Saat Stress, Apa yang Saya Lakukan?

sumber ilustrasi Hermina Hospital

Saat Stress, Pikiran Selalu Bicara Sendiri
[https://www.abah-raka.com]
- Selama dua minggu ini – menjelang akhir Januari dan mengawali Februari, saya benar-benar stress. Saya diombang-ambing dengan ketidakjelasan nasib dan masa depan. Apakah saya harus menyerah? Menyerah bukan solusi, sementara waktu juga tidak memungkinkan mengejar ketertinggalan.

Otak ini tidak bisa diajak berunding, terus saja bicara sendiri. Bahkan ketika mau tidur, otak terus bicara sendiri, hingga akhirnya sulit tidur. Keringat hangat keluar, padahal cuaca sedang dingin. Saya pun tiba-tiba menjadi ahli dzikir, agar otak ini tidak bicara terus menerus. Tasbih kecil saya pegang dan membaca doa yang saya bisa agar dapat mengusir otak yang terus berbicara. Setelah 33, tambah 33 lagi, tambah lagi, akhirnya bisa tidur juga. Tapi terbangun lagi dan akhirnya sulit tidur lagi.

Pada hari kedua saat saya mengalami stress, bukan hanya otak yang terus berbicara sendiri, dada juga seolah eungap, entah beban apa yang telah menimbun dada ini. Rasanya dada ini berat sekali seperti ada yang menutupi saluran besar dalam aliran darah di dada. Otak terus berbicara sementara saluran dada tertutup dan tertimbun. Benar-benar menjadi hari yang berat.

Hari kedua, karena tidur lebih awal, sekitar jam 20.00, ternyata bangunnya lebih awal, bahkan terlalu awal, yaitu pukul 00.30-an. Saya pun bangun, dan melakukan pekerjaan yang harus selesai, dan ini membuat stress, karena waktunya tidak memungkinkan.

Menjelang tidur, saya pun kembali memegang tasbih, saya bacakan juga doa-doa yang saya bisa, dengan tambahan doa, selain agar dada ini menjadi lapang, juga segala sesuatunya hanya Allah yang bisa memenangkan. Selain otak, dada, makan juga menjadi tidak enak, bahkan pada hari ketiga stress, untuk makan saja harus dibantu menggunakan air, agar sisa nasi dalam piring yang sejak awal sengaja mengambil sedikit, tetap habis.

Hari selanjutnya atau kira-kira hari ketiga, saya mulai ingat ajaran Stoik, salah satu ajaran yang saya ingat adalah, perilaku orang lain tidak bisa dikendalikan, tapi pikiran kita bisa dikendalikan. Saya akhirnya berpikir keras, bagaimana caranya mengalihkan pikiran. Jika sebelumnya otak ini liar berpikir sendiri dengan nasib apa yang akan menimpa, setelah saya mencoba mengendalikan pikiran, tidak banyak menolong, tapi setidaknya, otak tidak bicara liar sendiri.

Pada siang harinya saya tetap bekerja, mengejar deadline yang ditargetkan sendiri, barulah saat bekerja dan fokus pada pekerjaan, stress sedikit teralihkan, karena otak harus berpikir keras, sehingga tidak bicara sendiri. Namun, saat berhenti dari pekerjaan, otak mulai lagi nakal, bicara liar sendiri.

Stress Rentan Terhadap Penyakit

Selama stress ini, saya tidak berani minum kopi, tidak berani juga makanan pedas dan bau-bauan. Salah satu kekhawatiran usia menjelang lanjut adalah tekanan darah yang tidak bisa dikendalikan tubuh, sehingga imunnya runtuh. Kekhawatiran yang wajar pada usia baya paruh.

Saat satu pekerjaan selama tiga hari ini mulai menemui jalannya, tiba-tiba dada terasa plong. Makan mulai enak, apalagi setelah pesan ke isteri, untuk menyediakan sayuran. Dan pada hari kelima, makan sudah seperti biasa, dzikir menjelang tidur tidak dilakukan lagi, padahal bagus juga kalo hal tersebut jadi kebiasaan ya…

Namun agenda besar Nasib masih belum terlihat hilalnya, stress pun berlanjut namun dengan kadar yang merendah sedikit. Saat stress semua metode ternyata tidak mempan kecuali ketemu jalan keluarnya.

Pentingnya Support system

Apakah faktor umur atau faktor keterikatan manusia dengan Tuhannya. Saya patut bersyukur, ketika mental sedang mendapatkan tekanan yang tinggi, saya tidak ingat miras, narkoba, rokok sekalipun. Memang harus dijauhkan, karena itu semua tidak berada dalam lingkungan saya.

Maka benar kata orang-orang, support sistem itu penting dalam mendukung kehidupan kita sendiri. Keluarga, lingkungan pertemanan, lingkungan kerja, tetangga yang saling menghargai. Semua itu bagian dari sistem pendukung agar hidup kita tetap berada di jalur yang menurut kita sudah pas.

Sistem pendukung bukan hanya soal dukungan dari teman-teman di sekitar kita, tapi juga menyangkut cara berpikir lingkungan yang positif dan menyebarkan energi optimis.

Di luar lingkungan keluarga, pertemanan, dan lingkungan kerja. Dukungan komunitas yang satu hobi juga akan turut membantu menjadi bagian dari support system. Karena hobi menjadi satu saluran pasti yang bisa mengalihkan perhatian. Pengalih perhatian ini menjadi salah satu teknik agar otak kita tidak bicara sendiri karena tidak ada aktivitas.

Jalur Langit

Manusis sudah fitrah, dalam dirinya ada godspot. Sehingga ketika dalam keadaan sulit, permintaan tolong itu tidak dilakukan terhadap manusia yang seringkali mereka juga sedang mengalami kesulitan yang sama. Jalur langit adalah salah satu teknik yang mujarab untuk memberikan ketenangan batin dan mengalihkan fokus dengan cara mengingat Tuhan. Seorang muslin biasa menyebutnya dzikir. Dzikir tidak hanya dilafalkan, tapi juga dilakukan. Tidak hanya terucap, tapi juga menjadi laku keseharian.

Walaupun kadang saya seringkali lupa, tapi saat ada masalah, mengingat Tuhan seakan menjadi panasea, walaupun itu cara yang kurang tepat. Jika dianalogikan, menjaga hubungan baik dengan Tuhan itu tidak hanya saat kita butuh, tapi harus setiap saat. Analogi pertemanan, jika kita datang hanya saat butuh, teman macam apakah kita ini? Hamba macam apa, datang dan mengadu hanya saat butuh, sementara saat sedang berkelimpahan, seakan lupa dengan pemberiannya yang berlimpah.

Ini sekelumit cerita awal tahun 2026, yang mana pada media 2025 tidak sempat dan kesulitan untuk menuliskan jejak-jejak kehidupan, karena kondisi mental yang kurang stabil.

Semoga, innamaal usri yusro.

Posting Komentar untuk "Saat Stress, Apa yang Saya Lakukan? "