mendapatkan sejumlah pengetahuan Sejarah tentang Tamansari.
Namanya Kampung Tamansari, terletak tepat di tengah-tengah area pemukiman
warga. Tamansari menyajikan destinasi utamanya adalah kolam atau taman air.
Airnya jernih dengan pantulan warna hijau.
Sebelum saya dan keluarga sampai ke Taman air, saya masuk melalui pintu
belakang dengan memasuki gang-gang pemukiman warga. Lalu kami masuk terowongan
yang cukup luas.
![]() |
| Terowongan bawah Danau Kampung Tamansari Yogyakarta, @abahraka |
Sebetulnya terdapat pintu atau gerbang utama yang bisa parkir kendaraan, namun, karena saya parkir di belakang, jadinya kami dibawa melalui jalan kampung atau tepatnya gang penduduk. Setelah melalui terowongan, sampailah kami di gerbang utama sebelum masuk ke area taman.
Di sinilah terlihat terdapat beberapa kendaraan yang parkir. Saya berpikir,
karena ketidaktahuan saya, harusnya saya masuk ke Gerbang Utama agar tidak
melalui jalan perkampungan, dan langsung masuk melalui pintu utama. Tapi
menyesal pun sudah tidak berguna, karena saya sudah berada di dalamnya
hehehe....
Tiket Murah Meriah Kampung Tamansari Yogyakarta
Saya pun diarahkan untuk menuju
loket pembelian tiket. Perorang dewasa Rp15.000,-. Anak-anak Rp10.000, kecuali
yang masih Batita, tidak dihitung. Jadi saya hanya membayar 50ribu saja. Kamipun
diberi 4 tiket gelang untuk dipasang pada tangan. Dua untuk saya dan isteri,
dua untuk anak.
Pemandu pun terus bercerita,
bahwa Kampung Tamansari merupakan tempat mandi para raja dan bangsawan Kerajaan
Ngayogyakarta. Terdapat jam-jam tertentu saat raja dan bangsawan akan mandi di
Tamansari, sehingga sering ada ritual terlebih dahulu sebelum mandi.
Saya membayangkan, bahwa
Tamansari ini bukan tempat mandi biasa, tapi tempat mandi khusus ketika para
bangsawan Ngayogyakarta membutuhkan sesuatu, atau lebih tepatnya mandi sebagai
ritual budaya, bukan mandi sehari-hari. Saya juga seakan melakukan perjalanan ke masa lalu, ke masa kerajaan. Jika di antara para pembaca ada yang pernah membaca buku Umberto Eco, ini semacam Bertamasya dalam Hiperealitas. Bagaimana menghadirkan kembali masa lalu melalui kunjungan ke situs budaya.
Tepat di atas terowongan,
merupakan kolam besar yang menjadi taman air utama yang dapat dinikmati warga.
Hanya saja, kolam air tersebut sudah tidak berfungsi. Airnya sudah kering.
Sehingga tidak ada lagi aktivitas di dalam kolam tersebut. Saat saya mendongak
ke atas, terdapat benteng atau tepatnya area kolam yang kelihatan kokoh. Wajar
ya karena untuk menahan air Danau.
Kampung Tamansari Bagian dari Keraton Ngayogyakarta
Berdasarkan penelusuran beberapa
rujukan, kolam air tersebut merupakan danau dengan area cukup luas, maka wajar
si Pemandu bercerita, bahwa dulu saat para bangsawan membutuhkan refreshing,
seringkali berperahu di atas kolam tersebut. Cuma sayangnya sekarang sudah
tidak ada lagi aktivitas karena airnya sudah kering.
Tamansari merupakan Taman Keraton
Ngayogyakarta Hadiningrat yang dibangun pada saat kepemimpinan Sultan
Hamengkubuwono I pada akhir abad 18 atau tepatnya tahun 1758 – 1765. Tamansari
tidak hanya ada danau, taman, dan taman air, juga terdapat bangunan tempat untuk
beribadah.
Tamansari berada pada Komplek
Keraton Ngayogyakarta, cuma sayang karena saya datang dari arah belakang, jadi
tidak melalui komplek tersebut.
Setelah memasangkan tiket pada
lengan masing-masing, masuklah kami ke
bangunan utama. Karena pintu masuk atau gerbang masuk situs Tamansari ini
merupakan bangunan ikonik, kami pun berfoto terlebih dahulu. Walaupun
bangunannya dibangun dua abad lebih yang lalu, namun terlihat masih kokoh.
Dan setelah melewati gerbang yang
terdiri dari ruangan tersebut, sampailah kami pada taman utama. Sebagaimana halnya taman, ini
terdiri dari tanaman beserta beberapa bangunan. Beberapa kali, kami pun
mengambil foto.
![]() |
| Taman Utama di Komplek Kampung Tamansari Yogyakarta @abahraka |
Sambil tidak berhenti bicara, pemandu pun mengarahkan kami ke Taman Air utama, yang konon menjadi tempat terbuka untuk mandi para bangsawan. Namun untuk raja dan permaisuri sendiri memiliki kolam tersendiri.
Cuacanya saat itu terik, walaupun jam baru
menunjukkan pukul 10.00 lebih. Tapi tidak menyurutkan kami untuk menikmati
pantulan kolam yang jernih kehijauan. Kami ambil gambar dari berbagai arah.
Sebelum akhirnya pemandu menawari kami untuk masuk gedung utama di ujung kolam.
Taman Air sebagai Pusat Kampung Tamansari Yogyakarta
Gedung utama kolam ini menjadi pemisah antara
Taman air utama dengan kolam khusus untuk raja dan permaisurinya. Pada gedung
tersebut terdapat semacam Mihrab atau tempat imam sholat, tidak besar, tapi
cukup untuk sholat beberapa jamaah.
![]() |
| Kolam utama tempat mandi bangsawan Ngayogyakarta di Kampung Tamansari Yogyakarta |
Setelah menikmati komplek pemandian, kami pun keluar gerbang utama. Gerbang utama keluar komplek yang dulunya menjadi bagian dari komplek taman air kini sudah menjadi komplek perkampungan warga, namun tetap menawarkan bangunan yang ikonik.
Arsitektur Kampung Tamansari Yogyakarta Ikonik Budaya Masa Lalu
Saat keluar komplek terdapat gerbang yang juga
menjadi simbol bangunan tersebut. Sekali lagi kami ambil foto di sekitar
gerbang tersebut. Dan para pedagang sekitar sudah menunggu di luar.
![]() |
| Gerbang keluar Komplek Kampung Tamansari Yogyakarta @abahraka |
Kami dikipasi oleh pepohonan yang cukup
meneduhkan walaupun cuacanya sudah cukup panas, apalagi jam sudah menunjukkan
pukul 12.30-an. Sambil duduk-duduk, disapu angin sepoi, kami pun menikmati Es
Krim Cingcau.
![]() |
| Sambil nunggu anak-anak jajan, berfoto dulu di area luar Komplek Kampung Tamansari Yogyakarta |
Melambat di Perkampungan Penduduk sekitar Kampung Tamansari Yogyakarta
Perjalanan belum berhenti. Suasana sesungguhnya Yogyakarta saya rasakan ketika jalan pulang melalui perkampungan penduduk, sebelum kami bertemu dengan jalan tempat masuk pada pintu belakang.
Suasananya santuy, kehidupan begitu melambat,
beberapa penduduk tidak beraktivitas, hanya duduk-duduk santai di teras.
Suasana perkampungan juga bersih dan asri. Tampak belakang pasar Ngasem yang
sudah sepi. Akhirnya kamipun bertemu kembali gang tempat kami masuk ke Taman
sari, beberapa pedagang berjejar, begitu juga toko oleh-oleh berupa kerajinan
khas Yogyakarta.
Kamipun berhenti lagi, menuruti permintaan
anak, membeli gantungan, gelang, serta beberapa aksesoris yang harganya relatif
murah dari Rp5000-Rp25000. Dan
akhirnya kamipun menuju parkiran sambil bersalam tempel dengan pemandu.***[]






Saya pernah berkunjung kesini 2 tahun lalu. Hanya sajaa waktu itu saya masuk dari bagian depan, kalau bapak dari belakang yaa.
BalasHapusPemandangan di area kolam tamansari itu memang indah banget, apalagi jika dilihat dari atas jendela bangunan timggi yang ada di samping kolam. Bagus banget .
Iya pertemuan sinar matahari dan fatamorgana air kolam terasa sangat spiritual, menenangkan, makanya walaupun cuma air kolam, berlama-lama di sini.
HapusYogyakarta memang menawan, bikin wisatawan pengen balik lagi dan lagi. Kota budaya dan pelajar, sangat banyak destinasi wisatanya.
BalasHapusSayang sekali, saat ke Yogyakarta malah nggak menyempatkan waktu untuk explore Kampung Tamansari. Banyak hal yang bisa di Kulik, eksplor bareng pemandu emang lebih bermakna, jadi nambah wawasan.
Next harus nih agendakan wisata ke area tersebut sangat worth it sekali.
Saya juga belum puas ke Yogya, next pengen ke Prambanan hehehe sama pantainya
HapusSayang banget waktu saya ke Yogya tahun 2025 yang lalu nggak sempat ke taman sari ini karena kecapekan. Padahal saya dan teman-teman sudah meniatkan mampir cuma ya karena kondisi lutut yang nyeri akhirnya kaki memilihlangsung ke tempat makan aja. Semoga aja nanti ada kesempatan ke jogja lagi dan beneran mengeskplor tempat wisata di sana
BalasHapusMinimalnya 4 hari kali ya di Yogya, jadi bisa eksplore banyak destinasi...
HapusKak salam tempel buat pemandunya biasa berapa ya? Biar next kalau ke taman sari bisa memakai jasanya juga
BalasHapus25ribu, cuma kayaknya kekecilan hehe, pasnya sih mungkin 40-50 ribu. Saya juga nyesel, terlalu kekecilan itu. Cuma pas saya tanya gak matok, jadinya yang terlintas di pikiran aja hehe, eh pas udah pulang, nyesel, kenapa gak kasih 50 aja gitu.
HapusSaya pernah nonton liputannya di YouTube nih, dan emang sebagus ituuuu. Selama saya ke Jogya, belum pernah ke sini, paling Prambanan lagi, hahaha. Next mau kesini ah, saya penasaran dengan terowongannya, meski kolamnya kerng, gak kebayang aja gitu ada terowongan diatas kolam.
BalasHapusWaktu itu padahal pengen ke Prambanan, eh malah salah baca harga tiket. Akhirnya gak jadi.
HapusBaca ini rasanya seperti diajak jalan pelan sambil menyerap suasana. Tamansari memang punya vibe yang nggak cuma indah, tapi juga penuh cerita. Aku suka bagaimana Abah tidak hanya menceritakan tempatnya, tapi juga menghadirkan rasa—seolah tiap sudut punya kenangan yang ingin didengar.
BalasHapusHehe sekadar bercerita dan berasa aja mbak
Hapusdan memang saat traveling ke Yogya wajib untuk mampir ke Tamansari dan tentunya mengambil momen dengan berfoto di setiap sudut
BalasHapusLain kali pengen berkunjung ke kampung wisatanya dan juga Prambaban
HapusPernah ke Tamansari sekali waktu itu tapi sayang kami gak menggunakan guide tapi kami keliling sendiri..saat itu kami juga masuk ke area seperti menara gitu tinggi dan banyak lorong2 nya ...Yogyakarta memang tidak pernah habis untuk diekplore budaya nya
BalasHapusKebetulan saat itu udah tiba-tiba diantar, ya sudah tinggal ikut aja hehe
HapusMenarik banget, baca tulisannya seolah lagi diajak jalan²... Tertarik sama kolam Tamansari yang tempat mandi para bangsawan, jernih sekali.. Kalau mandi disana auto jadi bangsawan juga gak ya? Hehe
BalasHapusKolamnya itu mengandung aura spiritualitas termasuk area sekitar Kolamnya. Entah saya merasakan kaya ada daya magis (dalam arti positif ya), bikin betah berlama-lama, padahal hanya kolam aja, jernih kehijauan seperti Jamrud.
HapusTernyata dekat pasar Ngasem ya? Pas ke Yogyakarta malah nggak mampir ke
BalasHapusTamansari, karena aku pikir tuh jauh. Ternyata cukup mudah, apalagi ada tour guide juga. Nice banget sih, jadi beneran nambah wawasan secara detail dan mendalam kalau bareng tour guide gini.
Tamansari, pemandian utama, bangunannya, beneran berasa balik ke tempo dulu ya. Mesti nih next kalau ke Yogyakarta mampirin juga, HTM nya pun murce.
Iya betul, ini belakang Tamansari itu Pasar Ngasem. Karena saya gak tau jadi lewat belakang. Keder dengan masnya.
HapusBeberapa tahun yang lalu pernah ke sini sekali sama suami di sela-sela kepadatan kegiatan beberapa hari di Jogja, jadi memang waktunya nggak lama. Sampai sudah lupa juga deh, kemarin itu masuknya lewat pintu yang mana. Tapi rasanya nggak sampai banyak melewati permukiman penduduk sih, malah cukup dekat dari jalan raya. Mungkin salah satu pintu di antara banyak pintu yang ada ya. Kapan-kapan perlu juga untuk ke sini sama anak-anak, walaupun beberapa bagian dari cerita guide-nya sepertinya kurang ramah anak (apakah akan menyesuaikan kalau pesertanya ada yang di bawah umur?).
BalasHapusEmang sih fokus guidenya ke orang tuanya. Btw karena saya salah jalan, harusnya langsung lewat depan. Kalo lewat depan gak lewat rumah-rumah penduduk. Karena saya salah parkir dan ketemu guide jadinya pas nawarin ya hayuk gass. Kalo lewat depan mungkin saya gak pake guide juga karena langsung nyampe ke tempat tiketing.
HapusSekarang udah pada naik ya HTM nya tapi masih cukup terjangkau sih sebagai tempat monumental dengan arsitekstur jawa klasik yang indah. Bangunan cagar budaya jadi berkesan sebab dapat menjelajahi kisah kejayaan masa lalu.m yg masih terjaga hingga kini
BalasHapusSaya baru pertama kali ke sini, jadi kurang tau juga HTM nya naik apa gak. Ya bener banget, arsitekturnya mengajak kita jalan-jalan ke masa lalu... M
HapusNanti kalau ke Jogja lagi, kabar-kabar bah. Meski sekarang tinggal di Bandung, tapi saya lahir dan besar di Yogyakarta. Sekalipun tiket domestik Candi Prambanan tetap dirasa mahal, di sekitarnya ada banyak candi lain bah. Ada yang tiketnya murah, bahkan gratis buat candi-candi kecil.
BalasHapusSiap kang Nugi, kayaknya taun skr ada rencana ke Yogya lagi, cuma waktunya belum pasti kapan. Iya mungkin nanti pas ke Yogya beneran pengen ke Prambanan sih...
HapusAsyik Kang. Berasa diajak jalan-jalan virtual ke Yogyakarta lewat narasinya yang sangat personal. Penasaran gimana bentukannya es krim cingcau yang menemani di tengah terik matahari siang.
BalasHapusTiket masuk juga murah. Saya beberapa kali ke Jogjakarta, tapi belum pernah ke sini. Nampaknya harus diagendakan.
Hahaha iya es krim cingcaunya tidak terdokumentasikan. Karena saya pegang anak kecil....
HapusKemarin nonton sw-nya temen berfoto di tempat yang estetik gittuu.. barruu tau ternyata tempat yang sama dengan Abah.
BalasHapusSungguh sangat "bangsawan" sekali jaman dulu yaah.. dengan adanya Tamansari Yogyakarta.
Tapi memahami jaman dulu dengan segala privilege-nya membuat kita jadi banyak-banyak bersyukur.. karena sekarang strata sosial tidak begitu diperlihatkan lagi.
Iya betul juga teh, bagi kita orang biasa mah ya menikmati aja tanpa privilege karena bukan bangsawan. Syukur ya kita hidup di jaman skr..., btw ya tapi masih tetap ada strata juga sih kalo di lingkungan keratonnya mah
HapusArsitektur na jiga masuk ka lorong waktu pisan nya bah. Mirip jaman kerajaan hehehe. Tapi eta nu menarik terowongan bawah danau, jadi hoyong nyobian ameng kadinya
BalasHapusIya itu masih jaman kerajaan kang De dibangunnya. Nah eta, saya ngabayangkeun eta kumaha ngabangunna kan di luhur aya danau 🚣
Hapus