Menikmati Malam di Alkid Yogyakarta

Saya bersama bocil, Alun-alun Kidul (Alkid) Yogyakarta dengan latar Beringin Kembar

Itinerary Wajib Saat ke Yogyakarta

[https://abah-raka.com] - Selain Malioboro yang menjadi destinasi magisnya Yogyakarta, Alun-alun Kidul (Alkid) juga tak kalah magisnya. Maksud magis di sini adalah, bahwa kedua destinasi tersebut menjadi tempat yang benar-benar ikonik di Yogyakarta. Malioboro, saat disebutkan saja sudah sangat magis, mengundang calon pengunjung merasa harus kembali lagi ke Yogyakarta.

Sedangkan Alkid, walaupun di setiap kota di Indonesia terdapat alun-alunnya, namun posisi beringin kembar sepertinya hanya satu-satunya, ya di Yogyakarta. Walaupun, ada cerita-cerita yang beneran magis tentang dua pohon tua yang tumbuhnya berdampingan tersebut.

Alhasil, dua-duanya memiliki daya magis. Agar pengunjung bisa lagi kembali dan balik lagi ke Yogyakarta. Termasuk saya, tahun ini inginnya kembali ke Yogyakarta, menikmati destinasi dan merasakan slow living di perkampungan Yogyakarta.

Saat keberadaan di Yogya sudah hari terakhir, seorang teman dari isteri, mengajak dulu nge-date. Pertemuan ini juga didorong karena anak-anak sudah akrab bermain antar sesamanya. Karena beberapa hari sebelumnya, menginap dan transit di rumahnya. Untuk menyenangkan anak-anak di hari terakhir, maka sepakatlah untuk bermain di Alkid Yogyakarta.

Malam minggu, suasananya memang tidak biasa. Tidak biasa seperti di alun-alun kota kami, yang ramai tapi tidak hidup. Ramai tapi kurang akrab. Ramai tapi tidak bercengkerama. Hal itu saya rasakan saat kendaraan kami memasuki area alun-alun. Saat mencari tempat parkir, muda-mudi sedang berkejaran menggunakan skuter listrik. Satu keluarga juga ketawa-ketawa saat menaiki sepeda disko dengan boseh barengan. Sambil berupaya mengeluarkan tenaga agar sepedanya tetap melaju.

Ngapain Aja di Alkid Yogyakarta?

Setelah menemukan parkiran, kami pun saling berkontak dan bertemu di area yang tidak jauh dengan tempat parkir. Anak-anak tampak malu-malu lagi karena sudah beberapa hari tidak bertemu selama di Yogya. Akhirnya kami suruh untuk bermain bersama.

Memfasilitas Anak-anak Main Bersama

Anak-anak dengan latar penjual lukisan steorofom

Untuk memfasilitasi bermain bersama, mereka meminta kami membelikan media lukis menggunakan stereofom. Kami penuhi. Saya pun mengantar mereka mencari mamang-mamang (mas-mas) penyedia jasa lukis stereofom. Satu mamang-mamang  lewat, dua lewat, tiga lewat, akhirnya mereka pilih satu.

Mereka pun anteng (kerasan) dengan mencoret-coret media Lukis. Si Kakaknya udah selesai, adiknya tampak beringsut ikut kakaknya walaupun belum selesai. Sementara temannya sudah sama, ada yang sudah selesai ada yang belum. Satu media lukis pun selesai dipenuhi dengan coretan warna-warni.

Melihat kakak-kakak laki-lakinya bergembira bermain Lukis, adik perempuannya juga meminta untuk dibelikan media Lukis. Namun saat itu saya lebih menawarinya untuk mencari jajanan.

Sementara mainan lukisan sudah selesai, masing-masing kakak beradik yang dua keluarga tersebut dua-duanya cowok meminta kembali untuk bermain. Kali ini, mereka meminta untuk bermain kolecer (balng-baling terbang) yang ditembakan ke atas. Saya pun mengiyakan dan mereka begitu sumringah, dan mencari mamang-mamang (mas-mas) penjual kolecer yang tersebar di sekitar alun-alun.

Kulineran di Alkid Yogyakarta

Ramainya pedagang Kaki Lima (Cahaya putih) dengan beragam kuliner

Sementara saya melanjutkan untuk mencari kulineran, mas-mas suami dari teman isteri menemani anak-anak untuk mencari penjual kolecer yang tersebar di banyak titik Alkid. Saya mengajak serta anak pangais bungsu untuk mencari camilan yang dia suka; dari mulai sosis bakar, baso bakar, Takoyaki, jasuke, baso, nasi goreng, ayam goreng, juga beragam minuman kekinian. Namun akhirnya anak gadis lebih memilih sosis bakar dan kentang goreng krispi.

Saya pun memesan sesuai dengan jumlah anak-anak, sedangkan orang tuanya lebih memilih membeli minuman saja, sebagian air mineral sejumlah orang tuanya, empat orang.

Saat saya kembali, anak-anak sedang mendongakkan kepalanya ke atas. Sambil menunjuk-nunjuk riang, si cikal berteriak,”Bah lihat itu nyala di atas”, teriaknya. Adiknya juga tidak mau kalah, tapi kolecer miliknya tidak bisa diterbangkan karena belum berhasil-berhasil. Akhirnya saya bantu, sekali dua kali, akhirnya bisa terbang jauh dan kolecernya mengeluarkan Cahaya lampu. Si adik pun kegirangan,”Hore punya ku juga nyala, lihat tuh lihat,” sambil menyebutkan namanya sendiri menunjukkan ke kakaknya jika kolecernya berhasil terbang dan menyala juga.

Saya menghantarkan dulu anak gadis beserta camilan miliknya yang baru saja dibeli ke Ibunya. Ibunya sedang ngobrol dengan temannya. Saya kembali ke anak laki saya yang sedang menikmati permainan kolecer terbang menyala. Si sulung dan adiknya lari-larian, kejar-kejaran sama teman sebayanya. Mengejar kolecer terbang yang sebentar lagi jatuh. Si Mas, membantu kolecer anak saya juga untuk diterbangkan.

Satu kali, dua kali, tiga kali, hingga tak terhitung jumlahnya. Si sulung bilang lapar, sementara kolecernya sudah tidak berputar dengan baik untuk bisa terbang sempurna. Saya pun mengajak dulu istirahat sambil makan camilan yang telah dibelikan. Saya pun ajak si Mas dan anaknya.

Isteripun berbagi Sosis bakar yang telah saya beli tadi, satu per sat uke anak-anak laki yang habis kegirangan bermain kolecer terbang menyala. Saya memberikan botol air mineral yang saya beli tadi.

Anak Sulung si Mas tiba-tiba minta makanan yang lain, dan akhirnya si Mas pergi mengantarnya. Tidak lama, sudah kembali dan membawa makanannya, satu dua anak saya juga dibagi. Akhirnya saling berbagi.

Ngobrol ngaler ngidul, hingga rencana perpulangan besok subuh ke Bandung. Setelah camilan habis, anak-anak minta main sepedah hias.

Keliling Alkid Menggunakan Sepeda Hias

Salah satu sudut kraton yang saya abadikan saat naik sepeda hias

Dua keluarga tidak cukup menggunakan satu sepeda hias, akhirnya menyewa dua sepeda hias. Sebagian anak saya ikut si Mas karena sepeda hias satu kepenuhan. Maklum, saya keluarga besar, jadi berbagi satu anak untuk ikut satu sepeda hias.

Setelah lengkap, masing-masing naik sepeda. Kami mulai gowes. Wuedan rek, ternyata berat banget ini sepeda. Membawa satu rombongan dengan dua dewasa dan 3 anak, karena satu anak dititip di si Mas. Ternyata harus mengeluarkan tenaga ekstra agar sepeda itu bisa jalan.

Si Mas rupanya melihat kesusahan saya, dan minta adik satunya ikut sepeda hiasnya. Setelah sepedaku berkurang lagi jumlah anggota di sepeda, akhirnya mulai bisa jalan. Tapi saya lihat si Mas juga kepayahan menggowe sepeda dengan isi 6 anggota. Saya akhirnya minta lagi si adik yang paling kecil untuk ikut kami lagi. Hahaha bolak-balik dikira gowes bawa 6 anggota tidak berat, ternyata bukan hanya berat tapi tenaga kaki kami gempor segempor-gempornya.

Baru beberapa meter saja sudah keluar keringat, lutut udah pegal, tapi saat kira-kira beberapa belas meter, jalannya mulai melandai. Kami juga udah mulai bisa mengatur ritme gowes dan akhirnya bisa menikmati gowes sepeda hias di Alkid Yogyakarta.

Kami melihat begitu ramainya Alkid, sepanjang trotoar, pedagang kaki lima berjejar dengan rapi, tanpa memakan trotoarnya untuk pejalan kaki. Muda-mudi dan pasangan bercengkerama di alun-alun, duduk-duduk sambil menikmati kulinernya; ada yang hanya minum-minum, menikmati wedang jahe, bubur, baso, ataupun sate. Sebagian pedagang berkeliling menjajakan aromanis, kolecer, ataunpun mainan lain.

Seklias tampak silhuet beringin kembar di tengah alun-alun yang diriuhi oleh pengunjung. Sepeda hias lain juga mengikuti. Sebagian kendaraan antri menunggu sepeda hias meminggirkan badannya. Lampu-lampu kaki lima tetap setia menemani para pembelinya. Orang-orang saling menyeberang untuk mengunjungi berbagai tenant. Dan yang paling saya ingat adalah kehangatan para pengunjung saat bersama-sama teman, kolega, atau keluarga-keluarganya. Mereka begitu menikmati suasana Alkid Yogyakarta.

Saatnya Kembali

Tidak terasa, satu keliling sudah kami menggowes sepeda hias. Saya pun keluarkan uang 50ribu untuk dua sepeda, tapi kata si Mas, dari saya aja Mas. Haduh ya terima kasih.

Anak-anak kehausan, sementara air mineral saya masih utuh, si Mas pergi membelikan anak-anak minuman berwarna, walaupun saya agak kurang sreg, tapi gak apa-apa lah ya sesekali. Si Masnya datang dan meberikan minuman yang baru saja dibelinya ke anak-anak.

Jam sudah pukul 21.22, kami pun pamit, dan saya kembali lagi ke Kaliurang tempat saya menginap di Guest House. Saya bersalaman dengan si Mas dan anak-anak, isteri saya cipika cipiki dengan isteri si Mas. Semoga lain waktu bisa silaturahmi kembali***[]

28 komentar untuk "Menikmati Malam di Alkid Yogyakarta"

  1. Seruu juga ya kang berkunjung ke alun alun kidul Yogyakarta ini. Ternyata banyak yang bisa di eksplore gak bakalan mati gaya dan anti gabut. Bahkan keknya kurang deh waktunya tiba tiba udah jam 10 malam aja. Betah banget main sepeda hias keliling Alun Alun hehe..Emang enak main ke Alun Alun tuh malam kalau siang pasti panas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya saya yang baru pertama kali betah di sini. Ada anak-anak jadi saya batasi ngobrolnya.

      Hapus
  2. Suasana malam di Alkid memang punya vibe yang khas, apalagi dengan lampu-lampu dan aktivitas orang di sekitarnya. Jalan-jalan malam sambil ngobrol ringan di tempat seperti itu jadi pengalaman sederhana yang berkesan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul sederhana tapi dapat momentnya

      Hapus
  3. Suasananya seru dan menarik untuk dikunjungi. Sekitarannya juga banyak lampu-lampu dan ramai banget kayanya ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu lampu-lampu pedagang kaki lima

      Hapus
  4. Saya belum pernah ke alun alunnya kalau ke Jogja, kelihatannya hangat ya suasananya dan banyak yang bisa dieksplor. Tempat seperti ini pasti disukai anak-anak ya? Luas bisa lari2 leluasa dan bisa hunting kuliner sambil menikmati suasana yang mungkin gak pernah ditemui di kota tempat tinggal asal. Liburan yang berkesan pastinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cukup ramah anak teh, selain sepeda hias, mainan-mainan yang disukai anak, jajahannya juga banyak banget yaang bikin anak betah dan pengen jajan lagi

      Hapus
  5. Wah, Jogja emang selalu punya cerita ya! Alkid emang destinasi wajib sih kalau mau cari suasana malam yang khas banget. Makasih banyak sudah berbagi pengalaman santainya di sini, kak. Sehat dan sukses selalu ya!

    BalasHapus
  6. tiap baca tulisan orang tentang jogja selalu bikin saya kangen dan pengen ke sana lagi. alun-alun yogya ini kemarin cuma sempat dilewati aja sih dan saya baru tahu soal beringin kembar itu. btw ternyata di berbagai daerah media lukis itu selalu ada ya terutama di area umum kayak alun-alun gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya udah mainstream sebagai media edufan buat anak ya

      Hapus
  7. Iya ya, Yogyakarta punya nuansa indah tanpa terlukis kata. Saya pernah study tour waktu SMP, bahkan suasana jalan dan auranya aja sudah bikin rindu.

    BalasHapus
  8. Seruuu ya jalan jalan di alkid Yogyakarta, meski s hiburannya sederha, tapi vibe nya yang beda. Apalagi sambil main kolecer terus kulineran. Tapi gak kebayang sih kalau gowes juga apalagi in this age, wkwkwkw. Cape yaaa, hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwkwkw kirain gak akan kuat gowes, di awal udah ngos-ngosan langsung keluar keringet...untuk setelah belasa meter terus melandai

      Hapus
  9. Jogja memang magis sekaligus punya magnet, sekali ke sana bakal pengen ke sana lagi. Saya sudah dua kali ke jogja belum pernah ke alkid, mgkn kalo berkesempatan lagi bsa ke situ.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini juga karena ada yang ngajak ketemuan, yang enak dan murmer di mana ya, akhirnya rekomendasi teman di sana, jadi tau alkid rame banget di malam minggu...

      Hapus
  10. Nge-lag bentar baca judulnya sambil mikir ini tempat hype baru mana lagi dan lekas scroll ke bawah, lihat foto-fotonya langsung ngikik, oalaa.. Alun-alun kidul ternyata.
    Tiap ke sana masih penasaran coba jalan lurus diantara dua pohon beringin sambil merem bah. Bukan soal magisnya juga sih cuma penasaran aja gitu hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha iya, Alkid sebutan kekininannya. Iya bener magis di sini bukan magis mistis ya lebih ke daya tarik aja secara umum tentang yogya

      Hapus
  11. Keknya waktu daku ke Yogyakarta belum sempat ke Alkid.
    Seru juga ya di sana, terlebih pas momennya malam, bisa sambil quality time bareng keluarga juga menikmati santap malam, eh camilan malam sosis bakar yang lezat (bisa pakai nasi jiga gak sih, Abah? Laahhh. Wkwkwk)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha bisa aja sih pake nasi tapi gak niat buat botram jadi gak bawa nasi haha

      Hapus
  12. Kayanya aku belum ke Alun-alun Kidul deh kalau ke Jogjakarta. Btw, alun-alun di manapun selalu jadi tempat favorit buat main ya. Pasti ada saja yang dimainkan, jajan dan sebagainya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes bener banget, beberapa alun-alun bener-bener dibuat sebagai pusat pertemuan masyarakat

      Hapus
  13. Baruuu sadarr.. keknya aku ke Jogja gamain ke alun-alunnya deh..
    Padahal kalo ke Semarang, selalu menuju Simpang Lima buat tempat duduk-duduk sambil ngemil jajanan tradisional daerah ituu.. walo iya siih.. yang dijual sama aja kayak di Bandung yaahh.. hehehe.. sosis bakar, dkk-nya..

    Alkid Yogyakarta seruu bangeet...
    Aga kaget pas Abah menyelipkan kalimat "Wuedan rek"
    Sesaat aku pikir Abah orang Surabaya.. hihihi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu nah kebawa aja suasananya, jadi arek arek suroboyo ya...

      Hapus
  14. alun-alun kidul ini kayaknya jadi pilihan warga yogya ya buat ketemuan atau santai. aku pernah mas malam-malam naik becak ke area itu dan rame banget sih ya daerah malioboro dan tugu itu

    BalasHapus
  15. Wah abah ke Jogja ya, seru kan. Jadi pengen kopdar :D

    BalasHapus

Terima kasih telah berkunjung, tunggu kunjungan balik saya ya...