Mari Menulis Lagi
Ilustrasi: Suasana Kampung Naga @abahraka
Saat sedang melakukan observasi, tidak sengaja terparkir dalam satu blog yang sangat produktif. Dalam satu tahun menghasilkan karya tulis blog sampai ratusan artikel. Sesuatu yang sulit saya lakukan, bahkan di saat sedang produktif-produktifnya. Namun, pasca pandemi, 2023 khususnya mulai menurun, satu bulan paling satu, lebih parah selama tahun 2024 hanya satu tulisan.
Saya berasumsi, mungkin sibuk atau mungkin blog sudah tidak menarik.
Vakum Menulis VS Tetap Menulis
Saya sendiri, hampir selama dua tahun, motivasi menulis di
media massa cenderung turun, khususnya untuk rubrik opini atau kolom. Bukan
karena dua tahun terakhir artikel yang terbit tidak mendapatkan honor, namun
karena aktivitas yang selama dua tahun ini konsentrasinya tidak bisa dipecah.
Beberapa tulisan curhat tetap terbit pada blog
sederhana ini. Begitu juga dengan beberapa feature tahun 2025 tetap terbit,
selain di blog juga di kanal travel detik.com. Hanya saja, untuk kolom dan
opini, setelah dua tulisan berbeda tidak terbit pada dua media nasional,
akhirnya tidak mengirimkan lagi. Pada beberapa isu menjadi target agar dapat
dituangkan ke dalam satu wacana tentang media hari ini. Namun gagal mewujud
menjadi gagasan tertulis.
Tahun 2026, setelah selesai menjalani karantina
mandiri dan hiatus dari aktivitas di luar fokus yang harus saya kerjakan, saya
harus menulis lagi!
Mengapa menulis?
Selama hampir dua tahun tersebut dan
mengupayakan menulis catatan-catatan sederhana pada blog, sungguh menjadi
hiburan yang tidak bisa terganti dengan nonton bioskop. Menulis juga tidak bisa tergantikan dengan pergi
ke destinasi wisata. Sifat refreshing terhadap mental memiliki nilai yang
berbeda dan mendalam.
Menulis memiliki nilai refleksi yang dalam. Kita bisa bercermin terhadap apa yang terjadi
dalam diri kita. Sehingga kita
bisa mengeluarkan dan menumpahkan kesah dalam pikiran dan hati. Walaupun saat
stress berat, agak susah untuk bisa menumpahkannya dengan baik. Namun, saat
kejenuhan terjadi dan mendekati titik stress, menulis dapat mengantisipasinya
dengan baik.
Menulis Catatan Harian
Menulis juga punya daya kritis, jika yang ditulis adalah
persoalan-persoalan di luar diri kita. Persoalan budaya, sosial, ekonomi, atau
kebangsaan. Jika dalam blog, seringkali saya menulis persoalan-persoalan diri,
yang mungkin beririsan dengan persoalan orang lain. Sedangkan dalam opini atau
kolom, menulis persoalan-persoalan sosial yang bersifat fenomenon.
Menulis berusaha mengalihkan pikiran dan hati kita. Jika merujuk pada paham Stoik,
menulis adalah suatu cara mengendalikan emosi dari dalam diri sendiri. Paham
Stoik memberikan pelajaran, persoalan-persoalan dari luar yang bisa membuat
pikiran dan hati kita chaos, tidak bisa kita kendalikan. Akan
tetapi, cara kita meresponnya bisa kita kendalikan. Menulis membantu proses
tersebut.
Hanya dengan duduk di depan laptop, dan dalam
beberapa menit, pikiran dan perasaan kita bisa plong karena semua unek-unek itu
sudah ditumpahkan ke dalam layar putih MS Word. Walaupun tidak semua bisa
diantisipasi, jika stressnya sudah masuk ke dalam hati dan pikiran.
Jika persoalan luar yang memerlukan tindakan
dari kita, untuk menghadapi tindakan tersebut agar tenang, menulis bisa
membantu, tapi tetap tindakan harus diambil agar persoalan selesai. Jadi dua
hal berbeda, menulis untuk mengendalikan emosi kita, tapi tindakan tetap perlu
diambil, sehingga stress mereda.
Pada sisi lain, saat menulis dalam media
terbuka, umpan balik positik, dapat menjadi bagian dari support system terhadap
mental kita sendiri. Oleh karena itu, menulis itu merupakan bagian dari therapy
diri. Walaupun memiliki metodenya. Saya
sudah menulis tentang menulis sebagai terapy, tapi secara rinci dan sistematis,
saya akan menuliskannya lagi dalam tulisan lain berdasarkan metode yang telah
diuji.
Menulis Catatan Perjalanan
Salah satu kegemaran saya adalah menulis
catatan perjalanan. Selama dua tahun terakhir, saya agak vakum menulis catatan
perjalanan. Karena bagaimanapun melakukan perjalanan tersebut memerlukan
keterampilan agar sebuah tulisan dapat menciptakan theater of mind.
Sehingga ketika dua tahun terakhir, karena menulisnya tidak fokus, beberapa
saja yang saya submit di detik travel. Dengan pengurangan konten, saya merasa
substansinya jadi berkurang.
Dengan keterbatasan teknis dan penyuntingan
dari editor, saya lebih merasa puas jika menulis catatan perjalanan tetap saya
terbitkan pada blog personal. Selain lebih kaya narasi, substansi juga tidak
berkurang. Walaupun tetap, sebagai prestise, catatan perjalanan sesekali saya
submit ke media nasional tersebut.
menulis catata perjalanan
(feature) merupakan pelengkap refreshing jiwa kita. Setelah melakukan
perjalanan ke suatu destinasi yang pernah kita kunjungi tapi selalu ada nuansa
dan cerita berbeda dengan kunjungan sebelumnya. Apalagi saat berkunjung ke
destinasi yang sama sekali belum pernah kita singgahi sebelumnya. Lalu kita
tuliskan pengalaman perjalanan tersebut, itu seperti sedang memenuhi dahaga.
Jika menulis catatan harian, kita
berbagi pengalaman personal, yang siapa tahu memiliki irisan dengan pengalaman
orang lain, atau menjadi informasi berharga atas pengalaman kita sehingga orang
lain merasa punya teman karena memiliki kesamaan pengalaman. Menulis catatan
perjalanan, selain pengalaman personal, juga dapat memberikan informasi
berharga untuk orang lain yang membutuhkan informasi tentang suatu tempat.
Pada saat media cetak masih
berjaya, menulis catatan perjalanan menjadi salah satu target terbit di Koran
karena mengisi halaman penuh dengan honor yang lumayan. Namun, kini walaupun
sudah tidak dapat terbit lagi media cetak, eksistensi media online dan tanpa
honor tidak masalah. Karena sejak awal tujuan utamanya adalah bagaimana agar
kita mendapatkan energi tambahan dari menulis.
Menulis Opini atau Kolom
Berbeda dengan menulis catatan harian dan
catatan perjalanan, menulis opini dan kolom bukan saja memberikan pengalaman sudut
pandang kita terhadap suatu persoalan. Namun juga secara mendalam mencoba
mengurai akar persoalannya dan mencoba memberikan solusi terhadap persoalan
tersebut.
Pada sisi paling kiri, kita juga mencoba
berusaha mengkritisi persoalan tersebut, walaupun tentu saja, saya sebagai
penulis, tetap tidak sempurna. Hal ini lebih kepada bentuk kepedulian terhadap
suatu isu atau persoanal yang ada di sekitar kita.
Menulis opini dan kolom biasanya saya kirim ke
media arus utama baik regional atau nasional. Namun, dengan eksistensi daring,
mau lokal atau nasional sepertinya tidak ada bedanya, karena dapat diakses dari
semua penjuru. Seringkali yang nasional juga mengangkat isu lokal dan yang lokal
juga seringkali mengangkat isu nasional.
Menulis pada kolom atau media opini merupakan
jejak pertama saya menulis. Sebelum blogging, opini media massa jadi target
pertama agar bisa terbit, walaupun sulit tapi tetap dilakukan. Saat banyak
tulisan tidak terbit di media massa, maka jadilah blogging. Awalnya blogging
menjadi tempat parkir tulisan opini yang tidak terbit di media cetak.
Menulis Review Buku dan Film
Awal kemunculan media UGC,
seringkali menulis resensi buku dan hasil viewnya saya kirim ke penerbit. Ternyata mereka baik juga
membalasnya dengan mengirimkan buku baru mereka. Padahal, hal tersebut dulu
dilakukan saat resensi buku diterbitkan media cetak.
Kini sudah sangat jarang meresendi film atau buku. Film terakhir yang ingin
saya review hanya selesai dalam beberapa paragraf, sementara untuk buku,
walaupun dalam beberapa tahun terakhir saya masih tetap membaca buku, namun sangat
jarang yang selesai dalam satu waktu. Seringkali menggantung. Akhirnya
tidak ada lagi satu buku yang bisa saya ulas dalam blog.
Namun, semangat untuk meresensi
buku tetap menyala apalagi ada media sosial yang lebih visual, sepertinya
menarik selain ditulis dalam blog juga diresensi dalam bentuk video.
Menulis How To
Beberapa catatan blog juga saya tulis dengan
teknik how to, ini lebih ke berbagi pengalaman praktis bagaimana melakukan
sesuatu. Walaupun sangat jarang, seperti teknik bikin kopi agar kopinya rasa cafe.
Bagi penderita maag, saya juga sering berbagi teknik bikin kopi agar kopinya
aman buat lambung.
Bagi yang senang utak atik blog, biasanya sering
berbagi tentang bagaimana membuat tampilan blog agar menarik atau mungkin
teknik SEO.
Selama itu bermanfaat bagi diri sendiri dan
mudah-mudahan bagi orang lain, menulis adalah cara unik untuk refreshing. Menyegarkan
kembali otak kita yang jenuh dan hati kita yang kadang-kadang diselimuti awan
gelap.
Mari menulis lagi, walaupun hanya catatan-catatan
pendek dan sederhana. ***[]
Keren Abah bisa menulis dan mengirim opini di media. Iya ya menulis itu memang banyak manfaatnya, tidak apa-apa juga tidak dibayar. Saya juga sudah merasakan manfaat dari menulis. Yuk terus semangat menulis. Salam hangat.
BalasHapushehe iya itu sejarahnya mulai ngeblog gara-gara banyak tulisan gak pernah dimuat, jadinya diparkir di blog.
HapusTulisan ini seperti ajakan yang lembut tapi menggerakkan. Kadang memang kita berhenti bukan karena tidak mampu, tapi karena terlalu banyak alasan. Dan membaca ini rasanya seperti diingatkan bahwa menulis itu pulang. Sesederhana itu, tapi dalam.
BalasHapusMakasih mbak Aie sudah melengkapi, bahwa menulis itu pulang, pulang ke rumah asal.
HapusWah bisa mengirimkan tulisan opini apalagi rutin.Luar biasa Abah. Sadar diri nih kalau produktif ha ha ha..Bear ya Bah, diniatkan juga ya nulis itu.
BalasHapushehe itu jaman dulu banget, sebelum ngeblog, makanya punya blog gara-gara kirim ke media gak dimuat2. iya bener, harus diniatkan, ditarget,
HapusYuk mari tetap menulis, menulis lagi!
BalasHapusAku akui beberapa tahun ini memang lumayan jarang menulis karena satu dan lain hal. Sekarang mulai perlahan lagi, menulis apa pun itu buat pengingat. Semoga bermanfaat buat diri sendir dulu, lalu menular ke orang lain
Yuk mari, saya juga mulai lagi rutin menulis, setidaknya dalam satu bulan harus posting di blog. Cuma untuk media masih belum peka lagi,
HapusTerima kasih atas pengingatnya, Abah. Pas banget mau mulai lebih rajin lagi mengisi blog. Soalnya sebetulnya nulis di blog itu terasa banyak banget manfaatnya. Minimal banget bahkan menuliskan pengalaman sederhana pun bisa jadi catatan yang memudahkan saat perlu mengingat sesuatu terkait pengalaman itu, syukur-syukur bisa bermanfaat buat yang membaca.
BalasHapusIya ternyata menuliskan pengalaman yang sederhana juga membantu tetap waras ya, karena selain refleksi, kita juga berusaha mengingat kembali. Gak perlu menulis yang hebat-hebat juga, karena pengalaman sederhana bisa lebih mudah ketemu dengan pengalaman penulis lain juga ya...
HapusBanyak orang bisa membuat video, tapi gak banyak orang yang bisa menulis. Penulis itu adalah suatu keahlian yang jarang orang punya. Menulis itu bukan hanya sekedar berbakat tapi menulis itu datangnya dari hati dan waktu.
BalasHapusNah iya, bener sekarang bikin video tinggal sambung menyambung aja ya, menulis gak bisa asal menyambung ya, harus ada logis-logisnya. Dan menulis harus punya upaya menuangkan gagasan.
HapusSemangat terus untuk menulis lagi! Memang kadang kita butuh jeda sejenak untuk mengumpulkan energi, tapi kembali menyapa pembaca lewat tulisan selalu punya kepuasan tersendiri. Saya pribadi sedang merasa sedikit kendor. Tapi, juga sedang berusaha semakin aktif lagi.
BalasHapusIya teh, mulai dari nol lagi, seperti iklan SPBU hehehe. Bahkan sulit banget peka dengan isu yang ada. Kalo blog bisa dari pengalaman, jadi berusaha tiap bulan ada postingan blog...
HapusIya ya beberapa teman bloger ada yang dulu rajin ngeblog, sekarang vakum bahkan sedihnya lagi ada blognya yang mati domainnya.
BalasHapusBisa jadi sibuk dengan aktivitas lain entah pekerjaan atauapa gitu kali ya.
Saya sendiri juga berusaha bertahan ngeblog karena suka aja menuliskan kenangan bersama keluarga. Kadang kalau lihat layanan hosting tiap tahun naik sedih, tapi semoga ada aja rezekinya buat terus menulis di blog.
Kalau menulis di emdia lain terus terang udah jarang kecuali ada request kerjaan hehe.
Tapi yabg pasti semoga selalu konsisten menulis dan tulisan selalu berkembang baik dari masa ke masa, harapannya hehe.
Puncaknya pas pandemi ya, saya merasakan di beberapa grup blogger itu sepi banget ya, tapi pas berakhir pandemi mulai rame lagi. Tapi sebagian sudah mendapatkan tempat nyaman sehingga blogging gak lagi jadi fokus....
HapusSemoga, walaupun situasinya udah beda, menemukan kembali ceruknya dari blogging ini ya...
Sejak covid, saya juga jarang update tulisan blog. Mulai rajin menulis lagi di 2023 dan 2024. Tahun lalu juga sempat nggak banyak nulis. Lalu tahun 2026 ini seperti punya semangat lagi buat ikut challenge nulis di blog seminggu dua tulisan. Saya berharapnya rutinitas menulis blog ini bisa bertahan sampai akhir tahun dan lanjut lagi di tahun berikutnya... :)
BalasHapusBetul kalau dibilang menulis itu seperti terapi diri. Aplagi buat orang yang introvert seperti saya. Rasanya kalau lagi nulis itu damai banget dan senang bisa mencurahkan apa yang ada di kepala...
Nah iya kerasa banget ya pas awal 2023 mulai lagi cari ceruk nulis dari blog ya.
HapusAamiin, semoga, karena banyak manfaat dari nulis selain hobi, cuan, juga yang lainnya ya...
"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat," Pramoedya Ananta Toer.
BalasHapusAlhamdulillah bisa dipertemukan dengan para mentor keren dalam menulis khususnya di Bandung. Kalo tidak ketemu Bang Aswi terus blogger Bandung dan juga tentunya Abah sendiri
Blogger adalah pelopor dunia konten, kalo berhenti nulis, bisa-bisa hilang dari sejarah digital ya kang de hehehe
HapusBanyak juga ternyata ide untuk menulis ,,,,saya kalau sedang tidak punya ide biasanya jalan-jalan dulu atau melihat dokumentasi foto di masa lalu, nanti suka ada inspirasi buat menulis
BalasHapusIya betul, apalagi yang udah punya niche biasanya ada aja idenya
HapusMembaca postingan ini seperti sedang dinasehati plus diberi motivasi untuk yuk yuk semangat menulis lagi, apapun itu topiknya. Saya pun baru mulai rajin menulis lagi sejak Februari tahun ini. Dari yang awalnya hanya karena ikut challenge, eh jadi ketagihan. Dan benar... kepuasan setelah selesai menulis itu gak tergantikan dengan aktivitas apapun
BalasHapusIya mbak ini bentuk nasihat untuk diri sendiri, mengajak diri sendiri biar produktif lagi dan nulis lagi secara konsisten.
Hapusaku sependapat kalau menulis adalah salah satu cara untuk refreshing.
BalasHapusjadi kangen saat masih awal kuliah dulu yang beberapa kali mengirim tulisan ke media massa, rasanya saat itu pemikiranku untuk kritis memang lagi tinggi-tingginya. Memberikan opini terhadap apa yang terjadi di sekitar atau terhadap suatu hal.
sekarang nulis paling mentok cuman buat blog pribadi aja, itupun sekarang waktunya udah kayak susah bener mau konsisten, apalagi sebelum puasaan ini kayak sibuk banget sama kerjaan ini itu..
aku dulu sempet hiatus nulis, kalau ga salah tahun 2015an, mau update blog kayak susah, padahal kalau dibilang sibuk ya ga sibuk banget, buktinya masih bisa blogwalking ke blog temen-temen, tapi kalo untuk update tulisan di blog sendiri, kayak "nyerah". setelah domain aku perpanjang, dari sana muncul lagi semangat buat nulis
Tapi kadang di tengah kesibukan, suka ada pengan curi-curi waktu buat ngeblog ya, eh malah saat gak terlalu sibuk malah merasa sangat sibuk dan akhirnya mengabaikan blog ya
HapusBenar sekali. Menulis tak sekadar melahirkan satu artikel, mengolah diksi, sampai di titik terakhir, lalu selesai.
BalasHapusBagi yang telah merasai candu baiknya, vakum menulis untuk waktu yang lama justru menjadi menyakitkan.
Jadilah, menulis itu takkan pernah berhenti.
Insya Allah 🤲🏻
Betul sekali, seperti rindu dendam ya
Hapus