Tujuh Belas Jam Perjalanan yang Melelahkan Bandung – Ponorogo

Perjalanan pertama, Kebumen menjadi salah satu titik macet, kini sudah full beton dan lancar.

Pilih Hemat tapi Lelah

[https://abah-raka.com] - Niat hati ingin meminimalisir biaya perjalanan, ujung-ujungnya justeru tidak efektif dan efisien. Itulah perasaan setelah menempuh perjalanan melelahkan Bandung – Ponorogo dengan menggunakan jalur selatan tanpa Tol 17 Jam perjalanan melelahkan dari Bandung ke Ponorogo.

Pada perjalanan pertama, saya melakukan transit di Yogyakarta, waktu tempuh Bandung – Yogjakarta tanpa tol kurang lebih 10 jam perjalanan. Tidak terasa melelahkan karena istirahat terlebih dahlu satu malam di Bantul Yogyakarta.

Pagi sekali, jam 06.00 saya berangkat ke Ponorogo melalui Pacitan. Jalanannya lancar, tidak terlalu ramai. Pada beberapa jalanan berbukit, cuacanya sejuk. Sedangkan pada beberapa perkampungan, suasananya eksotis, rumah-rumah tradisional masih cukup dominan. Kondisi jalannya juga rapi berhotmiks.

Namun saat masuk area Pacitan, sempat ‘tersesat’ karena mengambil Keputusan untuk menggunakan jalan alternatif, dan berakhir agak horor. Selain jalannya kecil, jalan desa, tikungan dan turunannya sangat curam dan tajam. Bahkan jika terjadi kesalahan dalam melakukan pergerakan kendaraan, sepertinya akan sulit untuk mengambil jalan mundur, karena curamnya turunan sekaligus belokan tajam hampir 130 derajat.

Oleh karena itu, karena saat itu mobil tua saya belum sempat service akhirnya berhenti sejenak untuk menghindari overheating pada mesin dan rem sekaligus. Setelah melewati turunan dan belokan yang curam dan tajam, bersyukur karena ternyata beberapa puluh meter di depan bertemu kembali dengan jalan utama.

Perjalanan Yogyakarta – Ponorogo via Pacitan sekitar 5 jam dengan istirahat satu jam. Cukup jauh juga, ini sama perjalanan antara Bandung – Pangandaran. Berangkat jam 06.00 sampai jam 11.00.

Jalur Yogyakarta - Ponorogo yang Sejuk dan Eksotis

Kali pertama, saat melakukan perjalanan dari Yogyakarta – Ponorogo, saya menggunakan jalur Gunung Kidul ke Pacitan, jalanan lengang tidak macet. Apalagi perjalanan dilakukan pagi-pagi sekali. Jadi bisa menghemat waktu. Perjalanan Yogyakarta – Ponorogo via Pacitan terasa lebih efektif dan efisien dibandingkan melalui jalur jalan Nasional Solo Raya.

Pada kali kedua perjalanan Bandung – Ponorogo, saya tidak melakukan transit di Yogyakarta, tapi langsung menuju Ponorogo. Walaupun, secara jalur saya tetap mengabil Selatan dan tetap melewati Yogyakarta. Hanya saja, jalur yang saya lalui setelah Yogyakarta melalui Jalan Nasional Solo Raya.

Jika pada perjalanan pertama, daerah Kebumen macet karena sedang ada pengecoran jalan, kali kedua macet parah terjadi di Jalan Nasional Yogyakarta menuju Solo Raya. Jika kali pertama, setelah Yogyakarta jalanan banyak melalui bukit-bukit, kali ini setelah Yogyakarta banyak melaui sawah-sawah dan rumah padat penduduk. Macet selama perjalanan Yogyakarta – Solo Raya menuju Sukoharjo kurang lebih dua jam.

Perjalanan kedua, sama seperti pertama kali, dilakukan tanpa tol. Kami menghitung perjalanan kurang lebih 14 jam dari Bandung. Jadi jika saya berangkat dari Bandung jam 4.00 pagi/ subuh, kira-kira saya akan tiba jam 17.00. Sayang, niat seringkali meleset. Karena menunggu anak-anak bangun semua. Akhirnya, saya baru mulai perjalanan jam 5 pagi.

Saya menggunakan jalur Selatan. Perjalanan pagi memang menyejukkan, hanya di perjalanan siap-siap kepanasan. Setelah selesai subuhan, akhirnya berangkat via Nagreg ke Tasikmalaya. Perjalanan Bandung Tasikmalaya dan sampai Cilacap kira-kira 4 jam perjalanan.  

Jaga Kondisi Badan dan Kendaraan, Setiap 3 Jam Istirahat

Setelah sampai Cilacap, kami istirahat terlebih dahulu dan sarapan di perjalanan dengan bekal yang sudah disiapkan. Istirahat rata-rata dilakukan dengan waktu 30-60 menit. Setelah merasa cukup istirahat sambil sarapan, perjalanan kami lanjutkan lewat Banyumas, lalu Jalan Nasional Kebumen.

Saat lewat Kebumen, ada satu hal yang belum kesampaian saat berada di perjalanan yaitu beli Getuk hehehe. Padahal sudah duakali lewat, tapi masih belum kesampaian. Sehingga akhirnya terlewatkan begitu saja.

Setelah melewati Kebumen, kami pun berbelok ke arah selatan Purworejo atau tepatnya, kami akan melakukan perjalanan menuju Yogyakarta menggunakan jalur Deandels. Jalanannya lurus dan kosong melompong. Tapi jangan khawatir sudah ramai dengan penduduk. Jadi jika butuh istirahat bisa, jalannya sudah ramai dengan rumah penduduk dan sesekali menemukan minimarket.

Saya pun istirahat kedua di sebuah Mushola dengan parkiran cukup luas. Jam menunjukkan kurang lebih pukul satu siang (13.00). Kami pun istirahat dan sembahyang. Dengan bekal yang masih tersisa, kami makan siang di area parkir mushola.

Jalan Deandels Jalur Selatan Menuju Yogjakarta

Perempatan menuju Jalan Raya Deandels 

Pada saat memasuki area Purworejo, sepanjang perjalanan jalan Deandels ini terhampar banyak kebun-kebun jambu Kristal. Untuk sekadar bekal ngemil di pekalanan, saya mampir dan membeli beberapa kilo. Harganya saat itu cukup murah, Rp5000 perkilo. Kami pun mampir ke minimarket, untuk memenuhi kebutuhan dahaga karena cuacanya terik.

Selama perjalanan Selatan Deandels ini sesekali kami melihat laut, jika mau mantai sebetulnya sangat pas, karena Jalan Selatan menuju Yogyakarta ini dekat dengan laut. Sayang sekali tujuan kami bukan untuk liburan, tapi mengantarkan anak kami yang hendak sekolah. Jadi pikiran liburan, dikesampingkan sementara.

Perjalanan cukup lancar melalui jalur Bandung, Garut, Tasik, Cilacap, Banyumas, Kebumen, hingga Purworejo. Namun akhirnya tertahan di jalan Nasional Yogyakarta menuju Solo Raya. Jam menunjukkan pukul 16.30, jalannya merayap tersendat, lebih sering berhenti daripada merayap. Ini persis seperti Stopan Samsat Bandung kala pagi atau jalan Nasional Cileunyi kala pagi atau sore saat bubaran kerja. Macet parah.

Ada sedikit penyesalan, kenapa lewat jalur ini, padahal jika lewat Gunung Kidul via Pacitan mungkin akan berbeda ceritanya. Tapi saya pikir lagi, jalan berbukit dan hutannya jika gelap akan lebih bikin horror. Akhirnya, saya terima kemacetan ini dengan lapang.

Kemacetan Parah di Jalan Yogyakarta - Solo Raya
Bantul Yogyakarta, setelah melewati Jalur Selatan Deandels

Kurang lebih dua jam saya melalui Jalan Nasional Yogyakarta menuju Solo raya. Dari jam 16.30 akhirnya saya melewati kemacetan dan masuk ke jalur alternatif menuju Sukoharjo.

Kemacetan selama 1,5 jam cukup melelahkan, akhirnya setelah cukup jauh kami pun beristirahat terlebih dahulu di suatu area seperti alun-alun dan cukup banyak pedagang. Kami pun membeli sedikit buah-buahan untuk oleh-oleh serta mengisi perut yang sudah kerubutan. Istirahat kurang lebih satu jam.

Pukul 20.00 akhirnya kami lanjutkan perjalanan. Jalanan sudah mulai lengang namun suasananya cukup ramai. Jalanan perkampungan dan hutan-hutan sudah kami lalui. Dan akhirnya sampai ke Ponorogo pukul 22.30. Perjalanan Bandung – Ponorogo yang melelahkan. Kami berangkat pukul 5 pagi dan sampai pukul 10 malam.

Kali kedua, kami tidak menginap di hotel atau penginapan, kami lebih mendekat dengan anak, di area tunggu orang tua yang sudah disediakan. Kebetulan masih cukup kosong.

Icip-icip Destinasi

Salah satu suasana jalanan Ponorogo

Selama delapan hari kami di sini, Ponorogo. Sesekali kami pergi ke kota, sekadar mengetahui suasana kota yang sibuk sekaligus mencari perlengkapan sekolah anak. Sesekali kami juga mencoba kulinernya, sekelas cafe-nya murah-murah tapi rasanya tetap enak-enak.

Karena anak sukanya bermain air, akhirnya kami mencari tempat berenang. Cukup banyak pilihan kolam renang. Namun buyut Google merekomendasikan Kraton Waterpark, harganya murah, Rp10000 sampai puas. Terdapat 3 kolam utama termasuk seluncuran di dalamnya. 

Kami juga mengunjungi salah satu destinasinya. Walaupun cuaca Ponorogo Panas, tapi bisa melipir sebentar ke area dataran tingginya, cuacana sejuk mengarah ke dingin, sebagaimana saya ceritakan di sini: Telaga Ngebel

Perjalanan 17 jam yang melelahkan, akhirnya membuat saya merenung, tidak sebanding penghematan yang saya lakukan dengan lelahnya perjalanan. Saatnya pulang, akhirnya saya putuskan melalui tol, yang bisa menghemat waktu hingga 5 jam. 12 jam sudah dengan duakali istirahat 45 menit kurang lebih. ***[]

22 komentar untuk "Tujuh Belas Jam Perjalanan yang Melelahkan Bandung – Ponorogo"

  1. Tulisan yang mengalir dan bikin ikut merasakan lelahnya perjalanan 17 jam itu! Pilihan hemat tanpa tol memang terdengar menggiurkan di awal, tapi ketika sudah terjebak macet parah di jalur Yogyakarta–Solo Raya selama dua jam, plus drama jalan alternatif di Pacitan yang hampir bikin jantung copot, rasanya penghematan itu jadi tidak sebanding dengan energi yang terkuras. Pengalaman yang sangat berharga, dan keputusan memilih tol di perjalanan pulang itu tepat sekali, 5 jam lebih hemat itu sudah sangat signifikan! Bonus jambu kristal Rp5.000/kilo dan icip-icip kuliner Ponorogo yang murah meriah jadi sedikit obat lelah di tengah perjalanan panjang. 😄🚗

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perjalanan panjang itu bikin kangen sebetulnya, hanya jika sudah punya tujuan dan malah lama di jalan jadi lelah juga Mas hehe, mungkin lain kali mau coba lagi jalur non tol biar sekalian bisa mampir-mampir lagi. Tapi jika sudah ada tujuan langsung, emang enak lewat tol aja ya

      Hapus
  2. Nggak kebayang gimana capeknya 10+ jam di jalan, sedangkan saya lebih dari 3 jam di perjalanan saja sudah banyak mengeluh. Sebenarnya keputusan untuk lewat jalan alternatif sesekali memang bagus. Tol memberi kemudahan, tapi membosankan. Sedangkan jalan alternatif memperlihatkan kita berbagai hal yang mungkin belum pernah kita lihat.

    Ya, memang lebih lelah, dan penghematannya tidak seberapa, tapi sesekali mencobanya kedengaran bagus. Apa lagi kalau tidak sedang diburu-buru dan memang sedang ingin pergi-pergi dengan santai. Sukses terus untuk perjalanan berikutnya ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul banget mbak Impy, jalan non tol itu gak bosenin walaupun perjalanan 10 jam, apalagi setiap 3 jam istirahat, tapi kalo 17 jam udah masuk titik lelah, serasa udah pengen cepat sampai. Padahal pada perjalan pertama asyik banget tuh gak jenuh karena selama perjalanan banyak pemandangannya....

      Hapus
  3. Perjalanan panjang seperti ini biasanya penuh cerita. Kadang rasa lelah terbayar ketika sampai di tujuan atau ketika menemukan pengalaman baru di sepanjang perjalanan. Justru momen-momen di perjalanan sering jadi bagian yang paling diingat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul sekali, penuh dengan cerita, ada pengalaman, makanya kangen juga melakukan perjalanan seperti ini, walaupun lelah ya.

      Hapus
  4. waah..perjalanan panjang 17 jam, terbayang lelahnya.. selisih dg tol lumayan juga. terima kasih sharing pengalamannya yaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya lumayan banget selisihnya mbak Mechta

      Hapus
  5. Abaaahhh, sehat² ya bah. Saya tuh takjub sama orang² yang nyetir lebih dari 12 jam. 🥹
    Saya sendiri perjalanan dari malang ke karangasem Bali saja, yang notabene hampir 12 jam, udah kewalahan dan kapok. Punggung dan kaki tuh udah ngeluh selojoran malah. Hehhe..

    Cuma kalau ada pemandangan cakep di sepanjang jalurnya, tentu itu menghibur banget. Apalagi bisa sampai istirahat nggak cuma numpang makan aja di sepanjang jalurnya.. 😍😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama mbak aku juga Kapok, secara kerasa banget capek n pegelnya. Tapi kalo Bandung - Jogja enak, mau lewat tol atau non tol juga. Gak terlalu menguras energi. Kalo 17 jam jadinya kapok hehehe

      Hapus
  6. Saya bakalan lebih lama, Cianjur Ponorogo nih kedepannya. Hahaha...
    Tapi lebih panjang sekarang sih, Cianjur-Solok Sumbar secara dapat penempatan anaknya di G9
    Kedepannya semoga mangkul ke G1. 2.3.4 dan atau 5

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya gak kebayang kalo ke luar jawa ya Teh, ke Solok apalagi

      Hapus
  7. Membaca catatan tujuh belas jam perjalanan di blog Abah Raka ini, aku seperti ikut duduk di kursi penumpang yang mulai terasa keras karena saking lamanya di jalan.

    Ada seni tersendiri dalam menikmati perjalanan panjang; antara rasa pegal yang mulai menjalar, aroma minyak kayu putih yang menyeruak, sampai pemandangan di balik jendela yang perlahan berubah dari hiruk-pikuk kota menjadi hamparan gelap pedesaan.

    Yang unik, Abah berhasil memotret sisi "manusiawi" dari sebuah kelelahan menjadi cerita yang hangat. Kadang, momen terbaik dalam perjalanan justru bukan saat sampai di tujuan, tapi saat-saat random seperti berhenti di rest area antah-berantah atau sekadar berbagi camilan untuk mengusir kantuk.

    Tulisan yang sangat jujur dan bikin aku jadi kangen merasakan "nikmatnya" capek di jalan demi sebuah pertemuan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah nah, buat bapak-bapak 40plus, kayuputih atau sekarang freshcare itu jadi alat yang dibawa kemana-mana hehe, udah pasti itu. Karena kalo sekali masuk angin, cuma itu yang mempan sekarang hahaha.

      Betul banget mas Didik, itu kerasa banget momen random pas berhenti di suatu tempat yang entah apa namanya, tapi jadi momen banget itu.

      Hapus
  8. Meskioun perjalanan nya panjang, lama dan penuh cerita tapi justru disitulah serunyaaa, melewati rute bukan jalan tol. Seneng ya pa...yaa meskipun lama tempuh perjalanan lebih panjang tapi banyak yang bisa dilihat. Jadi banyak bahan cerita. Nice trip paak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali, entah kenapa, walaupun lelah, tapi selalu ingin mengulang melakukan perjalanan jauh itu, rasa ingin tahu yang tidak pernah diangankan tapi jadi tahu, bukan hanya tempat, tapi juga budaya setempat...

      Hapus
  9. kebayang banget capeknya mana jalannya juga nggak bagus ya, mas. Saya kebetulan pernah melakukan perjalanan dari tangsel ke kebumen dan itu juga lumayan lama perjalanannya namun untungnya posisinya penumpang jadi ya tinggal duduk aja dalam bus walau kadang sopirnya suka berakrobat di jalan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi penumpang malah kerasa capenya, walaupun gak terlalu jauh ya, karena badan diem dan kaku. Beberapa kali naik kereta dan bis, kerasa banget cape. Apalagi hanya sebelah pandangan aja ya, kecuali mungkin kalo duduk di depan ya...

      Hapus
  10. Hematnya dapet, tapi lelahnya juga dapet banget ya, Kak. Aku sama suami memilih utk menghindari lelah yg kebangetan dengan mudik memalui jalan tol. Banyak keluarga yg bernada sumbang soal keputusan kami ini. Katanya kami boros, dan manja. Tapi biarlah, toh kami ini yg menjalaninya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya awalnya gitu, pengen hemat, tapi duh kayaknya gak sanggup kalo lebih dari 10 jam. Jadi mending lewat tol aja, bisa hemat waktu dan capek.

      Hapus
  11. Walau pun turut merasakan lelahnya perjalanan jauh di dalam tulisan, namun segera ikut lega pula karena akhirnya sampai di tujuan.
    Agak kurang relatif kalau dibandingkan dengan perjalanan lintas kabupaten di Lombok. Yang jelas, meski sama-sama jauh, di Lombok relatif sangat jarang menemukan kemacaten luar biasa. Apalagi sampai berhenti total. Ada pun, pas musim menikah. Walau sepadat apapun macet karena prosesi Nyongkolan, arus lalin tetap bergerak perlahan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Macet total sebenernya hanya di Jalan nasional Yogya-Solo, cuma karena sudah melakukan perjalanan jauh hampir 12 jam, jadinya kerasa cape banget.

      Hapus

Terima kasih telah berkunjung, tunggu kunjungan balik saya ya...