Detoksifikasi Media Sosial untuk Minimalkan Stress
Antara Buku dan Media Sosial
![]() |
| Ilustrasi antara membaca dan scrolling media sosial, gemini, prompt by @abahraka |
[https://abah-raka.com] - Buku sudah di tangan, waktu menunjukkan jam 20.00, saya ingin mengejar beberapa lembar untuk menuju bab selanjutnya. Sebelum tidur, kurang lebih menuju jam 22.00, minimal satu jam saya harus membaca. Sisanya, bisa baca hanca novel yang tertunda.
Tapi di tangan kiri, saya juga pegang
perangkat, saya buka dulu perangkat, refresh-refresh discover Google,
beritanya itu-itu aja, tidak ada yang baru. Saya tinggalkan, berpindah ke salah
satu platform, buka sebentar, tapi berlanjut ke scrolling, eeh keterusan.
Tiba-tiba waktu sudah satu jam. 21.00. Buku masih dipegang dan akhirnya malah
tidak kerasan. Akhirnya lelah. buku dan perangkat akhirnya saya simpen.
Jebakan Algoritma yang Impulsif
Teman, pernah enggak sih terjebak dengan
aktivitas scrolling secara terus menerus oleh aplikasi media sosial
hingga menghabiskan waktu berjam-jam? sejujurnya saya pernah. Bukan sekali, bukan dua kali, beberapa
kali malah sering. Walaupun belakangan sudah mulai jarang. Tapi sesekali
kejebak lagi pernah.
Algoritma media sosial tanpa ampun menyajikan apa yang menurut kita
menarik. Satu kali klik dan tonton, maka konten sejenis akan terus bermunculan.
Bahkan salah satu platform, seringkali memunculkan konten-konten yang tidak
terduga namun menarik perhatian. Walaupun tidak pernah kita memencet jenis
konten yang serupa sebelumnya.
Kita (saya) terhanyut ke dalam lautan konten yang tidak berakhir.
Konten-konten lain terus muncul. Malah terus menarik ke dalamnya. Satu jam, dua
jam, mungkin tambah lagi. Sia-sia, 2 jam hanya kita habiskan untuk menonton
konten-konten yang sebetulnya menghibur pun tidak, tapi tetap kita tonton.
Toxic!!
Saat berada dalam posisi tersebut, saya sadar bahwa itu merupakan perilaku
yang imfulsif, didorong oleh kesenangan yang tidak jelas yang dipancarkan oleh
konten-konten media sosial. Padahal, dua jam jika membaca buku bisa jadi sudah dapat
puluhan halaman terselesaikan. Apalagi baca novel, mungkin sudah beberapa bab.
Beberapa bulan lalu, selama beberapa waktu pada tahun 2025, time screen pernah menunjukkan 6-7 jam dalam seminggu, beberapa minggu. Artinya, perilaku saya bermedia sosial khususnya scrolling sudah cukup mengkhawatirkan. Walaupun, saat itu saya juga memiliki justifikasi, sebagai bentuk efikasi dari kejenuhan yang setiap hari harus memelototi laptop dan buku-buku teori. Seringkali ide tidak kunjung datang dan akhirnya melakukan pelarian, semakin jauh.
Memilih dan Memilah Grup WA
![]() |
| Ilustrasi selesai Membaca Homo Sapiens dan Memilah Grup WA, gemini, prompt by @abahraka |
Hasilnya bagaimana?
Pasca saya pisahkan perangkat,
ternyata cukup signifikan terhadap kesehatan mental saya. Ketertekanan yang
saya rasakan mulai berkurang, cenderung ringan. Informasi pekerjaan cukup
terfokuskan.
Kedua, pada grup-grup di luar pekerjaan. Grup-grup
yang tidak terlalu terlibat atau melibatkan kepentingan saya di dalamnya, saya
arsipkan. Apalagi ada beberapa grup yang isinya spaming. Biasanya
cenderung membagikan konten narsis, atau clickbait. Otomatis saya
arsipkan. Selain grup yang tidak terlalu relevan, juga grup-grup yang sudah
jarang aktif juga saya arsipkan.
Ketiga, grup-grup aktif yang masih relevan dan
menjadi salah satu pusat aktivitas tetap saya pantau, sesekali saya terlibat di
dalamnya. Walaupun tidak intens, akan tetapi informasi dari grup-grup tersebut
tidak terlewat.
Keempat, grup yang saya anggap spam,
selalu saya clearchat untuk mengurangi beban kapasitas. Selain juga saya
setting agar medianya tidak otomatis mengunduh sehingga tidak memenuhi
kapasitas memori. Saya tidak keluar grup, karena sesekali saya butuh
informasi-informasi yang ada di dalamnya. Walaupun seringkali saya anggap spam.
Grup-grup WA merupakan yang pertama saya
rasakan cukup menguras perhatian sehingga perlu pemilahan prioritas. Kini,
sudah berdamai dengan grup WA, sehingga tidak lagi menjadi aktivitas yang
menekan, karena sudah dilakukan pemilahan dan pemilihan.
Bahkan, untuk grup-grup yang merasa saya di
dalamnya hanya menjadi bagian dari memenuhi grup atau target komodifikasi, saya
memilih untuk keluar dari grup WA. Juga beberapa grup yang kegiatannya sudah
selesai, saya memilih untuk keluar dan menghapusnya dari perangkat.
Hiatus Aplikasi Media Sosial
Saya kembali berpikir, apakah yang saya lakukan
itu cenderung produktif atau konsumtif. Apakah saya memiliki target tertentu
dalam bermedia sosial atau tidak. Sampai pada akhirnya, karena alasan cenderung
mengganggu aktivitas yang sedang saya lakukan saat itu. Akhirnya,
aplikasi-aplikasi media sosial itu saya hapus dari perangkat. Padahal pada
masanya, saya cukup aktif pada media tersebut.
Tapi saya belum hapus akunnya, akunnya sesekali
saya buka melalui browser. Kadang jika ada yang share dan merasa
penting saya tetap bisa buka melalui
browser, tapi harus buka laptop, sesekali bisa menggunakan perangkat mobile.
Beberapa aplikasi yang saya hapus dari
perangkat: Facebook, X, Instagram, Threads, LinkedIn. Pada aplikasi tersebut
juga saya sudah sangat jarang berinteraksi, walaupun sesekali saya buka.
Beberapa aktivitas memang mewajibkan untuk posting pada aplikasi tersebut. Seperti
blogwalking mungkin, atau pada saat ikut sertifikasi social media
marketing harus posting pada salah satu aplikasi tersebut.
Jadi dengan menghapus aplikasi tersebut, otomatis
saya harus buka via perambah yang saya akses menggunakan laptop, sementara di
rumah kecuali ada pekerjaan yang harus dibawa ke rumah sudah sangat jarang
membukanya. Alhasil, seringkali malas membuka laptop sehingga mengerem untuk
membuka aplikasi-aplikasi tersebut.
Beberapa waktu lalu pada ramadhan sempat
menginstal ulang Threads, tapi saya urungkan, dan saya hapus lagi. Buat apa? Karena
saya belum merasa produktif menggunakan aplikasi tersebut. Alih-alih menjadi
objek eksploitasi aplikasi, lebih baik saya menghapusnya. Kecuali niat sudah
berubah jadi tekad dan saya sudah memanfaatkan dengan baik menjadi produktif
pada aplikasi tersebut.
Pada perangkat saya, hanya terisa dua aplikasi
media sosial, Youtube dan Tiktok. Youtube sudah sangat jarang, kecuali lagi
libur menggunakan laptop, itupun sudah tidak intens. Begitu juga tiktok, dalam
dua bulan terakhir khususnya, paling terakhir terdeteksi timescreen-nya seminggu
lalu 3 jam dalam seminggu.
Sedangkan yang relatif intensif diakses dan
ditonton sebagai sumber hiburan selain Youtube melalui perangkat televisi, adalah
Netflix. Ya, ini menjadi sumber hiburan di kala senggang, biasanya seringnya
kalau makan malam menjelang magrib biasanya. Film, walaupun fiksi, seringkali
menawarkan pelajaran-pelajaran penting bagi kita.
Discover Google
Salah satu yang seringkali menyita waktu saya di
ruang digital adalah media online. Akan tetapi bukan pada satu jenis
media tersebut, justeru pada aplikasi agregator Google.
Belakangan, berita-berita yang ditampilkan
cenderung menyajikan berita yang sudah publish beberapa hari lalu. Beberapa
catatan lain, discover Google juga menawarkan berita-berita yang clickbait
bahkan pernah membaca satu berita yang cenderung bersifat fabrikasi dari media online yang sepertinya tidak
terlalu familiar.
Kini, saat akses discover Google lebih banyak
menampilkan berita yang sama dalam beberapa hari terakhir, saya semakin tidak
tertarik dengan discover Google, walaupun beberapa kali updatenya berasal dari
media mainstream yang cukup kredibel. Sehingga seringnya saya langsung akses
aplikasi media online seperti detik.com atau langganan Kompas.id.
Pusat interaksi
Selama dua tahun terakhir, blog menjadi sumber
hiburan sekaligus interaksi. Walaupun sempat berhenti pada bulan September 2025
s.d. Januari 2026, Namun 2 tahun terakhir blog menolong saya dalam interaksi, banyak
yang saya dapatkan dari blog, khususnya terkait masa depan blog itu sendiri.
Saya menjadi tahu bahwa blog masih memiliki kans cukup tinggi, walaupun jika
secara popularitas kalah dengan media sosial.
Pada beberapa grup blogger juga tetap hidup
beragam diskusi, aktivitas, juga beberapa Job, walaupun tidak seintensif dulu.
Akan tetapi, mereka yang telah lama menjadikan blog sebagai aktivitas, masih
tetap konsisten menulis. Senangnya, dari tulisan-tulisan tersebut mayoritas
adalah tulisan-tulisan personal dan review mandiri yang lebih jujur
ketimbang promosi yang seringkali terikat dengan kontrak.
Alhasil, saya juga merasa bahwa blog menjadi
satu-satunya media (sosial) yang akan saya pertahankan. Menambah satu pilihan
jenis media sosial UGC misalnya Youtub.
Jadi di masa depan, jika media 10 tahun ke
depan masih tidak berubah seperti sekarang. Kemungkinan yang akan saya pilih
untuk tetap bertahan hanya dua, Blog dan Youtube. Namun, entah mulai kapan mau
serius. Karena selama ini, ngeblog hanya menumpahkan keresahan, dan media
sosial (Youtube atau lainnya) hanya sebagai mirroring atau perpanjangan
blogging dalam format yang berbeda.
Kita kembali ke titik awal blogging. Sehingga bermedia sosial tidak mengeksploitasi waktu kita (saya). Justeru menjadi momen pelepasan lelah mental. Sehingga bermedia sosial, bukan karena trend bukan karena fomo, tapi benar-benar pelepasan energi negatif kita menjadi positif.***[]



Setujuuu banget sama tulisan ini. Saya pun pernah di masa buka medsos malah bikin burn out, akhirnya uninstal
BalasHapusYes, pilihan tepat jika tidak produktif. malah tambah beban ya
HapusSepertinya saya juga sama, insyaallah akan bertahan dengan blog. Karena saya merasa bebas bercerita di blog. Terus saya suka membaca ulang tulisan di blog sendiri khususnya yang berkaitan dengan traveling. Untuk medsos lainnya, kayaknya saya masih candu sama TikTok dan Youtube, sementara X sudah nggak buka sama sekali dan juga belum tertarik bikin akun Thread.
BalasHapusSaya melihat blog dan salah satu aplikasi video ke depan masih akan bertahan mungkin setidaknya 10 tahun ke depan.
HapusAku mulai ngerasa di fase ini nih. Mulai terjebak dengan "media sosial" karena emang sebagian penghasilan datengnya dari sana. Tapi sadar mesti cari cara supaya seimbang. Seperti di tulisan ini, sekarang saya mulai lagi aktifin nulis dan baca buku, yang sempet berkurang gegara aktif di sosmed.
BalasHapusSaya juga sejak dua tahun aja kerasanya karena selama tahun2 tersebut ada di rumah. Walaupun karena jenuh di rumah terus jadi sering medsosan gak jelas
HapusDetoks media sosial memang kadang perlu banget dilakukan, apalagi kalau sudah mulai bikin pikiran penuh dan capek sendiri. Aku juga pernah mencoba mengurangi waktu scrolling, dan ternyata suasana hati jadi lebih tenang dibanding biasanya
BalasHapusAkhirnya saya hapus beberapa medsos. Dan mulai berkurang screentimenya. Dan kerasa bebannya berkurang.
HapusKeresahan bermedia sosial hampir dialami banyak orang saat ini termasuk, saya. Sadar bahwa sebenarnya medsos itu toksik kalau dihabiskan untuk scroll-scroll yang tak jelas. Waktu habis terbuang tidak produktif. Langkah yang mas ambil sudah pas untuk menyelamatkan kesehatan mental. Kita harus mengambil tindakan mengurangi segala ketergantungan, karena medsos memang dibuat untuk ketergantungan.
BalasHapusYes. Pada dasarnya jika toxic harus detoks. Ya hapus jalan pintasnya. Jika sudah tekad produktif baru instal lagi.
HapusSalah satu yang saya lakukan untuk mengurangi bermedsos adalah dengan selektif menginstal aplikasi medsos. Hanya IG dan thread yang saya install. Cara ini cukup berhasil buat saya. Karena suka agak malas membuka situs medsos.
BalasHapusYa teh setuju banget itu. Toh banyak app juga kalo gak produktif selain menuhin perangkat bisa juga jadi impulsif ya
HapusAku masih kesulitan sebenarnya melepaskan diri dari sosial media ini. Apalagi kalau misal bikin thread eh ternyata rame nggak berhenti deh itu thread kurefresh. Huhu
BalasHapusKalo produktif sebenernya gak masalah, cuma kalo toxic itu yang jadi masalah...
HapusDetoks media sosial, kayaknya perlu juga nih diterapkan ke saya. Cuma kadang dari sekian sosial media yang diinstal emang masih sering dipakai untuk kerjaan juga. Mungkin pelan-pelan kali, ya sambil diseleksi lagi.
BalasHapusPatut dicoba, dengan catatan kalo memang gak produktif bermedsos
HapusKayaknya saya juga perlu nih detoksifikasi media sosial. Dulu sih secara berkala saya suka deaktifin beberapa medsos buat detoks. Namun lima tahun terakhir sudah tidak pernah lagi sih.
BalasHapusSaya belum punya lagi kaya momen, kapan mau produktif bermedsos. Kecuali blog ya. Rencana ke youtube, tapi masih agak berat di waktu..., jadi sementara blog dulu, yang lain nonaktif dulu.
HapusPerlu sekali detoks medsos demi kesehatan mental. Tidak baik kalau mata terpaku terus ke layar. Saya suka melakukannya beberapa bulan sekali supaya tetap waras. Karena tidak semua hal di medsos perlu Kita pikirkan dan lihat. Secukupnya saja
BalasHapusIya kang arief, makanya seringkali kalo hari sabtu dan minggu hape disimpen aja. Selain di luar karena belum produktif medsos2nya dihapus2in dulu.
HapusBetul sekali dengan apa yang dikatakan Abah Raka..saya juga merasakannya. Scrolling media sosial terasa sangat menguras waktu. 2 jam itu terasa sebentar saja hanya dengan scroling scrolling saja. Padahal saat melakukan hal lain, waktu 2 jam itu bisa menyelesaikan banyak pekerjaan.
BalasHapusSaya juga termasuk orang yang memfilter wa terutama grup grup wa...banyak hang saya arsipkan. Agar lebih efektif saja.
Tapi sebenernya gpp ya kalo ada tujuan cari ide misalnya ya. Cuma kadang sering terjebak dan idenya kelupaan ya teh hehehe
HapusAkutu sekarang malah lebih sering main ke threads ketimbang IG atau X, apalagi facebook.. ((uda hoream))
BalasHapusDan amazing sama algoritma threads yang jauh lebih baguuss ketimbang IG. Threads hanya memunculkan apa yang sering kita like.. beneran gak terkontaminasi sama kesukaan temen ((yang kita follow))
Alhamdulillah bangett..Abah.
Bisa detoksifikasi sosmed yang benar.. pencuri waktu terbesar selama kita bangun tidur. Padahal waktu kita bangun ini terbatas..
Saya juga lihat threads vibes-nya positif sih ya, kaya LinkedIn ya selalu positif, tapi ya itu kadang saya sendiri suka kejebak dan akhirnya jadi kaya impulsif gitu... Makanya perlu detoks
HapusNulis di blog memang sering jadi tempat melepas keresahan, menyimpan cerita, sekaligus ruang bernapas dari hiruk pikuk dunia digital. Rasanya lebih tenang dan tidak terlalu menuntut seperti media sosial lain yang serba cepat dan penuh tekanan tren 😊
BalasHapusBener juga seperti itu, santai ya di blog itu
HapusDetoksifikasi digital, memilah grup, memprioritaskan platform yang memberi nilai, ini adalah kesimpulan dari artikel di atas. Sebuah upaya penyelamat dari burnout digital yang membuat kita buyar di tengah melimpahnya informasi.
BalasHapusInformasi yang seharusnya memberi nilai tambah, malah menjadi tidak memiliki makan apapun jika tidak mindful saat beraktivitas digital ya, Kang.
Kembali ke baca buku adalah upaya dan solusi yang dapat dibiasakan kembali secara bertahap.
Iya teh membeli ke sumber asli rujukan dan informasi pengetahuan lebih kerasa dapatnya dari pada scroll medsos yang bisa bikin burnout
HapusRelate banget, Kak! Bagian terjebak algoritma sampai scrolling berjam-jam itu beneran tamparan. Kadang niatnya cuma mau buka bentar, tahu-tahu waktu produktif malah habis buat nonton konten yang sebenarnya gak penting-penting amat.
BalasHapushehe, aku sendiri adalah orang yang meng-archive WAG ngga penting dan matiin smeua notifikasi. hihi
Sepertinya memang ini jadi fenomena ya, kalo algoritma itu sebagai jebakan. Ada istilahnya, attention economy katanya
HapusSetuju banget kak. Sekarang saya juga sedang mengurangi waktu untuk scrolling. Hari Minggu sengaja off WA
BalasHapusYes emang bener ya. Hari libur khusus keluarga aja ya. Off WA gak rugi. Malah bagus buat kesehatan mental.
HapusKadang yang bikin capek itu bukan hidupnya, tapi suara-suara di media sosial yang gak pernah berhenti. Tulisan ini ngingetin kalau detox bukan berarti menghilang, tapi kasih ruang buat kepala dan hati bernapas lagi
BalasHapusAda yang disebut echo chamber saat konten yang sesuai minat kita terus2an hadir, kita terus tersedot ke dalamnya. Kita pun sulit melepaskan diri dari media sosial.
Hapussalah satu hal yang menurutku toxic banget dari media sosial itu adalah dia membuat orang merasa tidak bersyukur dengan kehidupan mereka akibat standar yang mereka lihat di media sosial itu. padahal apa yang terlihat di medsos itu hanya secuil dari kehidupan yang sebenarnya
BalasHapusAkan terjadi jika kita menjadikan standar kehidupan orang lain menjadi standard hidup kita
HapusSetuju bgt sama artikelnya, kadang pengen hiatus dari medsos cuma berbenturan sama kerjaan yg berhubungan dgn medsos.
BalasHapus