Raden Ayu Dewi Sartika, Emansipasi, dan Pendidikan Kaum Perempuan
Raden Ajeng Kartini
![]() |
| Raden Ajeng Kartini, sumber: ruangpenggerak |
[https://abah-raka.com] - Masyarakat Indonesia tentu mafhum jika setiap anggota bangsa dan perempuan Indonesia begitu sangat mengidolakan Pahlawan Nasional dari Jepara, Raden Ajeng Kartini. Setiap tanggal 21 April kita memperingatinya. Setiap 21 April juga, saya juga selalu menulis status kritis, dan seringkali mengganti Hari Kartini dengan Hari Perempuan Indonesia.
Memang lebay sih, ciri-cirinya saya
minim pengetahuan. Padahal setiap perempuan pejuang termasuk Raden Ajeng
Kartini memiliki kontribusi intelektual yang mampu menggerakkan perjuangan para
perempuan dan Ibu di Indonesia yang relasinya sangat kuat dengan eksistensi
bapak-bapak seperti saya.
Maklum, saya masih muda saat itu, lagi centil-centilnya, dikiranya kritis hehehe.... Tapi jika ingat masa-masa awal
populernya media sosial, sepertinya apapun harus ditulis secara kritis hehehe. Sampai-sampai,
karena sering kritik seorang politisi populer, Facebook saya saat itu kena
banned.
Tapi makin ke sana saya makin ke sini. Makin
ke sini saya merasa banyak tidak tahunya. Sehingga apa yang pernah saya tulis
dalam status itu menunjukkan sisi terbodoh saya. Biarlah tanggal 21 April tetap
menjadi hari Kartini, tapi bagi banyak Perempuan, Kartini menjelma menjadi
emansipasi. Kartini menjadi
lokus dalam perjuangan Perempuan dalam memperoleh cita-citanya.
Lebaran tahun 2025, selama liburan,
saya menyelesaikan satu bacaan novel karya E. Rokajat Asura, penulis beberapa
novel perjuangan seperti Kerajaan Pajajaran, Prabu Siliwangi, dan Novel yang
baru saja saya baca Raden Dewi Sartika. Sebetulnya, saya ingin membaca terlebih
dahulu buku Panggil Aku Kartini Saja karya Pramoedya Ananta Toer, namun apa
boleh kata, saya masih kesulitan memprioritaskan membeli novel tersebut. Akhirnya,
daripada lupa, saya ulas saja novel tersebut.
Terlepas tanggal 21 sebagai hari Kartini. Banyak para pejuang perempuan di Indonesia sebelum Kartini, sejaman dengan Kartini, atau hidup setelah Kartini. Mereka bukan hanya berjuang untuk dirinya sendiri, namun memperjuangkan kaumnya, bangsanya yang saat itu dianggap sebagai the 2nd human. Raden Dewi Sartika salah satunya.
Keturunan Menak yang Humble
![]() |
| Raden Ayu Dewi Sartika, Cover Novel Karya E. Rokajat Asura |
Walaupun hidup di tengah lingkungan pemerintahan dan ningrat, Eunden,
panggilan Raden Dewi Sartika, hidup berbaur dengan masyarakat kebanyakan,
bergaul dengan para pekerja di keluarganya, termasuk anak-anak dari para
pekerja.
Apalagi saat ayahnya diasingkan karena politisasi yang dilakukan oleh
Belanda, Eunden Uwi, tinggal dengan uwaknya (kakak dari Ibunya) di Cicalengka (kini
menjadi salah satu kecamatan di Kabupaten Bandung), yang juga sebagai tempat
kelahiran Raden Ayu Dewi Sartika.
Eunden Uwi ditempatkan bersama para pekerjanya di belakang rumah, sehingga
otomatis ia sering bergaul dengan para putra putri pekerja uwaknya. Melalui
pergaulan dengan anak-anak seusianya tersebut, Eunden jadi memahami bagaimana
kehidupan anak-anak para pekerja tersebut, termasuk juga pendidikan. Melalui interaksi
dengan anak-anak para pekerja tersebut, Eunden merasa dirinya beruntung bisa
sekolah, dan ayahnya yang sorang tumenggung
Sejatinya, novel tersebut adalah biografi. Sebagaimana halnya Novel Nama
Saya Kartini. Namun
karena ditulis oleh seorang Novelis, jadilah biografi tersebut dalam bentuk
karya sastra, novel.
Memorable Jalan Dewi Sartika
![]() |
| Novel yang menciptakan theatre of mind pembaca, Raden Dewi Sartika |
Salah satu memori yang terngiang-ngiang dalam pikiran saya adalah ketika salah satu plot-nya menceritakan aktivitas Eunden Uwi bersama ayah dan ibunya menonton pertandingan dan atau semacamnya di Lapangan Tegallega. Beberapa plotnya menceritakan aktivitas yang sama dengan menaiki delman.
E Rokajat Asura, dengan sangat
baik mampu membangkitkan theatre of mind pembaca. Apalagi yang mungkin
orang bandung dan atau yang tinggal di Bandung, sering melewati dan
beraktivitas di lapangan Tegallega. Pembaca
akan merasakan bagaimana penulis mengajak langsung jalan-jalan kepada
pembacanya.
Saya merasakan itu, seolah
penulis mengajak saya jalan-jalan dari pendopo dan atau alun-alun Bandung, melewati jalan yang
sekarang bernama jalan Dewi Sartika.
Waktu saya masih usia belasan
atau dari remaja ke dewasa, saya teringat jalan Dewi Sartika adalah salah satu
surga kaset, baik kaset mayor label, indie label, ataupun kaset-kaset bekas. Beberapa
kaset saya beli dekat di Jalan Dewi Sartika; Slank, Pas Band, Gigi, Nugie,
Nirvana, dan atau Metalica.
Namun saat kuliah, jalan Dewi
Sartika adalah salah satu tempat mencari buku-buku murah, termasuk juga
buku-buku bekas. Beberapa ada yang saya beli dari Jalan Dewi Sartika.
Saat membaca plot ini, saya pun
berdecak, “Owh pantesan diberi nama Jalan Dewi Sartika, karena dulunya menjadi
tempat lalu Lalang Dewi Sartika saat menuju lapangan Tegallega.
Namun bukan hanya itu, pertama
kali Raden Dewi Sartika membuka sekolah juga berada pada jalan ini, yaitu yang sekarang
menjadi Pendopo Kota Bandung.
Emansipasi Pendidikan Kaum Perempuan
Raden Ayu Dewi Sartika, bukan hanya
memperjuangkan kesetaraan kaum perempuan melalui berpendidikan. Melalui
pendidikan, kaum perempuan tidak akan bisa dibodohi oleh orang lain. Setidaknya
itu yang terbersit dalam pikirannya saat itu.
Raden Dewi Sartika, karena menjadi teman dan
sahabat bagi para perempuan, seringkali mendapatkan permintaan tolong dari
teman-temannya yang belum bisa membaca.
Suatu saat, ada seorang temannya yang dimintai
tolong untuk membacakan surat yang dikirimkan oleh seorang laki-laki, namun
isinya bisa membuat temannya tersebut sedih. Sebagai seorang perempuan periang,
Eunden Uwi tidak mau temannya tersebut sedih, akhirnya ia menyampaikannya
dengan isi yang membuat perempuan tersebut tidak sedih.
Saat tinggal bersama uwaknya tersebut, Eunden
Uwi banyak belajar dari isteri keempat dari Uwaknya tersebut, yaitu Gan Eni.
Gan Eni banyak mengajarkan tentang keterampilan-keterampilan yang harus
dimiliki oleh seorang perempuan; menjahit, membatik, unggah ungguh/ tata krama,
termasuk juga memasak.
Walaupun oleh Uwaknya disetarakan dengan abdi
dalem, beruntung Eunden Uwi mendapatkan kasih sayang dari Uwak perempuannya
tersebut. Hal itu juga yang mendorong keberanian Uwi untuk membuat
sekolah-sekolahan dan mengajarkan anak-anak seusianya saat itu untuk belajar
membaca.
Merintis Sekolah Kautamaan Isteri
Lembaga pendidikan formal tingkat SLTA ataupun
di institusi pendidikan setingkat perguruan tinggi, khususnya bagi karyawan
Putri, pernahkan mendengar atau memiliki pengalaman terdapat unit khususnya
tentang sekolah perempuan atau istilahnya divisi keputrian? Bisa jadi itu
merupakan bagian dari perjuangan yang selama ini dilakukan oleh Raden Ayu Dewi Sartika.
Bahkan kini, sudah lumrah dalam politik harus
ada keterwakilan perempuan. Bukankah hal tersebut yang selama ini diperjuangkan
oleh Raden Dewi Sartika agar perempuan tidak dibodohi, maka ya harus masuk
sistem. Jika dulu sistemnya adalah pendidikan, sekarang maknanya lebih meluas,
yaitu institusi-institusi publik; anggota DPR, menteri, anggota komisi, dan
lainnya.
Hal senada juga diperjuangkan oleh Kartini agar
perempuan melek pengetahuan. Sehingga bisa setara dengan laki-laki yang
terlebih dahulu memperoleh kesempatan untuk mengenyam pendidikan dan berpengetahuan.
Selama Eunden Uwi di rumah uwaknya, ia banyak
menyerap persoalan-persoalan perempuan sehingga motivasi untuk mendidikan
sekolah perempuan semakin kuat. Hal ini juga didorong oleh antusiasme perempuan
seangkatannya yang mau belajar.
Setelah Ibunya lepas dari pengasingan, Eunden
Uwi dan Ibunya Raden Ayu Rajapermas kembali ke Bandung.
Di Bandung ia mengajukan untuk membuka sekolah
perempuan tapi ditolak oleh Bupati Bandung. Ia pun berdiskusi dengan Ibunya,
dan beberapa kali menemui bupati, walaupun pada akhirnya buntu.
Dewi Sartika tidak surut dan semangatnya
semakin menyala. Ia terus melakukan upaya-upaya agar ia mendapatkan restu
mendirikan sekolah perempuan. Ia pun menemui pemerintahan Belanda. Melihat
kesungguhan dan perjuangan Dewi Sartika, Dewi Sartika mendapatkan izin dari pemerintah,
sehingga Bupati Bandung saat itu luluh.
Sebulan dua bulan, enam bulan, muridnya terus
bertambah. Bukan hanya murid, gedung, bertambah tahun bertambah juga cabang.
Selain di Jawa Barat, juga terdapat cabang di Sumatera. Perkembangan Sakola
Kautamaan Isteri pun beberapa kali mendapatkan penghargaan dari pemerintah
Hindia Belanda dan mendapatkan dukungan dari para pelajar perempuan Belanda.
Satu Sisi Raden Ajeng Kartini Sisi Lainnya Raden Ayu Dewi Sartika
![]() |
| Tiga Tokoh Perempuan: Raden Ajeng Kartini, Raden Ayu Dewi Sartika, Raden Ayu Lasminingrat Sumber: Pikiran Rakyat |
Raden Ajeng Kartini memang bernasib berbeda dengan Raden Ayu Dewi Sartika. Melalui tulisannya, pemikirannya melintasi kota, pulau bahkan benua. Ia menggerakan pikiran setiap orang untuk memperjuangkan cita-citanya. Pada sisi lain, Raden Ayu Dewi Sartika berada pada sisi lainnya karena pikirannya harus bersifat praksis.
Keduanya hidup pada satu zaman, baik Raden Ajeng Kartini lahir lebih dulu
1879 ataupun Raden Ayu Dewi Sartika lahir kemudian tahun 1884, memiliki kontribusi
terhadap kemajuan perempuan Indonesia. Hanya jika dianalogikan, Raden Ajeng
Kartini murni sebagai pemikir atau filsuf pada jamannya. Banyak memikirkan
nasib kaumnya. Namun keterbatasannya tidak turun ke lapangan. Sebagai seorang
filsuf, pikiran-pikirannya mampu menggerakan dan melintasi batas zamannya.
Pada sisi lain, Raden Ayu Dewi Sartika, bukan hanya seorang pemikir ia juga
seorang penggerak. Jika dianalogikan dengan zaman modern, Raden Ayu Dewi
Sartika adalah seorang aktivis tulen, ia adalah seorang intelektual. Selain
pikiran-pikirannya yang tajam. Ia juga langsung terjun ke lapangan untuk
mewujudkan pikiran-pikirannya tersebut.
Baik filsuf maupun intelektual, keduanya sama-sama resah terhadap keadaan
masyarakatnya. Melalui kedalaman pikiran, keduanya mencurahkannya dalam bentuk
tulisan, melalui buku.
Sang Pemula: Lasminingrat
Sebagai tambahan, sebelum keduanya lahir masing-masing tahun 1879 dan 1884,
beberapa puluh tahun sebelumnya telah lahir seorang pemula yang memperjuangkan
pendidikan kaum perempuan. Ia adalah Raden Ayu Lasminingrat. Perempuan menak asal Garut, putra
seorang Penghulu Raden Mohamad Musa.
Lasminingrat yang lahir tahun 1853 (ada juga
catatan yang menyatakan lahir tahun 1843) telah lebih dulu mengenal literasi,
karena langsung belajar di sekolah Belanda dan diasuh oleh seorang Belanda
sekaligus. Berdasarkan penelusuran, untuk membantu kaum perempuan, ia
mendirikan sekolah isteri, serta menerjemahkan buku-buku populer yang ada pada
zaman tersebut, salah satunya Carita Erman.
Pada tahun 1911-1912, saat sakola kautamaan isteri
yang digagas Raden Dewi Sartika berkembang, ia turut mendukungnya dengan
mendirikan Sakola Kautaaman Isteri di Garut. Pada tahun ini juga berdiri
sekolah Taman Siswa yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara. Mungkinkah Ki Hajar
Dewantara juga terinspirasi oleh sekolah kautamaan isteri? Sebagaimana halnya dukungan
Lasminingrat terhadap Raden Ayu Dewi Sartika.
Sampai sekarang, peninggalannya masih ada,
yaitu bangunan yang digunakan oleh SDN Regol dan sebagian SMAN 1 Garut yang
tepat berada di tengah-tengah kota, tepatnya belakang Alun-alun Garut
bersebrangan dengan Gedung Pendopo Garut.
Sebelum Raden Ajeng Kartini lahir dan Raden Ayu
Sartika Lahir, Raden Ayu Lasminingrat sudah menulis dan menerjemahkan buku
Belanda ke dalam bahasa Melayu.
Pahlawan Pendidikan
Selama ini, kita mengenal pahlawan pendidikan yang
fokus pada Ki Hajar Dewantara. Padahal jika mau jujur, ketiga pahlawan
perempuan tersebut menjadi pelopor dalam pendidikan bangsa Indonesia, walaupun
lebih difokuskan pada kaum perempuan. Namun, mereka telah melahirkan pada
pemimpin-pemimpin yang cerdas berkat perempuan-perempuan (Ibunya) yang
mendapatkan pendidikan karena mendapatkan motivasi dari ketiga perempuan
pejuang tersebut.
Pernahkah mendengar atau membaca satu peribahasa,
jika perempuan-perempuannya baik maka baiklah suatu bangsa. Jika perempuan-perempuannya
kuat maka kuatlah suatu bangsa. Dalam hal ini, jika perempuan-perempuannya
cerdas maka cerdaslah suatu banagsa.
Kehadiran perempuan-perempuan baik, kuat, dan
cerdas berkat ajaran ketiga perempuan pejuang tersebutlah maka melahirkan
anak-anak yang baik, kuat, dan cerdas. Tanpa perempuan, apalah artinya suatu
bangsa. Sebagaimana cita-cita dan gagasan pendirian Sakola Kautamaan Isteri
yang ingin melahirkan generasi Cageur, Bageur, Bener, Pinter, dan Singer.***[]




Saya sudah sering mendengar nama R.A. Kartini dan R.Ayu Dewi Sartika tapi untuk Raden Ayu Lasminingrat saya baru mendengarnya. Sepertinya saya perlu menggali lebih dalam informasi tentang sosok beliau ini.
BalasHapusIya dan lebih dulu menjadi pelopor emansipasi
HapusUnpopuler opinion saya, yang mungkin banyak ditentang: Kartini mah nulis surat doang, kok bisa dijadiin tokoh emansipasi. Gerakannya kurang "greget" dibanding tokoh lain seperti Dewi Sartika yang ditulis di sini. Atau Rasuna Said, Cut Nyak Dien, Malahayati,.
BalasHapusAda juga Ruhana Kudus, yang mendirikan surat kabar wanita pertama di Indonesia.
Menjadi catatan buat kita semua ya mbak Rahma, betapa sejarah dan kekuasaan itu menutupi realitas
HapusPerjuangan Dewi Sartika membuktikan bahwa pendidikan adalah kunci utama pemberdayaan. Menurut saya, semangat beliau masih sangat relevan saat ini, di mana perempuan harus terus beradaptasi dengan kemajuan zaman tanpa melupakan identitasnya.
BalasHapusBetul banget Teh Mira, ia bukan hanya pejuang tapi juga seorang intelektual sejati, ia berpikir sekaligus turun ke tengah-tengah masyarakat untuk memperjuangkan bangsanya
HapusMembaca tulisan ini bikin saya pengin mengubah kebiasaan Hari Kartini menjadi Hari Pahlawan Perempuan Indonesia aja, jadi di moment yang sama, semua pahlawan perempuan disebut dan diapresiasi seperti Kartini. Hatur nuhun Kang Dudi, saya jadi lebih mengenal Ibu Dewi Sartika lebih baik lagi dari tulisan ini.
BalasHapusIya teh, pemberitaannya tidak semasif Ibu Kartini, tapi setelah baca novelnya dan juga referensi lain juga peninggalannya, dia bener-bener intelektual sejati...
HapusBaca artikel dan melihat foto buku nya, jadi inget, masih ada di list TBR, ku beli buku tersebut di bazar dan belum sempat dibaca. Ternyata isinya sangat bagus, biografi yang begitu menarik dan menginspirasi sekali.
BalasHapusSebagai warga Bogor, Asli Sunda, turut bangga karena ada Raden Ayu Dewi Sartika, begitu menginspirasi setiap langkah dalam memajukan pendidikan buat kaum perempuan pada era tersebut. Perjuangannya patut diacungi jempol dan bener, perempuan cerdas bisa melahirkan dan mendidik anak-anaknya menjadi orang cerdas, beradab, berakhlak.
Novelnya renyah dibacanya teh, apalagi konteksnya di Bandung. Mungkin kalo teteh dari Bogor sama seperti baca Jejak Langkah nya Pramoedya yang latarnya di Buitenzorg, langsung dapat theater of mind-nya
HapusDewi Sartika, mengingatkan kita kelahiranku, setuju banget nih dengan apa yang diajarkan oleh Gan Eni, kalau perempuan itu harus belajar keterampilan, tata krama dan memasak dan itu yang selalu nenek saya ajarkan. 😊
BalasHapusJadi lengkap semua ada di perempuan ya, selain berpendidikan dan bisa bekerja di luar tapi juga di lingkungan domestik pandai
HapusSelama ini kita memang lebih banyak tahu tentang Ibu Kartini, ya. Padahal ada banyak juga tokoh wanita Indonesia yang memperjuangkan pendidikan kaum wanita di masa kemerdekaan seperti raden ayu dewi Sartika ini.
BalasHapusIya hampir di setiap daerah ada tokoh2nya, yang paling awal banget ada Ke Malahayati dari Aceh, bahkan ada yang lebih dulu namanya Putroe Neng dari Aceh
HapusAkses pendidikan untuk kaum perempuan di masa itu jadi sesuatu yang mahal. Alhamdulillah ada Dewi Sartika, Kartini, dan Lasminingrat yang membuat pergerakan memperjuangkan kesetaraan pendidikan wanita.
BalasHapusMenariknya mereka itu dari kalangan ekonomi atas, terdidik, dan memiliki empati tinggi sehingga peduli dengan sekitar.
Dari ketiga tokoh tersebut yang mendirikan sekolah hanya Dewi Sartika, sedangkan Lasmi ningrat lebih ke literasinya lalu baru terjun setelah mengenal sekolah Dewi Sartika. Sedangkan RA Kartini lebih ke literasi emansipasinya.
HapusNuhun udah bikin artikel tentang raden dewi sartika abah, jadi tahu perjuangan beliau dalam hal pendidikan perempuan di Bandung. Sekolahnya masih ada gak ya? Atau cuman pendopo itu aja?
BalasHapusSaya juga punya kenangan sendiri dengan jl dewi sartika, nyari kaset nirvana sama pearl jam, hehehe.
Mungkin karena "sifat"nya lokal, raden dewi sartika hanya dikenal sebagai pahlawan lokal, kalau Kartini kan lintas benua ya, jadi lebih dikenal luas. Tapi benar apa katanya abah, sama-sama pejuang perempuan terutama di bidang pendidikan.
Kalau dibikin film, ini bakalan bagus banget nih kisahnya Dewi Sartika.
Iya kebayang kalo jadi film ini visual perjuangannya akan dapet banget, tapi sad ending...
HapusKeknya lebih sesuatu Eunden Uwi ya dalam hal sosial kemasyarakatan karena humble dan apik, cuma sayangnya yang ada Hari Kartini, bukan Hari Raden Ayu Dewi Sartika.
BalasHapusYa bener banget, ia bener2 intelektual sejati selain menyebarkan gagasan dan paham tenteng emansipasi pendidikan untuk kaum perempuan dia juga mengimplementasikan gagasannya. Ia juga perempuan yang tegas dan berani karene menolak jadi isteri kedua.
HapusTulisan tentang Dewi Sartika ini bukan cuma informatif, tapi juga menginspirasi. Aku suka bagaimana kamu mengangkat sisi perjuangan dan relevansinya sampai sekarang. Baca ini tuh kayak diingatkan lagi pentingnya pendidikan dan peran perempuan dalam perubahan
BalasHapusTanpa perempuan apalah jadinya bangsa ini, apalagi perempuan-perempuan dengan visi perubahan untuk kaumnya.
HapusIndonesia tuh punya banyak pahlawan wanita, lho. Selain ibu Kartini salah satunya ibu Dewi Sartika ini. Baca tulisan ini jadi nambah ilmu tentang beliau.
BalasHapusiya banyak banget,
Hapus