Digital Minimalism, Mengembalikan Fokus di Tengah Belantara Media Sosial
![]() |
| Buku Digital Minimalism karya Cal Newport, koleksi dan foto @abahraka |
Rusaknya Me Time-Family Time sampai Pekerjaan
Momen tersebut bisa berupa me
time, ataupun family time. Bedanya, jika me time seringkali
waktu menjadi terbuang percuma, sedangkan family time kadang menimbulkan
konflik di keluarga. Dan bahayanya pada family time, merusak hubungan antara
anggota keluarga. Jika anak merasa terabaikan, dampaknya bisa jangka Panjang.
Namun, belakangan, bukan hanya
merusak family time, juga merusak kefokusan diri dalam mengelola aktivitas
harian (me time). Oleh karena itu, ketika tuntutan pekerjaan semakin
intens, saya mencoba untuk melakukan beberapa pengereman-pengereman pada
aplikasi dan media sosial khusunya, sebagaimana saya tumpahkan keresahan
tersebut dalam tulisan , Detoksifikasi
Media Sosial.
Tuntutan pekerjaan, saat jenuh,
bermedia sosial juga bisa mengambil alih pekerjaan tanpa sadar. Tiba-tiba sudah 1 jam atau 2 jam scrolling
media sosial. Menyesal? Ya, tapi setelah sadar bahwa saat bermedia sosial,
ternyata tidak berkontribusi positif, terhadap perkembangan pekerjaan yang
sedang dilakukan.
Buku Digital Minimalism
Pada saat saya mulai melakukan detoks, saya
menemukan satu buku yang turut menyemangati saya untuk tidak terlalu
ikut-ikutan ngonten, yang bisa jadi sebetulnya tidak saya perlukan,
apalagi manfaatnya, sudah pasti tidak ada. Saya memaknainya demikian.
Buku berjudul Digital Minimalism, Choosing a
Focised Life in a Noisy World, tersebut ditulis oleh seorang professor
salah satu universitas di Amerika, Cal Newport yang juga menulis The Shallow,
tentang bahayanya internet jika menerpa secara impulsif.
Salah satu yang suka dari gaya
penulisannya adalah, selain karena gagasan-gagasan yang muncul dari fenomena,
Newport juga melakukan riset terhadap sejumlah orang terkait dengan pengalaman
banyak profesional terhadap relasinya dengan dunia digital.
Gaya tulisannya, ciri khas praktisi akademisi. Jika di Indonesia yang khas
buku-bukunya dengan gaya tulisan tersebut adalah buku-buku dari Rhenald Kasali,
Hermawan Kertajaya, atau Yuswohadi.
Tiga puluh tahunan lalu, Yasraf Amir Piliang, seorang filsuf postmodernisme
dari ITB sudah melihat tentang keberlimpahan atau overload-nya informasi,
Cal Newport, melihatnya sebagai serangan media sosial yang bertubi-tubi. Informasinya
semakin berlimpah tapi tidak jelas. Kini bukan hanya tidak jelas, juga dipenuhi
oleh hoaks dan clickbait para pendulang cuan di UGC.
Oleh karena itu, Newport
berkeyakinan bahwa itu adalah sesuatu hal yang mengganggu kefokusan pengguna. Keyakinannya
ini dia tumpahkan melalui riset terhadap para pengguna dari kalangan
profesional dan juga pengguna yang sudah sadar bahwa tidak perlu bahkan tidak
penting kita memiliki media sosial atau tidak. Karena ketika kita memiliki
media sosial pun, justeru malah merusak kefokusan di tengah aktivitasnya padat.
Namun, di era digital ini,
Newport juga tidak menafikan bahwa untuk sebagian orang, media sosial cukup
membantu untuk menghubungkan kembali relasi yang terputus. Era kini, media
sosial juga bisa menjadi ladang penghasilan atau untuk leveling up
bisnis. Namun, dari hasil riset Newport, eksistensi media sosial justeru lebih
banyak merusak daripada membantu.
OIeh karena itu, Newport tidak
segan-segan menganjurkan untuk menghapus akun media sosial pengguna.
Eksperimen Digital Minimalism
Selain melalui riset, Cal Newport
juga melakukan eksperimen terhadap beberapa orang pengguna untuk benar-benar
tidak berhubungan dengan media sosial dalam jangka waktu tertentu.
Dan….., para pengguna yang secara
intens menggunakan media sosial tersebut cukup kaget dengan hasilnya. Karena
ternyata, sebagian besar orang cukup merasa terbantu dengan kembalinya fokus
dalam aktivitas mereka. Namun, sebagian dari mereka pada beberapa hari awal saat
tidak menggunakan media sosial merasa hidup mereka aneh. Namun setelah beberapa minggu mereka mulai
terbiasa dengan tidak mengakses media sosial.
Cal Newport tidak menyarankan untuk secara
revolusioner, tiba-tiba menghapus semua akun media sosial milik pengguna, namun
secara bertahap dan memilah, media sosial atau aplikasi mana yang jarang
penggunaannya, maka dapat mempertimbangkan untuk menghapusnya. Artinya, jika
salah satu aplikasi media sosial masih perlu dan penting dalam membantu
pekerjaan atau aktivitas sosial, itu yang paling penting. Tapi saat media
sosial sama sekali tidak membantu meningkatkan produktivitas, maka lebih baik
hapus tanpa kompromi.
Bersih-bersih Digital
![]() |
| Buku Digital Minimalism, Bertahap hapus app media sosial yang jarang/ tidak terpakai @abahraka |
Persis seperti yang saya lakukan pada beberapa
waktu lalu. Saya menghapus beberapa aplikasi media sosial, walaupun tetap masih
dapat mengaksesnya sesekali. Artinya akunnya tidak saya hapus. Karena masih
ingin berproduktivitas pada media sosial tersebut.
Beberapa aplikasi yang jarang saya gunakan juga
pada akhirnya saya hapus, untuk sementara atau mungkin untuk selamanya, jika
saya tidak kembali melakukan aktivitas tersebut.
Praktik Digital Minimalism
Selain bersih-bersih digital, buku ini memiliki
sisi praktis, karena sang penulis membuat semacam panduan bagaimana memulai
hidup dengan digital minimalism. Saya sendiri mengartikan, digital minimalism
ini sebagai cara hidup digital yang tidak FoMo, jika kita tidak berkepentingan
terhadap satu aktivitas yang sedang ramai di media sosial, kita tidak perlu
masuk, menengok, apalagi sampai berkomentar. Dan inilah salah satu yang menjadi praktik dalam
digital minimalism.
Berikut beberapa anjuran dari Newport untuk memulai digital minimalism:
![]() |
| Buku Digital Minimalism, praktik meminimalisasi dominasi media sosial dalam kehidupan @abahraka |
Selain Abraham Lincoln, Newport juga menceritakan salah satu filsuf yang
produktif karena memiliki waktunya sendiri, Henry David Thoreau. Ia memiliki rumah di tepi danau, dan produktif
menulis di sana. Bahkan, karena membaca ulasan dari Newport tersebut, saya
langsung mencari buku apa yang ditulis Thoreau tentang kesendirian ini, alhasil
ketemulah saya dengan buku tersebut, Walden, sejenis catatan pribadi, tapi
masuk kategori novel.
Ini saya rasakan, hidup merasa lebih tenang sedikit, saat pulang kerja,
sampai rumah kurang lebih pukul 17, dan perangkat digital saya simpan di meja
kerja, sementara saya sambil ngoconin anak saya.
Saya mulai menerapkan, di luar jam kerja saya tidak ngintip-ngintip
info-info pekerjaan. Ketemu lagi pagi-pagi dengan perangkat khsususnya isi-isi
dari media yang ada di dalamnya. Walaupun tidak selalu kaku. Namun pagi-pagi
lebih memprioritaskan untuk menyicil bacaan, 30-60 menit. Sebelum akhirnya satu
jam kemudian saya tenggelam lagi dalam kesendirian untuk berjalan kaki.
Selain karena faktor kesehatan, juga karena salah satu ajaran yang saya
terapkan dari Newport.
Kedua, jangan mengklik like. Praktik kedua untuk mengurangi aktivitas digital
adalah tidak mengklik like. Jika sesekali ada konten teman saya like,
itu saya anggap sebagai bagian dari pertemanan, sama dengan menyapa. Tapi jika
tidak kenal bukan relasi baik di ruang digital atau nyata, apalagi hanya
sebatas konten selebgram yang kita juga gak pernah ada di mata mereka, sudah
sejak dulu saya menghindari itu. Follow pun tidak, kecuali teman yang saling
follow.
Bagi Newport, ketika kita mengklik like, itu menjadi awal mula
semacam petaka digital. Karena ketika mengklikinya, kita akan masuk ke dalam
belantara konten yang mungkin juga tidak kita inginkan sebelumnya.
Hal ini sangat nyata melalui konsep filter bubble yang menghasilkan echo
chamber. Secara paradigmatik, apa yang kita like atau tonton akan memunculkan
konten-konten serupa dalam beranda kita. Ini akan mendorong kita masuk ke dalam
ruang konten yang tidak berkesudahan.
Ketiga, memiliki kembali kegiatan santai. Kegiatan yang dimaksud oleh
Newport bukan sekadar me time tapi aktivitas yang berkualitas misalnya,
aktivitas diskusi, ikut pelatihan blogging atau yang berkaitan dengan blogging
atau kegiatan komunitas yang disukai, yang bermanfaat untuk pengembangan diri
yang santai. Aktivitas ini
bisa bermanfaat untuk dirinya sendiri ataupun orang lain. Misalnya bergabung
dengan relawan sosial misalnya.
Keempat, melakukan gerakan perlawanan. Saat media sosial sudah terasa
mengeksploitasi penggunanya, kata newport, itu harus dilawan. Caranya
bagaimana?
1. Hapus aplikasinya dari perangkat.
2. Jadikan perangkat memiliki tujuan tunggal,
yaitu produktif, misalnya untuk pekerjaan.
3. Jika pun harus memiliki media sosial, tapi
jadikan sebagai media profesional bukan kegiatan konsumsi.
4. Slow media. Jangan terburu-buru mengklik saat
membaca satu berita yang menarik. Kenali karakteristiknya. Karena seringkali
media menyajikan clickbait. Jika sudah ketahuan karakteristiknya lebih baik
abaikan.
5. Sederhanakan tipe ponsel. Ini tidak mudah, tapi
dapat menyesuaikan dengan kebutuhan. Saya sendiri kepikiran, ponsel kerja cukup
instal whatsapp saja karena semua aktivitas dominan pada whatsaap, plus untuk
kebutuhan hidup yaitu aplikasi mbanking. Sementara untuk media sosial dan
aplikasi lain, jika memiliki rezekin berada pada satu perangkat lagi yang hanya
akan saya gunakan dan aktifkan saat benar-benar santai dan memiliki waktu
produktif.
Bagi pembaca yang memiliki permasalahan yang sama saat terikat oleh media
sosial, namun tidak terlalu terhibur atau tidak terlalu merasa bermanfaat,
mungkin bisa memulainya dari sekarang. Membaca buku Digital Minimalism ini juga
akan sangat bermanfaat apalagi jika kemudian bisa dipraktikkan.***[abahraka]


.jpeg)
Sungguh isi buku dan review ini yang sangat relevan dan menyentil keras diriku hiks...rasanya aku harus secara serius melakukan penataan media sosial yg sempat aku bikin beberapa zaman FOMO dulu hahaha, niatnya mau monetasi ternyata malah mangkrak hiks
BalasHapusKadang kalo lagi santai gak ada tujuan kejebak juga dengan medsos. Tapi udah dihapus eh gak jadi scrollingnya. Tapi medsos yang msh ada jadi pelarian. Kecuali jelas tujuannya gak masalah sih ya...
HapusSudah lama saya menerapkan bersih-bersih digital ini. Memang berasa sih efek positif. Kerja HP jadi lebih ringan. Saya pun gak sering tergoda lihat medsos. Mangkas screen time kalau gak semua medsos di-install
BalasHapusNah iya itu teh Mira godaannya itu ya
HapusBuku yang amat menarik sekali. Alhamdulillah, beberapa media sosial yang tidak terpakai memang sudah di delete. Beberapa masih digunakan karena suka ada job saja. Jadi, memang harus tau batas. Kadang kalau mulai scrolling suka keasyikan sendiri.
BalasHapusJadi penasaran sih sama buku Digital Minimalism, nanti kalau ke perpustakaan Jakarta mau cek akh, mana tau ada stok bukunya.
Memang gak seekstrem penulis bukunya ya, apalagi beberapa pekerjaan melibatkan media sosial.
HapusHarus di share nih biar banyak yang baca, termasuk saya yang sudah lama banget tidak baca buku, hiks. Dan memang ya menghabiskan waktu sendiri itu memang penting banget untuk bisa refleksi apa yang sudah kita jalani di kehidupan ini.
BalasHapusTapi susah ya apalagi anak masih kecil dan pekerjaan juga sepertinya gak pernah berhenti
HapusWah, ini kena banget di zaman sekarang. Kadang kita cuma berniat buka media sosial “sebentar”, tahu-tahu satu jam lewat dan pekerjaan masih di tempat yang sama. Yang menarik dari digital minimalism menurutku bukan berarti harus anti-media sosial, tapi lebih sadar mana yang memang kita butuhkan dan mana yang cuma mencuri perhatian. Fokus itu ternyata barang mahal ya sekarang
BalasHapusHahaha iya bener banget kalo lagi ada kerjaan suka nyesel tapi gak bisa balik lagi eh malah berulang ya
HapusSekarang kita memang benar-benar bergantung ya sama berbagai aplikasi digital dan kayaknya untuk bisa menghapus berbagai aplikasi ini termasuk sebuah langkah besar ya, kak. Aku ada lihat sih buku ini di perpustakaan kota tapi belum pinjam soalnya yang ada juga belum selesai dibaca
BalasHapusJika kebiasaan yang terbentuk karena ketergantungan bukan manfaat bisa jadi langkah besar. Tapi jika sejak awal menyadari bahwa pengguna tidak memanfaatkan medsos sebetulnya biasa saja.
HapusPengen detoks juga tapi gimana ya, pekerjaan sekarang ini ada kaitannya banget dengan media sosial.
BalasHapusKalo pekerjaan ya susah kan jelas tujuan dan manfaatnya
HapusBuku yang keren, pastinya lahir dari kekhawatiran yang sama terhadap fenomena sosmed ya abah. Saya setuju untuk detox digital (bahkan penggunaan AI), detox disini tapi gak ekstreem. karena beberapa pekerjaan masih terkoneksi dg sosmed tertentu dan penggunaan AI tertentu, tapi mungkin yang perlu dperhatikan adalah, bijak dalam ber-sosmed. dan saya setuju, kalau apk atau sosmed tertentu dinilai gak membantu produktivitas, hapus aja, hehe.
BalasHapusYes bener banget sesuai kebutuhan dan manfaatnya
HapusSesekali kita memang butuh waktu untuk me time terbebas dari internet. Mengalihkan perhatian dari gadget ke hal² yang lebih bermanfaat. Tidak semua harus dilihat kaan..sesekali rehat itu perlu.
BalasHapusYes bener banget teh tidak semua harus serba termedsoskan
HapusBukunya menarik sekali Abah, memang sekarang banyak sekali kekhawatiran. Aku pengen banget baca lengkapnya ini
BalasHapusEksplorasinya buku ini sangat menyenangkan buat yang kecanduan teh
HapusAlhamdulillah sekarang juga menerapkan digital detox dan uninstal beberapa aplikasi yg nggak terlalu dibutukan..selain bikin hp lebih ringan, ternyata cukup berpengaruh juga sm kita pribadi. Pengen banget baca lengkap bukunya.
BalasHapusKerasa ya jadi enteng juga buat hidup kita gak terkejar-kejar
Hapus