Plus Minus Menyekolahkan Anak Ke Pondok
Kekhawatiran Menyekolahkan Anak ke Pondok
![]() |
| Survei Pondok untuk Sekolah Anak, dokri. |
[https://abah-raka.com] - Memutuskan untuk menyekolahkan
anak ke pondok, bukan soal setuju atau tidak setuju. Bukan soal kesepakatan
antara ibu dan bapaknya. Bukan soal anaknya harus menjadi anak baik-baik. Bukan
soal karena salah satu atau keduanya pernah mondok juga. Ataupun karena
menganggap pondok adalah salah satu model Pendidikan yang integratif antara
pendidikan dunia sekaligus agama.
Menyekolahkan anak ke pondok juga
bukan ambisi orang tuanya agar anaknya menjadi seseorang tertentu. Lebih dari
itu, menyekolahkan anak ke pondok adalah soal belajar hidup sejak dini. Kemandirian
anak tidak hanya berhubungan dengan hal-hal praktis untuk dirinya, tapi juga
soal cara berpikir dan membiasakan hidup terencana.
Berat memang, jauh dari anak. Jika anak sakit bagaimana. Jika anak kena
bully sebagaimana yang beberapa waktu viral bagaimana. Jika anak tidak betah
bagaimana. Jika anak homesick bagaimana. Jika orangtuanya kangen
bagaimana.
Stigma Menyekolahkan Anak ke Pondok
Kekhawatiran-kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Karena masih banyak
masyarakat dan termasuk teman-teman lingkungan sendiri yang masih memandang
sebelah mata terhadap pendidikan pondok. Apalagi belakangan beberapa
kasus sempat viral kasus kekerasan yang berada di lingkungan pondok, baik
pondok modern ataupun pondok pesantren. Masyarakat yang tadinya memandang
sebelah mata terhadap konsep Pendidikan pesantren justeru bertambah antipati
dan memastikan bahwa menyekolahkan anak ke pondok sama sekali bukan pilihan.
Bukan hanya karena viral,
persoalan bullying dan kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan pondok
(bukan pondok yang sudah mapan), stigma klasik juga ternyata masih menempel di
benak masyarakat kita. Menyekolahkan anak ke pondok adalah membuang anak. Jika
dipikir-pikir, siapa orang tua yang tega membuang anaknya? Ada? Ya ada….
Kesan, bahwa pondok dialamatkan
untuk anak-anak nakal juga ternyata masih menjadi pendapat sebagian di
masyarakat kita. Padahal, jika mau membuka mata, Pendidikan pondok banyak
pilihannya. Model yang spesifik ke teknologi juga sekarang ada, bahkan dari
sisi fasilitas juga tidak kalah mentereng dari sekolah umum. Artinya, pondok
dengan rencana yang matang menyiapkan segala hal yang tersistem untuk
keberhasilan Pendidikan. Pantas kah dianggap sebagai tempat pembuangan?
Sebagian lagi, masyarakat
berpendapat jika orang tua menyekolahkan anaknya ke pondok, artinya orang tua
tidak mau ribet, riweuh dengan segala tektek bengek pengurusan anak, jadiknya
disekolahkan ke pondok, agar dapat berpangku tangan di rumah. Adakah yang
seperti itu? Ada juga…
Pada sisi lain, cukup banyak
orang tua juga yang takut jika anaknya sekolah di pondok akan kesulitan
mendapatkan pekerjaan. Sebagian orang tua menganggap bahwa pondok lebih banyak
membekali anak-anak dengan ilmu agama saja, bukan ilmu umum. Pada sisi lain,
pondok tidak menyiapkan anak-anak untuk siap kerja, sehingga akan kesulitan
jika anaknya lulus dari pondok. Benarkah?
Pendidikan Pondok VS Umum
Sejumah stigma tersebut, menjadi
sumber keengganan orang tua untuk menyekolahkan anaknya ke model Pendidikan
pondok. Beberapa kasus malah menjadikan orang tua antipati terhadap pondok dan
turut menyebarkan keresahannya tanpa berpikir kritis dan seimbang, yang
seringkali tidak melakukan tabayun terlebih dahulu.
Jika mau fair, di sekolah umum
juga cukup banyak masalah. Apakah di sekolah umum tidak ada bullying?
Tentu ada saja. Apakah di sekolah umum tidak ada kekerasan? Sudah cukup banyak
kasusnya. Apakah lulusan sekolah umum mudah mendapatkan pekerjaan? Banyak kok
yang menganggur. Apakah di sekolah umum, ada jaminan jika orang tua tidak
berpangku tangan? Ada kok yang dititip-titipkan sejak dini ke nenek-kakeknya.
Bukankah itu juga berpangku tangan?
Jadi jika soal bullying,
kekerasan, kesulitan mencari kerja, orang tua berpangku tangan, tidak usah
dikait-kaitkan dengan pondok, karena dasarnya kontrol orang tua terhadap
anaknya. Bukan soal anak bersekolah dimana.
Menurut pendapat pribadi, justeru
menyekolahkan anak ke pondok cukup banyak keuntungannya. Pertama, bagi
seorang muslim, anak jadi lebih peduli terhadap ibadah harian, lebih sigap. Kedua, anak jadi mandiri sejak dini,
tanpa harus menunggu komando dari orang lain. Ketiga, anak lebih siap untuk
belajar tertekan sebagai sistem dari pertahanan mentalnya karena harus belajar
doubel agama dan umum, walaupun tidak ikut organisasi. Keempat, anak belajar
mengambil keputusan sendiri/ mendiri karena hidup secara dini untuk mandiri.
Kelima, mempersiapkan anak dengan kehidupan nyata lebih awal karena terbiasa
tidak bersama orang tua. Keenam, karena hidup sendiri dan harus serba
terencana, anak juga menyiapkan kehidupannya lebih terrencana.
Kehidupan pondok yang mandiri juga menyiapkan
mental anak untuk lebih siap menghadapi hidup dan mengambil pekerjaan. Sehingga
lebih bisa beradaptasi menghadapi hidupnya sendiri. Karena kelak anak harus bisa mengambil dan menentukan hidupnya sendiri, bukan ditentukan orang tuanya.
Pilihan Beragam Pendidikan Pondok
Dahulu, hampir tidak ada pilihan jika
menyekolahkan anak ke pondok ya pondok pesantren alias pesantren tradisional.
Sekolah di sekolah umum, tapi anaknya sambil mondok di pesantren. Walaupun ada
pondok modern, tapi rata-rata cukup jauh dari rumah, bisa lintas kota/
kabupaten atau provinisi, misalnya ke Ponorogo Jawa Timur.
Sekarang, hampir di setiap daerah cukup banyak
pendidikan pondok modern yang terintegrasi dengan pendidikan umum. Anak tidak
harus sekolah umum plus mondok untuk mendapatkan ilmu agama. Cukup di satu
pondok sudah mencakup semua. Di Bandung sudah cukup banyak, di kota tetangga
juga banyak. Di Jakarta juga banyak termasuk sekitar Jabodetabek juga banyak.
Karena sudah terintegrasi, sistem pendidikan
pondok juga menyiapkan kurikulum yang beradaptasi dengan dunia kerja. Mereka
tidak hanya mengerti dan memiliki sikap yang baik sesuai dengan tuntutan agama,
juga memiliki kecakapan umum untuk dunia kerja. Jika bertanya Dimana, banyak
kok! Bisa jadi bahan diskusi dan mungkin teman-teman pembaca bisa sharing.
Namun, sebagai contoh, anak sepupu saya, saat
masuk SMP dan SMA dimasukkan ke sekolah pondok di Bogor dengan berbasis
kurikulum teknologi. Saat lulus, sudah langsung bekerja di salah satu
perusahaan IT di Jakarta. Kini, saat kakaknya masih kuliah, dia sudah bekerja
dan sambil kuliah juga dengan biaya sendiri.
Namanya pun bermacam-macam selain pondok
pesantren plus yang di dalamnya juga terdapat sekolah seperti madrasah aliyah,
ada juga pondok modern yang sudah terintegrasi. Jika pondok pesantren plus,
sekolahnya masih berada dalam satu yayasan dengan pondok, berbeda lembaga namun
masih satu lingkungan, sementara pondok modern sudah satu kurikulum agama dan
umum.
Muncul juga dengan nama yang
lebih kebarat-baratan, Islamic Boarding School. Ini juga sama dengan
kurikulum yang sudah terintegrasi. Namun, ada juga sekolah Islamic Fullday
School, walaupun bukan pondok, namun kurikulumnya mengintegrasikan
pendidikan agama dan umum.
Kesiapan Orang Tua
Menyekolahkan anak ke pondok
menuntut kesiapan orang tua dari beragam aspek, ini bisa sekaligus sebagai minusnya:
Pertama, jauh dari anak. Jauh dari anak bukan perkara mudah. Kekhawatiran-kekhawatiran
yang telah saya tulis pada awal-awal paragraf menggelayuti pikiran saya saat
akan memondokkan anak. Apalagi jika anaknya sangat ketergantungan dalam segala
hal. Sehingga menyulitkan anak untuk mandiri lebih awal di pondok. Begitu juga,
jika anak sakit. Jika di rumah seringkali ngenges (manja), bagaimana
jika di Pondok sakit? Gak kebayang beratnya anak.
Saat pertama kali anak sakit, sempat
kepikiran. Tapi di tempat anak mondok, tersedia klinik, anak juga tidurnya di
klinik agar lebih dekat dengan dokter dan mendapatkan keringan belajar. Anak
ternyata dapat beradaptasi. Kakak-kakak
kelasnya juga membantu.
Kedua, mental. Saat anak sakit,
bagaimana sikap orang tua. Saat anak mendapat masalah, apa yang harus
dilakukan. Masalah ini juga membutuhkan kesiapan mental. Misalnya, saat sakit, mental
anak harus siap saat tidak berada di sisi orang tuanya. Namun di sinilah
pembelajaran kemandirian bagi anak. Jika di rumah untuk minum obat harus dipaksa
ibunya, bapaknya, di pondok, anak sudah mulai berpikir, sehingga lebih mandiri
untuk bisa sembuh, minum obat.
Ketiga, biaya. Menurut beberapa
teman yang menyekolahkan anak ke pondok, ternyata ada yang lebih mahal dari
pendidikan umum. Pada sisi lain, peralatan yang dibutuhkan akan lebih banyak
juga dibandingkan di sekolah umum dan tinggal di rumah.
Keempat, stigma. Orang tua juga masih tetap menerima stigma dari orang tua lainnya. Walaupun ada yang positif, ternyata yang negatif juga tidak sedikit.
Persoalan biaya akan bertambah
jika memilih pondok yang jauh atau penempatan pondoknya yang jauh. Ini menuntut
orang tua lebih siap termasuk juga kesiapan mental anaknya.
Biaya lain juga bisa tidak
terduga jika anak tidak hati-hati, misalnya barang hilang. Ini sering terjadi
pada anak pertama, sedangkan yang kedua lebih hati-hati jadi anak kedua masih
belum terasa biaya dari barang yang hilang.
Jika anak aktif juga membutuhkan
biaya tambahan. Aktif di organisasi intra atau unit-unit kegiatan pelajar/
santri misalnya. Setiap turnamen, event, atau lainnya membutuhkan biaya
tambahan misalnya untuk kostum dan lainnya. Namun, sebagai orang tua, percaya
pada janji Allah dalam Al-Qur’an, bahwa setiap anak itu sudah dijamin
rezekinya, juga dalam hadits. Namun, saya tidak akan menuliskan ayatnya karena
takut salah. Bisa cari sendiri, tentang jaminan ini.
Semoga catatan ini bisa menjadi
bahan diskusi dan juga berbagi pengalaman bagi pembaca yang hendak, masih ragu,
atau justeru punya pengalaman anak-anaknya sekolah di pondok.
Btw, tulisan ini akan bersambung
ke tulisan lanjutan tentang, Mempersiapkan Anak Sekolah ke Pondok....

Sebagai anak yang tumbuh di keluarga yang tidak bisa (dan tidak mau) jauh dari anak, aku juga punya stigma buruk tentang pondok. Namun, tidak bisa dipungkiri kalau anak-anak yang mondok itu hebat, karena mereka berani tinggal jauh dari orang tua, mereka juga lebih mandiri. Tentunya yang tidak masuk karena dipaksa.
BalasHapusSetuju, karena ketika dipaksa, itu sudah jadi kesalahan pertama.
HapusSemoga setiap orang tua bisa memilih lingkungan belajar yang paling sesuai dengan kebutuhan dan karakter anaknya. Terima kasih sekali lagi sudah berbagi sudut pandang yang menambah wawasan bagi pembaca lainnya. 😊
BalasHapusAamiiin, ya dan memang gak bisa dipaksakan, sesuai dengan karakter dan keadaan anaknya juga.
HapusPasti ada plus minus sekolah di pesantren. Dan orang tua juga punya berbagai alasan untuk mengirim anaknya ke pesantren. Sedikit opini saya, mengirim anak ke pondok salah satu opsi terbaik untuk orang tua yang super sibuk, atau misalnya orang tua yang harus jadi TKI ke luar negeri. Yang mana mereka bekerja keras memang untuk menghidupi anak. Dan mungkin jika menitipkan anak ke tantenya atau neneknya bukan solusi yang tepat. Sehingga mengirim anak ke pondok menjadi pilihan satu2nya.
BalasHapusSetuju banget, baik yang menyekolahkan ke pondok atau ke sekolah umum pasti akan selalu ada alasan
HapusMemang sejak marak beberapa kasus terkait pondok bbrp waktu lalu.. sepertinya ada rasa takut ortu menyekolahkan anak ke pondok. Padahal masih banyak sisi positifnya ya.. Terimakasih sharingnya..bisa jadi pertimbangan ortu yg anaknya inginke pondok nih..
BalasHapusIya ngeri-ngeri sedap ya, tapi pilihan juga pondoknya seperti apa harus jeli
HapusMenurut saya masing-masing pilihan sekolah punya plus minusnya. Dan jadi PR bagi orangtua untuk menentukan sekolah terbaik untuk anaknya. Soal bullying bisa terjadi dimana-mana, yang diperlukan saat ini bagaimana anak dan orangtuanya dapat berkomunikasi dengan baik soal apa yang ia hadapi disekolah.
BalasHapusSekarang komunikasi cukup mudah karena pondok memfasilitasi dengan telp dan juga WA... Jadi anak bisa kapan aja telpon selama tidak mengganggu kegiatan belajar.
HapusDulu setelah lulus SD saya dapat beasiswa masuk pesantren tapi orang tua belum benar-benar siap untuk melepaskan anaknya. Kesiapan mental orangtua memang diperlukan banget melepas anaknya, makanya saya ya nurut belum dapat izin saat itu, tapi setelah lulus SMP saya ngelanjutin SMA di kota besar alhamdulillah orang tua sudah siap.
BalasHapusBegitu dalam cintanya orang tua ya dengan rasa khawatirnya.
HapusAku adalah salah satu ortu yang khawatir anaknya masuk pesantren agak kepikuran terus sih tapi rmang psantren tempat terbaik buat mendidik agama buat anak drngan baik
BalasHapusSemua orang tua pasti khawatir dan kekhawatiran yang wajar.
HapusAku tuh termasuk yang kalau membayangkan anak harus tinggal jauh dari orang tua pasti kepikiran banyak hal, mulai dari kalau sakit, homesick, sampai bagaimana pergaulannya di sana. Tapi setelah baca tulisan ini, aku jadi melihat kalau sekolah di pondok memang bukan cuma soal pendidikan agama, tapi juga proses anak belajar mandiri, mengambil keputusan, dan mengatur hidupnya sendiri. Setuju juga kalau sebenarnya bukan pondok atau sekolah umum yang otomatis menentukan semuanya, karena masing-masing punya plus minus. Yang paling penting menurutku justru kesiapan anak dan orang tuanya, serta memilih lingkungan pendidikan yang sesuai dengan karakter anak.
BalasHapusSekarang difasilitasi sama alat komunikasi, ustadznya juga pada baik, kadang telpon pake telp ustadznya dikasih hadiah kalo nilainya bagus di kelas, hadiahnya VC orang tua
Hapusberdasarkan pengalaman, untuk modok itu harus ada keinginan dari anaknya sendiri, biar betah. Selalu salut sama anak yang mondok soal kemandiriannya
BalasHapusBener mbak, anak harus mau, kalo gak mau ya jangan dipaksa biar sama2 berjuang.... Anak berjuang orangtua juga berjuang
HapusAaah, kangen mudif ke Ponorogo
BalasHapusBtw puteranya sekarang kelas berapa? Semoga nanti pengabdian bisa ketemu Fahmi ya, Bah ...
Biasanya kan yg dari luar Jawa nanti kelas 6 dan pengabdian tukeran ke Jawa
AamiiinYRA
HapusMenarik sekali membaca sudut pandang orangtua yang mengirim cahaya matanya ke pondok.
BalasHapusHarus mempersiapkan biaya tak terduga akibat barang hilang juga mengena sekali ya ternyata. Ditunggu tulisan lanjutannya bah.
Hehe siap teh... Sambung menyambung nanti tulisannya
HapusMenurutku yang paling terasa dari tulisan ini justru bukan soal memilih pondok atau sekolah umum mana yang lebih baik, tapi tentang kesiapan orang tua dan anak. Kekhawatiran soal anak sakit, homesick, bullying sampai biaya memang wajar banget dipikirkan sebelum mengambil keputusan. Di sisi lain, pengalaman hidup mandiri sejak dini juga punya nilai tersendiri. Jadi memang nggak bisa sekadar ikut pilihan orang lain, harus benar-benar melihat kebutuhan anak dan kesiapan keluarganya
BalasHapusBegitulah mbak, karena pada dasarnya kalo mau jujur di sekolah mana pun akan kembali ke orang tua dan anaknya. Tidak sedikit anaknya yang memilih pondok karena keinginan sendiri. Artinya anak tau apa yang dia butuhkan. Nah jadi masalah kalo orang tuanya gak siap tentu dengan beragam alasan...
HapusSekarang banyak sekolah pondok modern dengan istilah Boarding School. Kebetilan anak² saya semua sekolah di pondok, satu hal yang oenting adalah anak jangan dipaksa masuk pondok hafus keinginan sendiri. Bisa jadi mereka nakal karena untuk mencari perhatian orang tuanya biar dipindahkan dan gidak sekolah di pondok lagi. Saat memiliki niat menyekolahkan anak di pondok gak bisa dadakan hafus dipersiapkan dari jauh hafi agar anak siap pas tiba waktunya.
BalasHapusItu juga yang jadi catatan buat saya sama isteri teh, jika anak gak mau ya orang tua harus rela, jangan memaksakan diri karena nantinya akan jadi gak baik buat anak
HapusSetuju sekali dengan poin kesiapan orang tua. Kadang, anak sudah pengen dan siap, tapi keluarga justru belum siap dan overthinking. Ini harus dicari dulu titik temunya agar sama-sama ikhlas, anak tenang, ortu pun demikian.
BalasHapusIya mbak, orangtuanya udah siap anaknya gak mau, anaknya mau orang tua malah yang gak siap jadi gak ada titik temu. Gak sedikit juga ibu dan bapaknya beda, ibunya pengen ke pondok ayahnya gak boleh.
HapusSetuju sama poin plus minusnya, nyekolahin anak ke pesantren emang ngelatih mental mereka buat hidup mandiri dan disiplin jauh dari orang tua. Ngebaca ulasannya jadi nambah sudut pandang baru yang ngebantu banget buat nimbang-nimbang keputusan.
BalasHapusIya mbak pada dasarnya sama aja mau pondok atau mau sekolah umum. Tergantung tujuannya juga...
HapusMemilih ananda dimana akan menuntut ilmu ini memang sebuah tanggungjawab orangtua. Kadang kalau mengikuti parenting barat yang bilang "Kudu didiskusikan dulu.. dengan sang anak..." Ini juga ada benarnya. Tapi, tetap final decision ada di tangan orangtua yaa.. untuk bekal ananda di masa depan.
BalasHapusYes yang jelas tidak memaksakan kehendak. Jika ada keinginan satu sama lain wajar. Tapi keputusan ada di orang tua apalagi anak msh belum bisa menimbang dengan realistis
Hapus