Berakhir Pekan Bersama “Homo Sapiens”

Sambil Ngopi, Blogging Lebih Fokus dan Semangat! @abahraka

Cicil Baca Homo Sapiens

[https://abah-raka.com] - Sebelum memasuki 2026, membaca buku hanya berdasarkan kesempatan, Sejak ramadhan tahun ini, saya berniat menciptakan kesempatan tersebut tanpa menunggu. Salah satunya adalah menargetkan bahwa buku yang saya baca harus selesai dalam tenggat waktu.

Walaupun tidak menentukan waktu selesainya, karena Tingkat kesulitan dan kualitas dari setiap buku berbeda. Tapi setiap hari harus bisa mencicil bacaan, walaupun hanya satu lembar ataupun satu paragraf sekalipun.

Niat dan tekad pun menjawab, selama Ramadhan dan tepat pada libur lebaran, satu buku selesai saya baca. Homo Sapiens. Buku yang sudah setahun berada di rak buku. Akhirnya selesai saya baca. Artinya Homo Sapiens menemani saya selama Ramadhan 2026 tahun ini.

Ulasan ini tidak akan mengulas bagaimana isi buku secara lengkap dan terstruktur, tapi saya hanya ingin bercerita tentang apa yang saya dapatkan dan apa yang saya rasakan. Pengalaman apa yang saya dapatkan saat membaca buku ini. Bisa jadi, pembaca kecewa karena saya tidak mereview sebagaimana halnya ulasan buku.

Saat memasuki lembar demi lembar buku ini, saya merasa sedang bertamasya ke alam hiperealitas. Sebagaimana judul buku Umberto Eco. Sang Penulis, Yuval Noah Harari, seorang akademisi dari Israel, menulis secara kronologis bagaimana cikal bakal manusia yang eksis sekarang.

Homo Neanthertal VS Homo Sapiens

Hasil Konstruksi Homo Neanthertal

Pada masa purba, sebelum Charles Darwin menggagas teori evolusi yang menyatakan bahwa manusia berasal dari monyet, dalam Homo Sapiens menemukan jawabannya. Karena antara manusia yang sekarang dengan monyet secara biologis tidak terlalu berbeda. Yuval Noah melalui banyak referensi, menyebutkan dua jenis makhluk yang eksis pada masa purba, yaitu Homo Neanthertal dan Homo Sapiens.

Pada masa Purba di lembah Afrika dan Eurasia mereka hidup berdampingan. Sehingga satu sama lain tidak bisa dibedakan. Keduanya hidup berdampingan sebagai makhluk pemburu dan pengumpul. Selama jutaan tahun mereka hidup dan melakukan kawin silang di antara mereka. Namun, menurut catatan Yuval Noah tersebut, hasil kawin silang antara Homo Neanthertal dan Homo Sapiens tersebut tidak menunjukkan perkembangan. Sulit ditemukan atau tidak ada hasil temuan, hasil kawin silang antara Homo Neanthertal dan Homo Sapiens tersebut berkembang dengan baik.

Revolusi Kognitif

Sebagai akademisi, penulisan buku Yuval Noah Harari ini mengikuti prinsip sejarah ilmu pengetahuan. Salah satu yang mendorong Homo Sapiens terus berkembang dan jauh meninggalkan Homo Neanthertal adalah terjadinya revolusi kognitif yang terjadi pada kelompok Homo Sapiens.

Pada masa-masa selanjutnya, ketika Homo Sapiens telah berkembang dan menciptakan sistem narasi sebagai bagian dari revolusi kognitif, Homo Neanthertal tidak menunjukkan perilaku yang sama dengan Homo Sapiens. Mereka masih hidup primitif. Sedangkan Homo Sapiens, dari revolusi kognitifnya tersebut telah mampu menciptakan mitos atau fiksi.

Sebagaimana dalam sejarah ilmu pengetahuan dan atau filsafat, mitos seringkali menjadi titik awal berangkat manusia sebelum mengenal ilmu pengetahuan. Mitos adalah pengetahuan paling awal manusia sebelum akhirnya filsafat dan ilmu pengetahuan lahir. Mitos pula lah yang mengantarkan Homo Sapiens terus berkembang.

Sementara Homo Neanthertal berjalan di tempat. Padahal secara fisik, tidak ada perbedaan antara Homo Neanthertal dan Homo Sapiens, bahkan beberapa jenis dari Homo Sapiens juga terdapat fisik seperti orang eropa jaman sekarang, dengan kulit cerah dan rambut berwarna kuning. Hanya saja mereka tidak memiliki kemampuan kognitif sehingga tidak mampu menciptakan imajinasi sebagaimana yang dilakukan oleh Homo Sapiens.

Revolusi Kognitif-lah yang akhirnya mendorong Homo Sapiens berimajinasi dan bisa menciptakan cerita-cerita pada masa depan. Bagaimana mereka bisa bertahan dan bagaimana mereka bisa membangun hubungan. Melalui mitos pada akhirnya mendorong Homo Sapiens melakukan revolusi kedua, Revolusi agrikultur atau Pertanian.

Homo Sapiens, melalui imajinasi kreatifnya dalam sistem mitos menciptakan koloni-koloni untuk hidup pada masa depan. Sebagian Homo Sapiens tidak lagi hidup sebagai pemburu pengumpul sebagaimana yang tetap dilakukan oleh Homo Neanthertal. Melalui koloni, mereka bekerja sama membangun perkampungan dengan cara hidup bertani dan memelihara ternak.

Revolusi Pertanian

Cowok macho pada masanya

Sistem pertanian yang ada sekarang merupakan warisan dari kehidupan awal koloni Homo Sapiens. Semakin hidup berkoloni dan membangun perkampungan yang kelak menjadi cikal bakal perkotaan. Kebutuhan hidup koloni Homo Sapiens makin bertambah.

Bertambahnya kebutuhan mula-mula untuk kebutuhan konsumsi. Kebutuhan konsumsi akhirnya mendorong Homo Sapiens harus berpikir menambah hasil pertanian. Hingga akhirnya melakukan domestifikasi terhadap tanaman konsumsi. Pada saat inilah dilakukan domestifikasi gandum. Awalnya adalah tanaman liar yang bisa dimakan kini menjadi produk pertanian utama untuk memenuhi kebutuhan utama konsumsi manusia.

Bukan hanya gandum, koloni-koloni homo sapiens juga melakukan domestifikasi terhadap hewan agar mereka dapat memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari. Mereka pun melakukan domestifikasi terhadap sejumlah hewan yang biasa mereka buru; babi, ayam, kerbau, sapi.

Homo Sapiens tidak cukup mendiami satu koloni, mereka pun berkembang mencari koloni-koloni baru. Dengan pengetahuan yang dimilikinya melalui mitos, homo sapiens dari Indonesia, homo florensis atau homo erektus, mencari kehidupan di luar pulau dengan menyebrang ke benua Australia.  Mereka mengembangkan sistem pertanian di Australia sebagai koloni barunya.

Menjadi catatan, bagi Yuval Noah Harari, revolusi pertanian merupakan awal kehancuran pertama manusia. Karena, sistem nomaden yang sudah jutaan tahun dianut oleh homo sapiens berubah menjadi malapetaka. Hal ini terjadi karena, jika saat berburu penyakit itu tidak mudah menyebar, karena kelompok sapiens pemburu pengumpul hanya berjumlah sedikit, sehingga tidak cepat menular ke kelompok pemburu-pengumpul lain, sedangkan pada sistem koloni pertanian, saat satu orang atau kelompok terkena penyakit lebih mudah menular. Sementara pada masa purba belum memiliki sistem pengetahuan tentang kesehatan.

Beban yang ditanggung homo sapiens pada masa koloni juga cenderung bertambah sehingga harus berpikir bagaimana bertahan dengan sistem yang ada. Maka terciptalah sistem-sistem lain yang lebih memudahkan ketika koloni manusia semakin bertambah.

Sistem ini juga berkombinasi dengan sistem kepercayaan, penemuan aksara, hingga koin sebagai alat pertukaran. Sistem kepercayaan berkembang atas mitos yang sudah sejak awal berkembang pada homo sapiens. Sedangkan penciptaan uang koin dan aksara merupakan kemajuan yang terjadi saat koloni-koloni terus berkembang dan pada akhirnya membutuhkan satu sistem pemerintahan sebagaimana yang terjadi pada masa imperium, Babilonia misalnya.

Raja Hammurabi misalnya harus bisa mengelola rakyatnya dan membangun sistem pertanian dengan manajemen yang baik agar dapat menjamin kehidupan kerajaan. Sehingga mulai tercipta aksara dan manajemen sederhana yang mengatur hajat hidup manusia.

Revolusi Sains

Komputer, Internet, hingga AI menjadi puncak dari hasil ilmu pengatahuan.
 
Dari imperium ke imperium, terjadi revolusi ilmu pengetahuan. Pada masa Romawi, yang merupakan Imperium terbesar pada masa awal terbentuknya imperium dari Eropa, Asia, Hingga Afrika terlah terjadi perubahan yang sangat mendasar terhadap sistem pengetahuan yang misalnya dimulai pada di Yunani antara Eropa dan Asia Tengah.

Masa yang disebut sebagai Jaman Hellenistik pada Sejarah filsafat tersebut, menjadi jembatan penghubung terhadap kemunculan imperium Islam dan terjadi penerjemahan terhadap filsafat Yunani oleh para filsuf dan intelektual Islam.

Peradaban Yunai sendiri terkenal dengan peradaban filsafat, yang menjadi jembatan antara Mitos dengan Ilmu Pengetahuan. Homo Sapiens yang berkembang di Yunani, merupakan pelopor terhadap pergeseran peradaban mitos ke dalam peradaban filsafat. Peradaban cerita dan myth ke dalam perabadan pikir dan akal. Hingga akhirnya muncul orang-orang muslim yang banyak menerjemahkan pemikiran-pemikiran filsafat Yunani dari filsuf seperti Sokrates, Plato, dan Aristoteles.

Melalui penerjemahan besar-besar oleh filsuf Islamlah, filsafat Yunani akhirnya bisa sampai ke Eropa. Bahkan para pemikir Islam juga hadir di tengah-tengah imperium Eropa, melalui Spanyol.

Pada abad pertengahan, buku-buku yang ditulis dan diterjemahkan oleh para pemikir Islam diboyong oleh orang-orang Eropa untuk membangun imperium Eropa. Dogma Agama yang dianut oleh Gereja abad pertengahanpun mulai tergeser oleh ilmu pengetahuan yang sedang berkembang di Eropa.

Begitu juga orang-orang gereja mulai terpengaruh oleh sistem pemikiran filsafat yang dibawa oleh orang-orang Islam, seperti St. Agustinus hingga Thomas Aquinas. Abad kegelapan pun berubah dengan apa yang di Barat disebut sebagai periode pencerahan.

Buku setebal 500-an halaman tersebut (526) ditutup dengan subbab tentang tujuan akhir dari homo sapiens, yaitu kebahagiaan. Secara panjang lebar, Yuval Noah Harari, menjelaskan tentang bagaimana manusia bisa mencapai kebahagiaan, mendefinisikan apa itu kebahagian. Bagaimana kebahagiaan versi evolusionis, bagaimana kebahagiaan versi kapitalis, atau bagaimana kebahagiaan versi agama. Walaupun cukup pelik saat membicarakan kebahagiaan, arah kebahagiaan pada masa depan berada pada hidup kekal yaitu upaya manusia untuk menjaga imortalitasnya. Bab ini akan berlanjut ke Buku lain yang ditulisnya yaitu Homo Deus, yang juga akan saya tulis pengalaman membacanya pada akhir bulan depan (semoga).

Kesimpulan akhir dari buku ini adalah tentang Tamatnya Homo Sapiens. Karena ke depan manusia akan terus mengembangkan imortalitas, termasuk juga sebagaimana diceritakan dalam Film Frankenstein (bisa nonton di video streaming N.) Bagaimana menciptakan imortalitas manusia dengan mengambil bagian tertentu dari setiap mayat, sehingga menciptakan manusia super, nietzshe menyebutnya ubermens.

Hal tersebut dapat diciptakan oleh Sapiens melalui ilmu pengetahuan; kloning, bionik, atau dengan mengembangkan makanan-makanan yang bisa membuat awet muda manusia (jadi inget serial The Boroughs atau Paradise).

Demikian, berakhir pekan dengan Homos Sapiens, dari sejarah awal umat manusia hingga lahirnya ilmu pengetahuan, secara kronologis cukup komprehensif memberikan gambaran kepada pembaca kenapa jenis manusia dari Homo Sapiens bisa berkembang. Tidak seperti sejenis homo lainnya yang tidak berkembang dan justeru menjadi objek dari homo sapiens.***[]

46 komentar untuk "Berakhir Pekan Bersama “Homo Sapiens”"

  1. Aku berasa belajar Sejarah lagi. Seingatku cerita Homo Sapiens ini ada di kelas 1 SMP. Sekarang kelas VII ya.

    Berawal dari mitos lalu berkembanglah peradaban. Homo Neanthertal tetap nggak berubah. Kasihan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya masih inget aja pelajaran sejarah tentang homo mojokertensis dan homo Florensis ya, nempel banget. Cuma baru tau juga kalo makhluk yang tidak berkembang itu homo neanthertal.

      Hapus
  2. Menarik sekali membayangkan menghabiskan akhir pekan dengan menelusuri kisah panjang perjalanan manusia. Kadang kita terlalu sibuk dengan kehidupan sehari-hari sampai lupa bahwa peradaban yang kita nikmati sekarang terbentuk melalui proses yang sangat panjang. Ada rasa kagum ketika melihat bagaimana manusia bisa terus beradaptasi dan berkembang dari masa ke masa. Kegiatan seperti ini bukan cuma menambah pengetahuan, tetapi juga membuat kita melihat kehidupan dari sudut pandang yang lebih luas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya bener juga ya kita terlalu sibuk dengan kehidupan kita sendiri sehingga lupa menikmati jika kita sebagai manusia selalu terus berkembang

      Hapus
  3. Buku ini sangat populer di kalangan guru, ternyata isinya memang sepadat itu. Penuh informasi dari berbagai bidang terutama tentang revolusi kemanusiaan. Aku sudah lama juga ingin baca buku ini, tapi rasanya terlalu berat buatku. Dengan adanya ulasan ini, aku sedikit-banyak jadi paham inti dari bukunya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebetulnya gak berat karena isinya cukup naratif, pembaca justeru di bawa bertamasya ke dunia yang belum pernah dikunjungi

      Hapus
  4. Baru sedikit baca buku ini, tapi di beberapa bagian awal saja bisa menambah wawasan sejarah peradaban manusia. Bagaimana perjalanan manusia dari dulu hingga semaju saat ini dengan berbagai teknologi yang diciptkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kebayang ya bagaimana keadaan bumi pada masa manusia masih sebagai pemburu pengumpul dan peradaban hanya sebatas pertanian....

      Hapus
  5. Wah, akhirnya tamat juga ya buku yang sudah setahun antre itu! Keren sih Bah, bisa konsisten nyicil bacanya tiap hari. Kadang memang yang kayak gini malah lebih nikmat daripada dipaksain selesai sekali duduk.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ini, cicil tiap hari akhirnya tamaaat maaat...., tinggal cicil buku yang lain hehe

      Hapus
  6. Saya juga suka mengangurin buku, suka beli tapi kadang lupa menuntaskannya. Saya juga pernah melihat buku ini. Secara judul tentu buku ini sangat informatif dan teori, kalau saya membaca buku homo sapien mungkin selesainya agak lambat karena tidak sekadar dibaca tapi perlu dipahami perlahan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya kebiasaan itu gak baik sebetulnya, cuma dulu ada tetangga yang ngajarin, kalo misalnya nemu buku yang bagus, beli aja dulu, kalopun belum dibaca, suatu waktu pasti butuh dengan buku tersebut, dan emang bener sih, kadang susah nyari buku yang udah terbit lama,

      Hapus
  7. Baca artikel ini seperti kembali mengulang pelajaran sejarah di masa sekolah tentang evolusi dan peradaban. Bagi pendidik bisa menjadi refrensi dalam perkembangan evolusi manusia dengan informatif lebih mendalam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya beneran sih haha, ketemu lagi sama Darwin, ketemu lagi sama Homo Mojokertensis, dan lain-lain

      Hapus
  8. Wah Akhirnya aku nemu juga ringkasan buku ini. Sebelumnya dapat isi-kisi dari cuplikan dian sastro tentang kenapa homo sapiens bisa bertahan. Jujur sudah agak lupa nih diriku sama pelajaran biologi terkaait homo sapiens ini yang kuingat yang teori evolusi darwin itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih ke apa yang saya ingat aja sih, gak diringkat, kalo diringkas bisa panjaaang hehehe

      Hapus
  9. Kalau dari ulasannya jadi tergambar bahwa isian bukunya jelas dan padat, seperti buku pelajaran sejarah.
    Bisa dimanfaatkan ini bukunya untuk pelajar/guru maupun yang ingin mendalami sejarah lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener, bener-bener pada mbak, dan isinya daging semua saking padatnya....

      Hapus
  10. Judulnya unik banget. Pas dibaca, bener-bener dapet esensi berakhir pekan bersama real manusia. Kadang di tengah rutinitas yang serba digital, meluangkan waktu buat interaksi nyata kayak gini yang bikin waras ya. Tulisan yang renyah dan enak banget dibaca sambil ngopi santai.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener sih, dunia nyata itu lebih kerasa hadir ya daripada virtual.

      Hapus
  11. Aku tau Homo Sapiens saat belajar sejarah di sekolah. Habis itu ya udah aja, gak benar-benar cari tahu yang lebih dalam. Kalau dipelajari ternyata emang banyak revolusi yang terjadi sampai sekarang ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Satu kata yang saya ingat dari pelajaran sejarah dulu, waktu SMP atau SMA ya, homo sapiens purba itu nomaden.

      Hapus
  12. Menarik banget buat mempelajari manusia. Pelajaran tentang Homo Sapiens memang ada di sekolah, tapi untuk cerita lengkap perkembangannya ada di buku ini ya Abah.

    Sampai sekarang manusia terus beradaptasi. Tapi aku sendiri suka nggak habis pikir sama kelakuan manusia yang makin ke sini makin menjadi-jadi ya. Apa iya Homo Sapiens akan tamat dan nantinya hanya ada imortalitas? :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sebetulnya sejarah singkat teh, dan memang sih gak fokus ke sejarah bagaimana mereka hidup secara detail, tapi substansinya dapat banget. Padat bukunya.

      Hapus
  13. Selain mengupas sejarah Homo Sapiens berdasarkan data dan bukti yang ditemukan, juga pada akhirnya penulis dengan cerdas menterjemahkan maknanya yaa..
    Dan dengan membaca buku karya Yuval Noah Harari, kita bisa mendapat insight mengenai "Tiga Revolusi Utama yang Mengubah Peradaban".

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang paling membuat saya tertuju adalah revolusi kognitif, yang ternyata itu adalah MITOS. Jadi mitos menjadi semacam batu loncatan peradaban manusia.

      Hapus
  14. Wah luar biasa Abah bisa menghabiskan Buku setebal 500-an halaman dan berhasil mereviewnya dalam satu postingan. Jujur kemampuan aku untuk tahan membaca dan menyelesaikan buku setebal itu makin menurun hiksss..karena makin banyak kehectican yang menggangu penyelesaian pembacaan sebuah buku. Beberapa hari lalu ke Museum Nasional dan menikmati versi fisik revolusi Homo Sapiens juga termasuk fakta bahwa di NTT tepatnya flores ada homo sapiens mini atau hobit yang ditemukan kerangka dan bukti arkelogis lainnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe iya teh, itu hasil perjuangan rutin setiap pagi baca buku dulu. Nah-nah ini udah beberapa minggu saya skip dulu karena ada dedline di akhir Juni hehehe

      Hapus
  15. Waduh pantas sebulan lebih batu bisa menyelesaikan membacanya, secara halamannya aja lima ratus lebih, mana isinya berat semua...
    Kalau saya yg baca, pasti bakalan lieur duluan daripada paham dengan perjalanan homo ke homo lainnya
    Dengan adanya ulasan ini saya jadi banyak terbantu bisa memahami bagaimana sebenarnya perkembangan cerita hingga terbentuk perubahan sampai munculnya pemikiran alias ilmu pengetahuan
    Buhun Bah, keren pemikirannya masih cemerlang pisan nih...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi rata-rata saya emang gak pernah sebentar kalo baca buku teh, karena waktunya terbatas hanya sejaman kurang lebih. Selebihnya aktivitas biasa. Jadi suka lamaaa kalo baca, kadang menggantung gak selesai...

      Hapus
    2. Sama, teh. Kalau saya kayaknya bisa 2 bulan baru tamat baca buku begini karena biasanya kan bahasanya agak berat ya. Beda sih kalau misal fiksi yang 500 halaman dan seru bisa tuh bacanya kurang dari sebulan. Alhamdulillah bisa bacaan rangkuman ya di tulisan ini

      Hapus
    3. Soalnya kan udah lama tuh buku, banyak yang ngulas tapi lebih kerasa baca sendiri daripada baca ulasan orang hehehe

      Hapus
  16. Mempelajari sebuah peradaban yang diwariskan pada manusia generasi saat ini dari Homo Sapiens ini menyadarkan saya pribadi, jadi membuka sudut pandang soal "terima kasih" yang harus disampaikan ke berbagai makhluk ciptaan Allah, karena siapapun dan apapun mereka, ada kontribusi langsung dalam kehidupan masa kini. Terima kasih ulasannya Kang, jadi saya hemat waktu untuk membaca 500 halaman buku itu melalui artikel ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi akan seru jika baca sendiri teh, seolah kita diajak jalan-jalan ke masa lalu sama penulisnya.... Membacanya tidak sesingkat judulnya hehehe

      Hapus
  17. Saya jadi ingat pelajaran sejarah...beneraan deh. Ini tuh pelajaran smp atau sma gitu yaaa....Banyak nama² jenis manusia purba dan bagaimana kehidupannya. Termasuk Homo Sapiens ini. Bukunya seperti rada² mengandung unsur filsafat yaa. Bukunya berat tapi hebat bisa menamatkannya. Keren abah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak ya, agak berat bahasannya, tapi menarik karena jadi mengenal lebih dekat soal Homo Sapiens ini, plusnya lagi sambil ngulang pelajaran sejarah di sekolah hehe.

      Hapus
  18. Bagian tentang Revolusi Kognitif dan kemampuan berimajinasi/menciptakan fiksi ini emang salah satu poin paling menarik di buku ini. Memikirkan kalau salah satu alasan kita (Homo Sapiens) bisa bertahan dan mengungguli Homo Neanderthal adalah karena kekuatan sebuah 'cerita' atau mitos yang bikin manusia bisa bekerja sama dalam kelompok besar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mitos itu menarik banget buat saya, karena di beberapa konten kreator kayaknya lagi mengagung-agungkan berpikir rasional, padahal berpikir myth juga ada baiknya, hidup itu gak selalu rasional kan. Kita butuh juga mitos untuk membantu menjalani hidup kita....

      Hapus
  19. Sepakat banget, kalau membaca buku emang mesti disempatkan. Kalau nggak kadang kegiatan harian bisa menyita waktu. Nggak muluk, baca buku sehari 30 menitan aja udah bikin happy dan bener, setiap buku beda bobot dan isinya, tentu lama bacanya pun beda.

    Resep pisan baca bahasan buku Homo Sapiens, bukan mereview atau kasih klue detail terkait isi buku tetapi lebih berbagi ilmu pengetahuan yang didapatkan dari membaca buku tersebut, sehingga bebas dari spoiler. Menarik banget Homo Sapiens. Memang secara rating bagus ini buku.

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener banget mbak lala, cuma emang sih kalo kebeneran ada deadline kayaknya boro-boro inget buku ya hehehe...

      Hapus
  20. Kang, aku berasa kembali kemasa Sekolah dulu, sekarang malah jadi lupa. Suka banget sama pembahasannya. Apalagi yang bagian tentang revolusi kognitif mengingatkan bahwa kemampuan berimajinasi dan membangun narasi memang menjadi salah satu kekuatan terbesar manusia ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama saya juga, judulnya udah kaya pelajaran sejarah, tepatnya sih masuk geologi atau arkeologi ya, tapi dalam buku ini bukan hanya soal fisik homo sapien, lebih ke bagaimana homo sapien berkembang hingga sekarang.

      Hapus
  21. Kalo denger kata Homo Sapiens jadi ingat pelajaran sejarah masa sekolah menengah. Ternyata buku ini memang mengupas tentang manusia dari jaman ke jaman.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya waktu SMP ada ya pelajaran sejarah homo sapien

      Hapus
  22. Masa SMP pertama kali ada mata pelajaran Sejarah dan belajar tentang homo sapiens ini... Seru ternyata ya ngulik tentang Sejarah dan asal muasal manusia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, kita kaya dibawa jalan-jalan ke masa lalu

      Hapus

Terima kasih telah berkunjung, tunggu kunjungan balik saya ya...