Berakhir Pekan Bersama “Homo Sapiens”
![]() |
| Sambil Ngopi, Blogging Lebih Fokus dan Semangat! @abahraka |
Cicil Baca Homo Sapiens
[https://abah-raka.com] - Sebelum memasuki 2026, membaca buku
hanya berdasarkan kesempatan, Sejak ramadhan tahun ini, saya berniat menciptakan
kesempatan tersebut tanpa menunggu. Salah satunya adalah menargetkan bahwa buku
yang saya baca harus selesai dalam tenggat waktu.
Walaupun tidak menentukan waktu
selesainya, karena Tingkat kesulitan dan kualitas dari setiap buku berbeda. Tapi
setiap hari harus bisa mencicil bacaan, walaupun hanya satu lembar ataupun satu
paragraf sekalipun.
Niat dan tekad pun menjawab,
selama Ramadhan dan tepat pada libur lebaran, satu buku selesai saya baca. Homo
Sapiens. Buku yang sudah setahun berada di rak buku. Akhirnya selesai saya baca.
Artinya Homo Sapiens menemani
saya selama Ramadhan 2026 tahun ini.
Ulasan ini tidak akan mengulas bagaimana isi
buku secara lengkap dan terstruktur, tapi saya hanya ingin bercerita tentang
apa yang saya dapatkan dan apa yang saya rasakan. Pengalaman apa yang saya
dapatkan saat membaca buku ini. Bisa jadi, pembaca kecewa karena saya tidak
mereview sebagaimana halnya ulasan buku.
Saat memasuki lembar demi lembar buku ini, saya
merasa sedang bertamasya ke alam hiperealitas. Sebagaimana judul buku Umberto
Eco. Sang Penulis, Yuval Noah Harari, seorang akademisi dari Israel, menulis
secara kronologis bagaimana cikal bakal manusia yang eksis sekarang.
Homo Neanthertal VS Homo Sapiens
![]() |
| Hasil Konstruksi Homo Neanthertal |
Pada masa Purba di lembah Afrika dan Eurasia
mereka hidup berdampingan. Sehingga satu sama lain tidak bisa dibedakan. Keduanya
hidup berdampingan sebagai makhluk pemburu dan pengumpul. Selama jutaan tahun
mereka hidup dan melakukan kawin silang di antara mereka. Namun, menurut
catatan Yuval Noah tersebut, hasil kawin silang antara Homo Neanthertal dan Homo
Sapiens tersebut tidak menunjukkan perkembangan. Sulit ditemukan atau tidak ada
hasil temuan, hasil kawin silang antara Homo Neanthertal dan Homo Sapiens
tersebut berkembang dengan baik.
Revolusi Kognitif
Sebagai akademisi, penulisan buku Yuval Noah Harari
ini mengikuti prinsip sejarah ilmu pengetahuan. Salah satu yang mendorong Homo
Sapiens terus berkembang dan jauh meninggalkan Homo Neanthertal adalah
terjadinya revolusi kognitif yang terjadi pada kelompok Homo Sapiens.
Pada masa-masa selanjutnya, ketika Homo Sapiens
telah berkembang dan menciptakan sistem narasi sebagai bagian dari revolusi
kognitif, Homo Neanthertal tidak menunjukkan perilaku yang sama dengan Homo
Sapiens. Mereka masih hidup primitif. Sedangkan Homo Sapiens, dari revolusi kognitifnya
tersebut telah mampu menciptakan mitos atau fiksi.
Sebagaimana dalam sejarah ilmu pengetahuan dan
atau filsafat, mitos seringkali menjadi titik awal berangkat manusia sebelum
mengenal ilmu pengetahuan. Mitos adalah pengetahuan paling awal manusia sebelum
akhirnya filsafat dan ilmu pengetahuan lahir. Mitos pula lah yang mengantarkan Homo
Sapiens terus berkembang.
Sementara Homo Neanthertal berjalan di tempat.
Padahal secara fisik, tidak ada perbedaan antara Homo Neanthertal dan Homo
Sapiens, bahkan beberapa jenis dari Homo Sapiens juga terdapat fisik seperti orang
eropa jaman sekarang, dengan kulit cerah dan rambut berwarna kuning. Hanya saja
mereka tidak memiliki kemampuan kognitif sehingga tidak mampu menciptakan
imajinasi sebagaimana yang dilakukan oleh Homo Sapiens.
Revolusi Kognitif-lah yang akhirnya mendorong
Homo Sapiens berimajinasi dan bisa menciptakan cerita-cerita pada masa depan. Bagaimana
mereka bisa bertahan dan bagaimana mereka bisa membangun hubungan. Melalui mitos
pada akhirnya mendorong Homo Sapiens melakukan revolusi kedua, Revolusi agrikultur
atau Pertanian.
Homo Sapiens, melalui imajinasi kreatifnya
dalam sistem mitos menciptakan koloni-koloni untuk hidup pada masa depan.
Sebagian Homo Sapiens tidak lagi hidup sebagai pemburu pengumpul sebagaimana
yang tetap dilakukan oleh Homo Neanthertal. Melalui koloni, mereka bekerja sama
membangun perkampungan dengan cara hidup bertani dan memelihara ternak.
Revolusi Pertanian
Bertambahnya kebutuhan mula-mula untuk
kebutuhan konsumsi. Kebutuhan konsumsi akhirnya mendorong Homo Sapiens harus
berpikir menambah hasil pertanian. Hingga akhirnya melakukan domestifikasi
terhadap tanaman konsumsi. Pada saat inilah dilakukan domestifikasi gandum. Awalnya
adalah tanaman liar yang bisa dimakan kini menjadi produk pertanian utama untuk
memenuhi kebutuhan utama konsumsi manusia.
Bukan hanya gandum, koloni-koloni homo sapiens
juga melakukan domestifikasi terhadap hewan agar mereka dapat memenuhi
kebutuhan konsumsi sehari-hari. Mereka pun melakukan domestifikasi terhadap
sejumlah hewan yang biasa mereka buru; babi, ayam, kerbau, sapi.
Homo Sapiens tidak cukup mendiami satu koloni, mereka
pun berkembang mencari koloni-koloni baru. Dengan pengetahuan yang dimilikinya
melalui mitos, homo sapiens dari Indonesia, homo florensis atau homo erektus,
mencari kehidupan di luar pulau dengan menyebrang ke benua Australia. Mereka mengembangkan sistem pertanian di
Australia sebagai koloni barunya.
Menjadi catatan, bagi Yuval Noah Harari, revolusi
pertanian merupakan awal kehancuran pertama manusia. Karena, sistem nomaden
yang sudah jutaan tahun dianut oleh homo sapiens berubah menjadi malapetaka.
Hal ini terjadi karena, jika saat berburu penyakit itu tidak mudah menyebar,
karena kelompok sapiens pemburu pengumpul hanya berjumlah sedikit, sehingga
tidak cepat menular ke kelompok pemburu-pengumpul lain, sedangkan pada sistem
koloni pertanian, saat satu orang atau kelompok terkena penyakit lebih mudah
menular. Sementara pada masa purba belum memiliki sistem pengetahuan tentang
kesehatan.
Beban yang ditanggung homo sapiens pada masa
koloni juga cenderung bertambah sehingga harus berpikir bagaimana bertahan
dengan sistem yang ada. Maka terciptalah sistem-sistem lain yang lebih
memudahkan ketika koloni manusia semakin bertambah.
Sistem ini juga berkombinasi dengan sistem
kepercayaan, penemuan aksara, hingga koin sebagai alat pertukaran. Sistem
kepercayaan berkembang atas mitos yang sudah sejak awal berkembang pada homo
sapiens. Sedangkan penciptaan uang koin dan aksara merupakan kemajuan yang
terjadi saat koloni-koloni terus berkembang dan pada akhirnya membutuhkan satu
sistem pemerintahan sebagaimana yang terjadi pada masa imperium, Babilonia
misalnya.
Raja Hammurabi misalnya harus bisa mengelola
rakyatnya dan membangun sistem pertanian dengan manajemen yang baik agar dapat
menjamin kehidupan kerajaan. Sehingga mulai tercipta aksara dan manajemen
sederhana yang mengatur hajat hidup manusia.
Revolusi Sains
![]() |
| Komputer, Internet, hingga AI menjadi puncak dari hasil ilmu pengatahuan. |
Masa yang disebut sebagai Jaman Hellenistik
pada Sejarah filsafat tersebut, menjadi jembatan penghubung terhadap kemunculan
imperium Islam dan terjadi penerjemahan terhadap filsafat Yunani oleh para
filsuf dan intelektual Islam.
Peradaban Yunai sendiri terkenal dengan
peradaban filsafat, yang menjadi jembatan antara Mitos dengan Ilmu Pengetahuan.
Homo Sapiens yang berkembang di Yunani, merupakan pelopor terhadap pergeseran
peradaban mitos ke dalam peradaban filsafat. Peradaban cerita dan myth ke dalam
perabadan pikir dan akal. Hingga akhirnya muncul orang-orang muslim yang banyak
menerjemahkan pemikiran-pemikiran filsafat Yunani dari filsuf seperti Sokrates,
Plato, dan Aristoteles.
Melalui penerjemahan besar-besar oleh filsuf
Islamlah, filsafat Yunani akhirnya bisa sampai ke Eropa. Bahkan para pemikir
Islam juga hadir di tengah-tengah imperium Eropa, melalui Spanyol.
Pada abad pertengahan, buku-buku yang ditulis
dan diterjemahkan oleh para pemikir Islam diboyong oleh orang-orang Eropa untuk
membangun imperium Eropa. Dogma Agama yang dianut oleh Gereja abad
pertengahanpun mulai tergeser oleh ilmu pengetahuan yang sedang berkembang di
Eropa.
Begitu juga orang-orang gereja mulai terpengaruh
oleh sistem pemikiran filsafat yang dibawa oleh orang-orang Islam, seperti St.
Agustinus hingga Thomas Aquinas. Abad kegelapan pun berubah dengan apa yang di
Barat disebut sebagai periode pencerahan.
Buku setebal 500-an halaman tersebut (526)
ditutup dengan subbab tentang tujuan akhir dari homo sapiens, yaitu
kebahagiaan. Secara panjang lebar, Yuval Noah Harari, menjelaskan tentang
bagaimana manusia bisa mencapai kebahagiaan, mendefinisikan apa itu kebahagian.
Bagaimana kebahagiaan versi evolusionis, bagaimana kebahagiaan versi kapitalis,
atau bagaimana kebahagiaan versi agama. Walaupun cukup pelik saat membicarakan
kebahagiaan, arah kebahagiaan pada masa depan berada pada hidup kekal yaitu
upaya manusia untuk menjaga imortalitasnya. Bab ini akan berlanjut ke Buku lain
yang ditulisnya yaitu Homo Deus, yang juga akan saya tulis pengalaman
membacanya pada akhir bulan depan (semoga).
Kesimpulan akhir dari buku ini adalah tentang
Tamatnya Homo Sapiens. Karena ke depan manusia akan terus mengembangkan
imortalitas, termasuk juga sebagaimana diceritakan dalam Film Frankenstein
(bisa nonton di video streaming N.) Bagaimana menciptakan imortalitas manusia
dengan mengambil bagian tertentu dari setiap mayat, sehingga menciptakan manusia
super, nietzshe menyebutnya ubermens.
Hal tersebut dapat diciptakan oleh Sapiens melalui ilmu pengetahuan; kloning, bionik, atau dengan mengembangkan makanan-makanan yang bisa membuat awet muda manusia (jadi inget serial The Boroughs atau Paradise).
Demikian, berakhir pekan dengan Homos Sapiens, dari sejarah awal umat manusia hingga lahirnya ilmu pengetahuan, secara kronologis cukup komprehensif memberikan gambaran kepada pembaca kenapa jenis manusia dari Homo Sapiens bisa berkembang. Tidak seperti sejenis homo lainnya yang tidak berkembang dan justeru menjadi objek dari homo sapiens.***[]

.jpeg)
.jpeg)

Posting Komentar untuk "Berakhir Pekan Bersama “Homo Sapiens”"
Terima kasih telah berkunjung, tunggu kunjungan balik saya ya...