Menjadi Bapak Rumah Tangga Seringkali Enggak Berguna

Kalau Malas jadi Bapak Rumah Tangga

POV Bapak-bapak sedang memasang lampu rumah

Tahu enggak sih, saat menjadi seorang bapak rumah tangga, asisten rumah tangga di rumah, sering juga merasa atau justeru memang enggak berguna ya!?

Kenapa enggak berguna!? Hanya untuk pasang bohlam lampu saja, harus minta tolong ke pekerja atau tetangga yang biasa bekerja di rumah, alasannya enggak ada tangga atau sulit terjangkau karena tinggi.

Padahal, sebagai penanggung jawab rumah, kita bisa pinjam tangga ke tetangga, kenapa enggak kan. Tapi kadang rasa gengsi menutupi tanggung jawab kita sebagai bapak rumah tangga.

Perasaan itu selalu memenuhi pikiran saya selama beberapa tahun pada awal-awal menikah hingga memiliki anak kedua. Apa-apa minta tolong ke tetangga, walaupun memang tetangganya karena sering bekerja di rumah.

Tapi dipikir-pikir lagi, semakin ke sini, kok kita (saya) ini tidak berdaya sebagai bapak rumah tangga ya.

Kemudian apa yang saya lakukan, saat bohlam lampu mati di rumah? Pernah beli tangga, tapi kelamaan jadi lapuk, dan saya buang. Ternyata, jika bapak rumah tangga mau bekerja dan punya tekad membantu di rumah, hanya sekadar pasang bohlam lampu enggak mesti ada tangga kan haha...

Suatu waktu, bohlam lampu kamar mati, tidak ada ranjang ataupun dipan penopang. Lampu sudah berminggu-minggu mati. Jika saya mau memasangnya, otomatis saya harus bisa mencapai tempat lampu terpasang yang cukup tinggi.

Jika pasang lampu bohlam saja malas, bagaimana mencari solusi persoalan yang lebih besar, karena tidak semua masalah di rumah bisa meminta bantuan tetangga. Jadi kalau malas, jangan jadi bapak rumah tangga!

Mau Berusaha, Bergunalah Sedikit jadi Bapak Rumah Tangga

Saat itu saya mikir, benarkah saya tidak berdaya? benarkah selalu harus ada tangga untuk pasang lampu? Saat di rumah kosong dan sendirian, karena pada pergi, akhirnya saya pinggir-pinggirkan kasur yang sudah tidak berdipan karena rusak belum ada gantinya.

Saya pun akhirnya mengambil meja makan dan kursi-kursinya. Saya pasang meja paling bawah, lalu saya tumpangkan kursi di atasnya, di atas kursi saya tumpangkan lagi kursi plastik. Memang agak was-was juga, jika kursi tiba-tiba terpleset, saya terpelanting, dan sendirian di rumah, apa yang akan terjadi.

Tapi saya bertekad, dengan pikiran yang sama, sebegini tidak berdayakah jadi bapak rumah tangga? Pasang lampu saja, harus minta bantuan tetangga. Setelah terpasang semua, akhirnya saya naik pelan-pelan, tangan kiri pegang tembok dan tangan kanan pegang meja dan kursi. Setelah saya berada di atas kursi paling atas, saya berdiri pelan-pelan dengan sedikit gemetar dan hati-hati, karena posisi kursi pertama dan kedua ujung-ujung yang menopangnya ngepas sekali.

Setelah bisa berdiri, tangan kiri saya tetap berpegang ke tembok dan tangan kanan saya secara perlahan memutar bohlam lampu yang mati. Setelah terlepas, bohlam lampu mati saya simpen di sela-sela tembok, dan bohlam lampu baru yang sudah saya simpan di sela-sela tembok saya pasng perlahan.

Dan Yalaaaa akhirnya menyala. Bisa kan? Ada gunalah sedikit jadi Bapak Rumah Tangga hahaha…

Tidak Butuh Keahlian, yang Penting Mau Berdaya sebagai Bapak Rumah Tangga

Ilustrasi salah satu masalah rumah, bocor. Sumber: rukita

Tentu bukan perkara bohlam lampu mati yang sudah berkali-kali yang akhirnya tidak lagi minta tolong ke tetangga. Beberapa masalah di rumah juga pada akhirny, solusinya memang  ada pada pemberdayaan diri agar bener-benar berguna. Karena beberapa masalah itu tidak perlu keahlian. Misalnya, genteng bocor.

Setiap hujan, harus memasang ember atau jolang di ruang tamu. Setiap hujan kasur di kamar harus disingkirkan biar tidak kena cipratan air. Kata orang sunda, jika suatu masalah receh itu terus-terusan datang dan tidak bisa selesai dengan sendirinya, itu KALUMAN namanya.

Itu juga yang saya rasakan saat plafon kamar bocor, terus lagi bertambah di ruang tamu. Bahkan, pernah satu waktu di ruang tamu, airnya mengalir seperti keran kehabisan air. Ember terisi sampai hampir setengahnya. Iya ini namanya kaluman.

Beberapa kali saya cek genteng, gak ada yang bergeser. Besok-besoknya lagi saya cek langsung ke atas gentengnya, takut-takut ada yang pecah, enggak ada juga. Ruang tamu bocor berminggu-minggu. Karena kaluman itu, saya coba tanya-tanya tetangga itu (hanya untuk bertanya ke ahlinya). Tapi jawabannya tidak memuaskan.

Besoknya lagi saya cek sekali lagi, saya sisir, saya bersihkan saluran air dari beberapa sampah dan daun kering. Eh ternyata di pojok saluran, ada saluran yang bolong. Walah pantesan, bocoran airnya seperti air keran, bolongnya lumayan gede.

Saya merasa menang. Dalam hati bergumam, mungkin kalau ini benar-benar sumber masalahnya, dan bisa saya benerin, posisi saya sebagai Bapak Rumah Tangga bergunanya gak hanya sedikit, lumanya berguna banyak ini hehehe....

Perlu Sedikit Usaha sebagai Bapak Rumah Tangga

Salah satu bagian sudut genteng yang menyebabkan atap bocor seperti air keran (dokpri).

Beberapa masalah di rumah memang tidak memerlukan alat dan keahlian. Tapi membutuhkan perangkat lain. Seperti kebocoran ini, tidak bisa ditutupi sama genteng lagi. Tapi perlu ganti seng mungkin. Atau penutup dengan perekat. Bukan soal kemauan lagi.

Kebetulan, beberapa waktu sering lewat konten tentang lem perekat bocor di beranda Tiktok. Saya simpan juga konten tersebut. Akhirnya saya cek toko hijau. Saya pesan. Barang akhirnya datang dalam beberapa hari. Dalam hati, melanjutkan kemenangan saya sebelumnya, yang menemukan kebocoran.

Sempat agak waswas, gimana kalau sumber bocornya bukan dari sana. Kemenangan saya sebagai Bapak Rumah Tangga yang tadinya sudah sedikit berguna, hanya mitos belaka. Buang jauh-jauh menerka sebelum melakukan.

Setelah barang datang, saya buka, saya ambil kuas. Saya naik lagi ke genting dan dengan hati-hati menuruni ke tempat saluran air. Saat tutup lem saya buka, sedikit kecewa, karena lemnya tidak rekat. Namun tetap si bolongannya saya olesi lem menggunakan kuas. Selesai.

Hujan turun. Ruang tamu tidak bocor. Saya merasa menang hahahaha. Seminggu berlalu. Ruang tamu tidak bocor. Tapi setelah seminggu, plafonnya harus ditandon lagi menggunakan ember dan jolang. Waduh, memang menjadi bapak rumah tangga tidak berguna begini ya.

Saat libur, hari sabtu pagi-pagi, cuaca cukup cerah. Saya naik lagi ke atap, lalu saya turun ke saluran airnya. Saya cek, ternyata udah bolong lagi. Saya mikir lagi. Ini lem sepertinya gak berguna. Lalu saya cek, celahan-celahan genting yang sebelumnya saya olesi juga menggunakan lem tersebut. Lemnya kuat.

Saya yakin, gak cukup satu kali oles, dan akhirnya saya ambil kertas bekas cover yang agak tebal, kemudian saya sobek, dan saya tutup bolongan tersebut menggunakan kertas yang sebelumnya saya olesi lem. Setelah tertutup semua permukaan saya olesi lem lagi. Sampai sekarang ruang tamu aman. Hujan besar tetap tidak bocor.

Lem tersebut juga saya gunakan untuk merekatkan beberapa peralatan di rumah yang sudah terlepas-lepas, seperti helm, pintu lemari, sepatu, tapak sendal, dan lainnya. Dengan lem tersendiri saya juga tutupi pinggiran pintu yang berjamur.

Kadang menjadi Bapak Rumah Tangga memang tidak berguna begitu ya.

Bapak Rumah Tangga Butuh Alat-alat Pertukangan

Beberapa alat pertukangan umum yang berguna untuk kerja Bapak Rumah Tangga.  Sumber: cahayaabadi

Pernah lihat seorang tukang bekerja? Membawa peralatan tukangnya sendiri saat bekerja kan? Bukan disediakan si empunya pekerjaannya.

Dari beberapa masalah yang bisa saya lakukan, memang beberapa tidak membutuhkan peralatan, walaupun butuh bahan. Tapi jika ingin maksimal, seorang bapak rumah tangga harus punya alat-alat pertukangan.

Jika diibaratkan seorang konten kreator, minimal dia punya perangkat ngonten. Smartphone dan data misalnya. Seminimal itu. Juga menjadi Bapak Rumah Tangga. Agar berguna dan berdaya menjadi Bapak Rumah Tangga. Alat-alat pertukangan harus ada di rumah.

Oleh sebab itu, sejak beberapa kejadian yang membuat saya merasa tidak berguna dan berdaya sebagai bapak rumah tangga. Saya pun akhirnya mencicil peralatan, sesuai dengan kebutuhan.

Peralatan-peralatan tersebut seperti: palu, obeng, tang, Golok, gergaji besi, gergaji kayu, tangga portabel (masih kumpul-kumpul buat beli tanggal besi/ alumunium), kape, pernah beli gerinda mesin tapi saya kasih ke tukang, karena sepertinya di tangan tukang lebih berguna.

Keahlian dan Peralatan Spesifik untuk Kerja Bapak Rumah Tangga Lanjutan

Setelah beberapa masalah kecil/ receh bisa saya lakukan sendiri. Saya juga merasa bahwa beberapa masalah lain juga bisa saya lakukan, baik yang tidak membutuhkan keahlian ataupun yang membutuhkan keahlian.

Sumber belajar sangat banyak, termasuk juga sumber belajar pertukangan. saya berpikir, jika peralatan ada sebetulnya saya bisa melakukan beberapa pekerjaan lain yang tingkatannya membutuhkan keahlian. Dan saya harus coba itu.

Beberapa yang akan saya coba lakukan ke depan adalah, renovasi kamar anak: selain mengecat dinding yang sudah tidak layak, juga mencoba membuat dipan anak yang memang membutuhkan keahlian. Tapi belum ditarget kapan pekerjaan yang saya anggap dapat dilakukan oleh Bapak Rumah Tangga tersebut direalisasikan.

Akan tetapi, sudah jelas bahwa pekerjaan tersebut membutuhkan keahlian dan juga peralatan yang spesifik bukan sekedar palu dan obeng. Namun, setidaknya dari sisi waktu sudah bisa saya sediakan. Tinggal menunggu alat-alat yang spesifik perlu nyicil dan modal mengumpulkan bahannya. Semoga. ***[]

32 komentar untuk "Menjadi Bapak Rumah Tangga Seringkali Enggak Berguna"

  1. Menjadi bapak rumah tangga pasti punya tantangan tersendiri, apalagi masih ada stigma dari lingkungan sekitar. Aku suka sudut pandang yang ditampilkan karena menunjukkan kalau mengurus rumah dan keluarga juga membutuhkan tenaga serta tanggung jawab besar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul banget, tanggung jawab itu yang jadi dasarnya, bukan sekadar kerja, pulang, dan ngopi

      Hapus
  2. Memang kadang jadi bapak rumah tangga itu bukan soal jago pertukangan, tapi soal mau belajar dan mau gerak. Hal-hal kecil kayak ganti lampu atau benerin bocor ternyata bisa bikin rasa percaya diri naik juga.

    Soalnya kalau semua serba minta tolong orang lain, lama-lama jadi kebiasaan dan bikin kita makin malas berusaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, intinya mau apa gak, kalo udah mau pasti ada usaha dan gerak. Terlepas bisa atau tidak.

      Hapus
  3. Hmm... Kalau di rumah, bapak rumah tangganya mau berdaya dan nggak merasa gengsi, bener-bener membantu sekali. Terutama untuk urusan macam ganti lampu atau genteng bocor.

    Minta tolong ke tetangga mulu kan malu ya. Meskipun bayar kan, rasanya nggak enak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget mbak, kalo nyuruh orang itu juga harus pake duit ya hahaha

      Hapus
  4. Jujur topik begini tuh kadang masih sering dipandang sebelah mata, padahal jadi bapak rumah tangga juga pasti punya tantangan sendiri. Setiap keluarga kan punya kondisi masing-masing, jadi menurutku yang penting tetap saling support dan jalanin peran sebaik mungkin 👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ngeblog kembali lagi ke personal, bagaimana pemaknaan kita terhadap satu peristiwa.

      Hapus
  5. Pernah baca postingan influencer yang suaminya adalah bapak rumah tangga. Cukup cekatan mengondisikan rumah dan anaknya, tetap keren sih dengan segala aktivitasnya di rumah, tapi kembali lagi pada keputusan dan komunikasi terbuka dengan pasangan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes, terlepas apapun pekerjaan suami, menjadi bapak rumah tangga itu tetap hal yang alamiah, mau tidak mau seorang suami harus ambil peran demi berbagi tugas dengan pasangan.

      Hapus
  6. Iya ya, meski bekerja diluar toh semua bapak juga bapak rumah tangga. Semoga makin banyak yang memiliki perspektif bahwa "produktif" yang tidak harus berarti menghasilkan uang. Menjaga rumah, menemani anak, memastikan keluarga berjalan dengan baik adalah pekerjaan yang nyata dan bernilai, meski sering kali tidak terlihat atau tidak dihargai oleh standar sosial yang sempit. .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju banget ini, pekerjaan ini pekerjaan yang tidak pernah dipandang sebagaimana Ibu rumah tangga, padahal dunia berjalan mulai dari rumah, maka rumahnya harus baik-baik dulu ya...

      Hapus
  7. Nah ini, bahasan yang segar banget! Suka sama sudut pandangnya yang santai tapi tetep dapet banget poinnya. Emang yang paling penting itu kesepakatan dan kebahagiaan di dalam rumah, bukan apa kata tetangga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah iya, soal dapur di rumah tetangga gak mesti tau ya, mau bagus atau jeleknya seperti apa. Yang penting sesama anggota keluarga bisa saling pengertian.

      Hapus
  8. Ternyata suara hati bapak rumah tangga kayak gitu tentang urusan di dalam rumah hehe.
    Bapakku pernah tuh Abah-Raka, pas di rumah mati lampu dan gak punya tangga. Opsinya, nungguin abang daku pulang kerja, pinjem tangga ke tetangga atau naik pakai bangku hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha iya, gimanapun bapak-bapak tetap punya tanggung jawab di rumahnya, gak sekadar ngasih uang belanjanya aja kan..., secara jarak dari lantai ke langit-langit cukup tinggi, jadi gak bisa pake satu bangku aja, makanya agak repot juga hahaha

      Hapus
  9. Duh...suami saya banget ini sih, bapak rumah tangga. Kran bocor, genting bocor, ganti bohlam, naik ke atap betulin genting, pasang selang gas, sampai mijitin hehehe...semua suami...
    Meskipun kita ini istri yaa mungkin saja bisa mengerjakan hal² tersebut tapi meminta bantuan suami itu membuat mereka bahagia lho...merasa dibutuhkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah ini pointnnya ya, satu sama lain jika saling merasa dibutuhkan disitulah letak harga dirinya. Jadi gak usah yang muluk-muluk ya Teh Heni, cukup yang simpel-simpel gitu

      Hapus
  10. Kadang memang ada keterbatasan alat, tenaga, atau pengalaman yang bikin kita perlu bantuan orang lain. Namun banyak hal kecil seperti pasang lampu atau memperbaiki rumah memang sering dianggap sepele, tapi ketika bisa dilakukan sendiri rasanya pasti ada kepuasan tersendiri 👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya mas selama kita mau melakukan. Pasti masalah ada aja solusinya ya

      Hapus
  11. Jadi bapak rumah tangga pastinya nggak semudah kelihatannya ya. Karena nggak semua laki-laki ternyata bisa melakukan pekerjaan seperti benerin genteng atau bohlam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes bener banget, gak semua mau atau mungkin bisa

      Hapus
  12. Semangat jadi Bapak Rumah Tangga!

    Aku ganti bohlam lampu, selama masih cukup tingginya, ya ganti sendiri. Tapi kalau genteng, ya mohon maap. Emang butuh bantuan laki-laki

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pada dasarnya semua suami otomatis jadi bapak rumah tangga, cuma masalahnya mau apa gaknya aja sih ya haha

      Hapus
  13. Kereen.. Bapak Rumah Tangga membuat rumah semakin nyaman untuk ditinggali dan aman.
    Seneng bacanyaa...Abah.
    Dan aku jadi kepikiran juga nih.. mungkin bukan buat suami seperti kisah Abah sebagai Bapak Rumah Tangga... tapi buatku yang sedang mengalami kebocoran juga..

    Kalau hujannya ga deras, alhamdulillah engga bocor.
    Tapi kalau deres, agak merepotkan.. karena akutu agak rewal masalah kebersihan yaa.. selain air yang mengalir, temen-temennya ikutan.. kayak kotoran seperti pasir.

    Jadi penasaran sama lemnya dan ingin mencoba cek kaya Abah ginii..
    Tapi tentu aku minta tolong.. soalnya kalo sendiri.. afakah genteng-genteng itu mampu menopang BB-ku?
    huhuhuu... Nuhun Abah, kisahnya inspiratif.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Coba cari namanya lem nano partikel teh, itu beneran bisa buat cukup banyak keperluan. Walaupun harus lihat-lihat bahannya dulu.

      Hapus
  14. Peralatan dasar yang harus ada di rumah emang harus disiapkan ya biar kapanpun ada masalah rumah bisa langsung ditangani, minimal sudah usaha sendiri, kalau masih belum beres baru cari tukang. Penanganan mandiri tentu saja lebih hemat biaya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang lebih memudahkan jika ada peralatan, setidaknya gak bingung mau ngapain

      Hapus
  15. sebetulnya ini adalah, masalah klasik yang bikin rumah tangga banyak drama sih ya abah, wkwkwkwk. apalagi untuk urusan ganti bohlam aja bisa jadi drama, hahahaha. apalagi urusan genteng bocor. dan saya pun mengalaminya, minta benerin itu dan itu lamaaaaaa banget sampai akhirnya saya juga yang turun tangan, kecuali urusan sanyo, better manggil tukang aja. kenapa sih dengan bapak-bapak? serius saya penasaran, hahahaha. dan alasannya klise, "nunggu punya alat perkakas lengkap" Ya Allah, wkwkwkwk.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang kalo ada peralatan lebih dapat kerjanya. Gak asal. Lebih memudahkan juga. Tidak keluar energi yang gak perlu. Coba bayangin, pasang lampu pake meja makan, tambah kursi dan kursi lagi yang ngepas banget, kalo geser dikit udah pasti jatuh. Selain harus ekstra hati-hati energi yang dikeluarkan jauh lebih banyak plus degdegannya. Belum lagi ingat angkutnya. Kalo pake tangga simple banget kan hehehe

      Hapus
  16. Padahal, jadi bapak sudah berat ya apalagi dengan stigma-stigma di masyarakat yang semakin memberatkan. Semangat bapak-bapak!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tanggung jawabnya yang berat

      Hapus

Terima kasih telah berkunjung, tunggu kunjungan balik saya ya...