Saat Bapak-bapak Gabut Jadilah Urban Farming

Urban Farming, Menanam Cabai Merah dalam Polibag @abahraka

[https://abah-raka.com] - Tiga bulan pertama saat lockdown pandemi, benar-benar membuat saya tertekan. Akan tetapi, yang tertekan bukan hanya saya saja ya, tapi hampir semua orang. Biasa hilir mudik ke sana kemari, tiba-tiba harus berdiam diri di rumah.

Bukan hanya soal kegiatan berhenti, ekonomi juga melambat, beberapa program tiba-tiba berhenti. Karena fokus semua ke Pandemi.

Jadilah dobel tekanan, selain kehilangan aktivitas, juga kehilangan salah satu sumber penghasilan andalan, saat itu. Apalagi, pada tahun 2019 awal, saya resign dari salah satu lembaga pendidikan tempat bekerja. Sehingga selama 2019-2020 bisa dikatakan sedang menjalani pekerjaan freelance.

Di tengah tekanan tersebut, berada di rumah tanpa aktivitas luar ruang, bukan suatu yang baik untuk perkembangan mental, setidaknya, walaupun salah satu sumber utama roda ekonomi berhenti, tapi pikiran jangan terlalu fokus ke ekonomi, Karena semua orang mengalaminya, agar dapat meminimalisir stress. 

Pada saat terlalu banyak diam itulah, muncul pikiran untuk memanfaatkan rooftop (atap rumah) yang tidak termanfaatkan. Rooftop sebelumnya, hanya sebagai tempat tandon air saja.

Urban Farming: Antara Hidroponik dan Polibag

Urban Farming, menanam Tomat dalam Polibag. Foto @abahraka
Sumber belajar daring secara otodidak sudah banyak di Youtube. Bagaimana saya memulai bertani kecil-kecilan, tepatnya bercocok tanam di atap rumah. Saya mulai mempelajari apa yang bisa ditanam dalam atap rumah, saya tonton cara bercocok tanam menggunakan polibag. Saya juga tonton bercocok tanam dengan cara hydroponik.

Kebetulan di komunitas netizen di Bandung juga beberapa kali menyelenggarakan pelatihan-pelatihan sistem bercocok tanam dengan cara hidroponik. Akan tetapi untuk tanaman hidroponik, biayanya cukup mahal, bisa ratusan atau bahkan jutaan jika kita membeli sarana penanamannya yang sudah jadi. Jikapun membuat sendiri, tentu juga butuh alat-alat.

Akhirnya, saya memutuskan menggunakan polibag sebagai sarana untuk bercocok tanam. Sayapun pesan secara daring, dulu masih toko si merah yang masih jaya-jayanya. Begitu juga dengan benih. Hanya saja untuk tanah, saya membelinya di dekat rumah. Setelah masa karantina 3 bulan. Saat itu sudah diperbolehkan kegiatan di luar rumah secara terbatas.

Urban Farming: Langkah Pertama untuk Pemula

Ini adalah pertama kalinya saya melakukan aktivitas tanam menanam. Youtube menjadi satu-satunya sumber belajar tentang urban farming. Sebenarnya pernah juga bertanya ke teman yang kebetulan sering sharing tentang aktivitas Bertani sungguhan, tapi jawabannya kurang memuaskan.

Polibag ukuran 30X30, menjadi media tanam pertama, ukuran yang cukup mini. Caosin adalah tanaman pertama yang terpilih. Karena baru pertama kali, ternyata ukuran polibag mini tersebut tidak cukup muat dalam menampung caosin yang bisa melebihi ukuran polibag.

Seinget saya, tidak ada rekomendasi untuk ukuran menanam tersebut. Karena dari referensi yang saya dapat, ukuran polibag besar digunakan untuk area pekarangan yang luas atau lebih menyerupai kebun. Sedangkan saya hanya memanfaatkan rooftop dengan ukuran kurang lebih 3,5X7 meter.

Sedangkan untuk unsur tanah, beberapa rekomendasi para petani rumahan, berupa campuran tanah, sekam, dan kotoran kambing. Saya pun membeli ketiga unsur tersebut di penjual tanaman-tanaman di pinggir jalan.

Hanya saja, asumsinya, jika menggunakan tanah Lembang saja, udah pasti unsur haranya bagus dan tanaman juga akan tumbuh dengan bagus. Apalagi dicampur dengan pupuk organik yang berasal dari kotoran kambing.

Setelah bercampur dengan perbandingan tanah 2 kali, sekam satu kali, dan kotoran kambing setengah kali. Saya susun beberapa polibag menyesuaikan dengan ketersediaan bahan yang saya beli. Belum banyak saat itu. Cicil satu per satu, ada 10 polibag khusus untuk chaosin. Lalu tambah satu polybag khusus untuk pembenihan.

Benih Caosin, dengan mudah dapat tumbuh pada satu polibag untuk pembenihan. Setelah tumbuh beberapa daun, saya pindahkan ke polibag tanam. Jadilah saya menanam chaosin untuk pertama kali.

Urban Farming, Nanas menjadi salah satu tanaman yang menghiasi rooptof sampai sekarang. @abahraka

Urban Farming: Kegiatan Selama Proses 

Keren ya namanya urban farming hahaha, padahal ya kegiatan sehari-hari bapak-bapak gabut karena tidak ada kerjaan. Al hasil, di luar aktivitas pekerjaan daring, khususnya sore-sore saya olah tanah, pupuk organik, dan sekam bakar.

Harga tanah saat itu Rp5000,- per karung kecil, kalo melihat ukuran sama dengan ukuran karung 10 kg beras. Sementara untuk sekam bakar, karena enteng, saya beli yang ukuran karung beras 25kg, seharga Rp25000,-. Plus pupuk organik yang berasal dari kotoran kambing dengan ukuran paling kecil, yaitu yaitu ukuran 5 kg beras, Rp5000,-

Saya membeli 3 karung tanah, satu karung sekam, dan dua karung pupuk organik. Jadi pengeluaran saya pertama untuk urban farming saat itu Rp40.000,-. Beruntungnya di rumah masih ada sisa-sisa alat/ bahan bangungn, sendok dan ember.

Untuk mencampurkan bahan tersebut saya menggunakan sisa alat bangunan tersebut. Selama kurang lebih 3 hari saya cicil, hingga akhirnya menjadi 10 polibag.

Setelah terpasang tanah dan polibag, saya simpan di atas tempat yang sudah dibuat sebelumnya dari sisa-sisa kayu bangunan. Setiap pagi saya naik ke atas, dan saya siram ke 10 plus 1 polibag semai. Beberapa hari, polibag semai sudah tumbuh kecambah. Dan kurang lebih 10 harian, kecambah sudah bisa lumayan berdaun.

Saya lupa pada hari ke berapa saya pindah ke polibag terpisah. Dan jadilah 10 polibag tersebut.

Namun, benih yang saya semai ternyata masih menyisakan benih-benih yang telah tumbuh. Akhirnya sayapun beli lagi polibag, dua karung tanah dan dua karung pupuk organik. Sementara sekam bakar masih cukup banyak. Sayapun mengeluarkan dana kurang lebih Rp.25000, untuk tanah, pupuk organik, dan polibag.

Sayapun olah lagi tanah dan pupuk baru sehingga bertambah menjadi 20 polibag. Sisa benih yang telah tumbuh saya pindah lagi dan sisanya saya biarkan. Karena untuk membuat olahan tanah hingga berbentuk tanah jadi pada polibag lumayan memakan waktu. Jika hari sabtu, bisa setengah hari penuh dari pagi-pagi jam 07.00 kurang lebih hingga jam 13.00.

Urban Farming: Cabai Merah @abahraka

Urban Farming: Caosin Pilihan Tanaman Pertama

Karena pertama kali melakukan aktivitas urban farming, saya tidak banyak terlalu banyak keinginan untuk menanam lain-lain. Hanya saat itu, sekalian saya beli tanah Lembang, saya beli juga benih jeruk purut. Hanya sayang, layu seperti terkena hama. Seperti penyakitan dan saya tidak tahu apa yang terjadi. Jadi saya biarkan saja mati.

Saya fokus ke caosin yang saya siram tiap hari. Selama beberapa minggu aktivitas harian saya setiap pagi adalah menyiram caosin. Setelah tiga minggu, tanamannya tumbuh dengan baik. Hijau segar. Jadi membayangkan kalau lagi jajan mie ayam mamang pinggir jalan. Saya sering minta tambah caosinnya hehehe....

Karena masih cukup banyak benih yang tumbuh, saya beli lagi polibag ukuran agak besar dan kecil, ukuran 25X25 dan 35x35. Setelah saya sediakan olahan tanah, sekam bakar, dan pupuk organik. Saya diamkan seminggu, dan bibit caisin yang sudah mulai tambah daunnya, saya pindah ke polibag baru. Alhasil, sudah ada sekitar 15-an polibag.

Setelah 4 minggu, polibag paling kecil ternyata tidak cukup menampung air. Sehingga saat pagi-pagi, jika matahari sedang terik, pagi-paginya sudah layu. Sedangkan yang ukuran 30 relatif aman, bisa menampung air, tapi sudah tidak segar lagi caisinnya walaupun tidak layu. Sedangkan yang ukuran 35, selain tumbuhnya lebih besar juga kelihatan masih segar.

Sesekali saya juga panen untuk dimasak sendiri. Beberapa sisa benih yang sudah tumbuh saya juga tanam lagi menggunakan kaleng dan ember bekas. Jadilah 20 tanaman. Dan di luar yang sudah dimasak, karena tumbuhnya sudah besar dengan warna hijau tua, ternyata jika diperhatikan cukup melimpah juga daun-daun hijau tersebut.

Periode keempat setelah cukup berhasil menanam tomat, saya menanam kembali Tomat @abahraka

Urban Farming: Berbagi Ke Sodara dan Tetangga

Apa jadinya jika tidak dipanen? Caosinnya akan menua dan berbunga. Jika sudah berbunga daun-daunnya tidak kelihatan segar dan besar.  Maka sebelum bunganya makin tumbuh, akhirnya saya panen semua.

Namun, sebelum saya panen, saya tawarkan dulu ke sodara dekat. Apakah mau sayur caosin dari kebun sendiri.

Satu ikat besar menggunakan karung, saya kirim ke adik yang rumahnya cukup berdekatan, walaupun beda kota: Kota Bandung dan Kabupaten Bandung. Saat tiba di rumah, adik saya bilang, kok banyak-banyak teuing. Ya saya bilang, gak apa-apa kalau enggak habis bisa dibagi ke tetangga.

Saat mertua datang ke rumah, saya juga panen lagi. Satu ikat menggunakan karung beras. Cukup banyak, jika dibagikan bisa untuk tiga keluarga dan untuk beberapa kali masak.

Tidak hanya ke adik, mertua, dan juga kakak, tetangga juga ikut kebagian. Saya pilihkan yang besar-besar, dua tanaman bisa untuk dua kali masak karena satu polibag tumbuhnya besar-besar.

Sedangkan yang masih tersisa yang kecil-kecil yang saya sebar beberapa tanaman dalam satu wadah, untuk keluarga saya sendiri. Karena saya pikir, setelah menanam ini akan nanam lagi caosin, gak akan banyak, cukup untuk bisa masak sendiri.

Ini pengalaman pertama mencoba urban farming dan cukup sukses dengan Caosin atau sawi hijau. Tanpa penyakit tanpa ulat juga. Rasa caisinnya juga enak dan kriuk saat dipasak setengah mateng. 

Urban Farming, hasil panen tomat pada periode ke-4 penanaman. 

NB: Setelah mengubek-ubek bank foto, tidak menemukan foto-foto tampak kebun rooptofnya begitu juga pertama kali menanam Caosin, jadi saya sisipkan foto-foto yang ada.***[]


41 komentar untuk "Saat Bapak-bapak Gabut Jadilah Urban Farming"

  1. Hahaha, kadang memang dari rasa gabut justru lahir ide-ide yang nggak kepikiran sebelumnya. Aku sering melihat orang yang awalnya cuma iseng mencoba hobi baru, eh lama-lama malah jadi kegiatan yang benar-benar dinikmati. Ternyata waktu luang memang bisa jadi awal munculnya kreativitas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nanti-nanti gabutnya jadi olahraga jalan kaki kiloan meter, sementar ini urban farming dulu aja hehehe

      Hapus
  2. Aduh, kalau mengingat masa pandemi, kayaknya campur aduk. Ada duka tapi ada juga hikmah di balik itu. Orang-orang jadi punya hobi baru kayak jadi urban farming ini,. Wah tomatnya lumayan gede-gede yah. Mama saya juga coba tanam tomat sendiri di polibag, tapi hasilnya nggak segede itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes bener banget, gak kepikir mau bikin tanam2an di rooptof, malah tadinya buat bersantai. Eh jadinya malah awet jadi buat nanam2 sampe sekarang.

      Hapus
  3. keren bapak gabut teh hehe. Padahal bisa juga dijualin ke ibu-ibu sayurannya itu. Hasil kebunnya segar-segar ya pak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha iya teh harus serius dulu bertaninya, fokus satu tanaman sayur misalnya jadi jika berlimpah bisa dijual...

      Hapus
  4. In this economy saat apa-apa mahal yaa urban farming adalah salah satu pilihan kegiatan bermanfaat. Bapak gabut tapi gabutnya bermanfaat ini sih. Jadi gak usah belanja sayuran , gak usah beli tomat, cabe,,,semua tinggal petik di kebun. Asyik banget deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kerasa tuh teh pas cabe cengek atau tomat lagi mahal, di rumah gak merasakan mahalnya karena tinggal petik sendiri...

      Hapus
  5. Seru juga ya, Bah, awalnya cuma mencari kegiatan saat gabut, ternyata rooftop bisa berubah jadi kebun kecil yang hasilnya sampai dibagikan ke keluarga dan tetangga. Aku juga baru tahu kalau ukuran polibag ternyata cukup berpengaruh pada kesegaran dan pertumbuhan tanaman. Proses mencoba, gagal, lalu belajar lagi seperti ini justru bikin pengalaman urban farming-nya terasa nyata. Apalagi ketika caisinnya bisa dipanen sendiri dan masih kriuk saat dimasak, pasti ada rasa puas yang berbeda, ya.🤭

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes bener banget teh, belajar dari kesalahan, dan akhirnya jadi pengen serius hehehe bertani beneran

      Hapus
  6. Ahh, menyenangkan sekalii..
    Cita-cita aku banget bisa urban farming yang hasilnya bisa dinikmati.
    Syukur-syukur kalau bisa dibagi dengan tetangga yaa...

    Dan Ibukku uda di tahap seperti ini, Abah.. kalau mau masak sayur, uda tinggal metik di depan rumah.. walau kadang kalau mau sakit hati, suka diambil paksa sama orang lain (((tetangga yang rumahnya jauh-jauh))) dan ngambilnya ga aturan.. kayak dibredel sebanyak yang mereka mau. Kudunya kan ambilnya pelan-pelan gitu yaa.. biar tanaman-tanaman itu sehat dan bisa berbuah kembali.

    Semangat terusss, Abah.
    Selain bikin bahagia juga sayurannya dijamin sehat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo aku mah jadi pengen jadi petani teh Lendy, bisa bagus hasil panennya kayaknya jadi kepuasan tersendiri ya

      Hapus
  7. Ini mah kegabutan yang bermanfaat Abah Raka. Dan kerennya konsisten menerapkannya. Kalau daku mah sebulan dua bulan doang, udahannya wassalam karena kerja huhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe semoga kalo gabut gabut lagi bermanfaat lagi

      Hapus
  8. wah keren nih, Bah berhasil urban farmingnya. Jadi ingat waktu covid kemarin suamiku kan resign dan dia memulai usaha tanaman gitu nanam tomat dan cabai banyak banget sayangnya nggak terlalu berhasil jadinya nggak lanjut deh. aku sendiri sampai sekarang juga nggak bakat banget bercocok tanam mati melulu tanaman yang kubeli

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi pengen serius, tapi kalo serius jadi harus fokus juga meliharanya, bukan hanya siram juga lainnya

      Hapus
  9. Wooooowwww!!
    Asli, penceritaannya dapet banget dan kerasa relatable dengan fenomena bapak-bapak zaman now yang kalau lagi senggang ada-ada saja idenya. Cara Abah mengemas cerita tentang hobi bercocok tanam di lahan terbatas ini terasa sangat hangat, jenaka, tapi tetap ada pesan positifnya. Gaya bahasanya santai, ngalir renyah, dan sukses bikin suasana hati jadi ikut adem serta terhibur sepanjang baca. Trik mengubah 'kegabutan' jadi hal produktif yang mantap betul! 👍

    Tapi nih Bah... agak 'nyesek' dikit pas nyampe bagian akhir tulisan, karena belum dibocorin resep rahasia atau jenis pupuk apa yang bikin tanamannya bisa langsung subur tanpa drama layu. Padahal jempol udah gatel banget mau ikut-ikutan nyoba menanam di pekarangan rumah, tapi agak jiper duluan takut tanamannya malah 'mogok hidup' gara-gara salah urus, wkwk!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siap nanti saya tulis juga tips triknya ya, karena belum mulai lagi yang serius jadi saya nanam yang tumbuh dari sampah organik

      Hapus
  10. Gabut nya berfaedah sekali, apalagi bisa berbagi dengan banyak orang. Urban farming juga keren namanya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe iya gabutnya udah kelewatan kan pandemi mah

      Hapus
  11. Wah, kreatif banget ide urban farming-nya! Pas banget buat ngisi waktu gabut bapak-bapak biar makin produktif dan hasilnya bisa dipanen sendiri di rumah. Seru dan menginspirasi banget tulisannya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ini mbak kalo banyak waktu itu jadi refreshing juga

      Hapus
  12. Senang banget pas panen terus bisa berbagi ke tetangga dan saudara. Walaupun terlihat sederhana wah itu perjuangannya luar biasa
    Saya juga di dak atas dibuat lahan untuk jemuran dan tanaman
    Suami nanam (menyemai ) bibit pohon jati India, ada jaat alias kecipir, juga cabe, sereh, dan sebagainya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya teh itu awal-awal urban farming jadi bikin semangat. Sekarang mau nyoba seriusin nanam cabe rawit/ cengek. Kalo musim ujan biasanya suka nanam gak sengaja, apa yang numbuh dari sampah ditanam aja, kemarau pada kering, jadi nyoba ngolah lagi tanahnya...

      Hapus
  13. Kalau di rumah saya, suami yang seneng banget dengan tanaman. Nurun hobinya dari ibunya. Saya tentu aja menikmati banget kalau halaman penuh tanaman yang subur. Apalagi yang bisa dikonsumsi ya. Memang asik deh urban farming.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Healing yang menghasilkan ini teh Mira

      Hapus
  14. Alhamdulillah banget, di sela gabut kepikiran buat urban farming. Salutnya lagi belajar secara otodidak. Bukan hanya merilis stress tapi menghasilkan ya. Jadi keluarga, saudara, dan tetangga pun ngalami icip panen dari kegiatan
    urban farming. Alhamdulillah berkah pisan pastinya. Bikin orang-orang bahagia. Melihat pohon nanas, bahkan panen tomat, salut sekali keep produktif & aktif berkegiatan positif.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak jadi pengen bertani beneran menghasilkan dan dapat dijual gitu hehehe

      Hapus
  15. Gabut yang berkualitas ya, Duh jadi pengen jadi tetangganya biar bisa kebagi hasil panennya, hihi. Urban farming memang seseru itu lho apalagi kalau hasilnya bagus udah gitu bisa berbagi dengan sekitar, bermanfaat banget tentunya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha sini sini mbak merapat....

      Hapus
  16. Hahaha, judulnya aja sudah bikin senyum. Tapi ternyata “gabut” bisa berubah jadi kegiatan yang produktif juga ya. Urban farming memang menarik, apalagi kalau punya sedikit ruang di rumah dan bisa menghasilkan sesuatu yang kemudian dimanfaatkan sendiri. Lumayan banget: rumah jadi lebih hijau, aktivitas bertambah, siapa tahu panen sendiri juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pandemi jadi berkah ini, beneran kalo gak pandemi gak kepaksa bikin urban farming di atap

      Hapus
  17. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  18. Mantap pisan Bah! Daripada gabut mending pepelakan di rooftop. Modal irit tapi hasilnya bikin bungah, lumayan panen cabe sareng tomat kanggo di dapur hehehe!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mau nyoba seriusin cengek kang de kan sok mahal nya...

      Hapus
  19. MasyaAllah kegabutan yang sungguh produktif dan bikin ngiri. Ini persis sama almarhum bapak mertua yang ga bisa dan akhirnya menanam segala macam jenis pepohonan dan alhamdulillah aku menikmati hasilnya dulu. Sayangnya anaknya which is suami gak menuruni bakatnya, ko nanam2 ya kok apapun itu seringnya gagal hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama mbak saya sering juga gagal jadi bikin males, makanya udah lama gak serius, nanam apa yang numbuh dari sisa makanan aja...

      Hapus
  20. Rajin paak, gabutnya bermanfaat banget deh ini sih,,,menghasilkan dan menyenangkan. Kalau ingin makan sayur tinggal metk di kebun sendiri, ya Allah in this economy,,,punya kebun sendiri rasanya bahagia banget yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes ada kalanya gitu, tapi udah lama ini gak hehe... Sayuran lagi gak nanam lebih ke tanaman menahun

      Hapus
  21. seru banget sih kalau lihat orang-orang yang berkebun ini. kayak di acara chef n fridge itu bahkan artisnya berkebun di atap juga jadi mereka makan hasil kebun mereka sendiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pengennya sih memenuhi kebutuhan rumah ya, pengen sayur ada, pengen telor ada, pengen ayam ada, pengen bumbu ada. Cuma sayangnya belum maksimal. Masih seadanya.

      Hapus

Terima kasih telah berkunjung, tunggu kunjungan balik saya ya...