Mulai dari Nol Ya...

Meng-enol-kan Isi dan Diri

Ilustrasi Imam Syafi'i, sumber republika.com

Saat mau menulikan judul ini, sebetulnya kurang sreg, tapi itulah yang saya rasakan 
pasca menyelesaikan studi pada awal Februari 2026 atau tepatnya seminggu sebelum bulan Ramadhan 1447 H tahun ini. Akhirnya, serasa jadi Duta Pertamina ya hehe...

Saya juga tidak menyangka bisa menyelesaikan studi formal tingkat akhir ini. Berhubung jika melihat latar belakang keluarga, selain bukan berasal dari keluarga yang ambisius, latar belakang ekonomi, yang jika dihitung secara matematika ekonomi juga tidak mungkin bisa selesai.

Apalagi, faktor yang sangat berpengaruh adalah pandemi yang berlarut-larut hingga resign dari kantor lama tepat setahun sebelum pandemi dan belum mendapatkan kantor baru pada saat pandemi tersebut.

Saat pandemi, sempat loss (menghilang) selama 3 tahun lebih, tanpa menoleh sedikitkan ke urusan studi, walaupun tetap mempertahankan status kemahasiswaan. Ditambah lagi faktor lapangan, yang sampai tahun 2022 tidak terlihat riak untuk objek risetnya. Bahkan di grup-grup subjek riset pun sepi aktivitas. Jika tidak dipancing dan disenggol-senggol tidak akan ada aktivitas sekalipun.

Banyak sekali faktornya yang membuat mental ini jatuh sejatuh-jatuhnya hingga akhirnya pasrah. Permasalahannya selain ekonomi/ tidak memiliki pekerjaan yang tetap saat itu, keadaan ekonomi secara umum juga tidak kondusif, tingkat kebutuhan keluarga benar-benar mendesak. Karena bagaimanapun, tanggung jawab terhadap pendidikan anak lebih besar. Tidak bijak juga jika memiliki keinginan pribadi, walaupun untuk menunjang karir, tapi mengabaikan keluarga.

Di tengah kepasrahan tersebut, masih ada ikhtiar di luar pekerjaan. Jejaring selama perkuliahan sangat membantu bertahan, baik bertahan secara ekonomi ataupun bertahan sebagai mahasiswa. Jejaring berasal dari teman kelas dan sekaligus luar kampus. Hingga akhirnya bertahan selama dua tiga semester yang diwasilahi oleh jejaring di luar kampus.

Pada sisi lain, jejaring pada aktivitas ekstrakulikuler juga membantu mempertahankan status selama dua semester sebelumnya. Di sela masih bertahannya sebagai mahasiswa, ternyata status mahasiswa menjadi salah satu berkah hingga akhirnya mendapatkan kembali pekerjaan.

Antara Jaminan, Doa & Keyakinan, Jejaring, dan Ikhtiar

Jauh sebelum mengambil keputusan untuk melanjutkan kembali studi. Sebelumnya, saya yakin seyakin-yakinnya jika Allah memberikan jalan melalui jalur jaminannya. Saya masih teringat, saat lulus SMA dan masih pengangguran pasca lulus SMA, seorang guru, wali kelas, saat saya berkunjung ke almamater, dan Ia bertanya. “Dud, kamu sudah kerja belum?” saya mantap menjawab, “belum pak.”

Sang Guru, dengan lantang dan berapi-api menyemangati, “udah aja nikah, nikah itu rezekinya langsung dijamin Allah.” Saya masih teringat, bukan hanya nikah, seperti sering disampaikan guru ngaji, bahwa orang-orang yang menuntut ilmu, guru saya biasa menyebut tholabulilmu rezekinya dijamin  oleh Allah. Guru saya juga menceritakan kepokannya yang masih kuliah, lalu nikah, dan rezekinya mengalir.

Saya belum paham secara praktis, saya merasa saat itu, itu hanya sekedar kelakar guru saya aja dengan mengutip hadits. Setelah saya menyelesaikan studi lanjut 2011 lalu, saya baru paham secara praktis. Mungkin ini yang dimaksud guru ngaji saya dulu waktu remaja. Dan saya juga ingat, bahwa para penuntut ilmu itu sebagai salah satu penerima hak zakat atau mustahik. Ini bukti jika orang-orang yang menuntut ilmu, rezekinya jaminan langsung dari Allah.

Seketika setelah selesai kuliah, saya merasakan bahwa Allah menjamin orang-orang yang menuntut ilmu dan sekaligus mengangkat derajatnya. Pada saat selesai itulah, pada akhirnya saya berani mengimplementasikan apa yang dinyatakan oleh guru SMA saya, yaitu menikah.

Berbekal ilmu hidup itu, saya kembali meyakinkan diri saya, jika studi lanjutan saya kemudian Allah akan memberikan jalan kembali sebagaimana pada studi lanjut pertama. Pada saat studi lanjut pertama, saya masih pengangguran, kerja serabutan, tidak ada yang langsung menjamin darimana saya harus bayar SPP, Allah langsung menjaminnya. Jalannya selalu saja ada, walaupun bayar SPP selalu telat dan saat mau menjelas ujian akhir bayar bisa bayar.

Tentu saja pada saat pertama masuk, saya harus pergi ke Jakarta, ke Bekasi, dan lainnya untuk menggenapkan biaya masuk pertama. Selebihnya, Allah beri jalan melalui beragama cara, kerja proyekan, jadi asisten orang juga, lebih tepatnya orang-orang bilang kasarnya ‘jongos’. Kadang tulisan terbit di media massa, yang saat itu menurut saya honornya lumayan bisa untuk biaya hidup 2-3 minggu.

Pada studi lanjut kali ini, tanpa membesar-besarkan, lika-likunya memang sangat terasa, berat dan banyak drama. Stress iya, kadang demotivasi, kadang ingin menyerah. Walaupun akhirnya lebih memilih pasrah. Ikhtiar-ikhtiar dilakukan agar tetap menjadi orang yang selalu berusaha bersyukur, bukan karena penuh ambisi. Apalah artinya ambisi, jika tidak memiliki ukuran pasti dan masuk akal.

Tapi kalkulator Allah berbeda dengan kalkulator dunia. Saya yang tidak punya daya. Secara pribadi dan kalkulasi tidak berdaya secara ekonomi dan tidak mungkin bisa lulus, Allah mampukan. Dan itulah yang pada akhirnya saya sadari juga. Bahwa orang tua dan guru-guru sering mengajarkan, jika berdoa, memintalah untuk dicukupkan, berdoalah untuk dimampukan.

Walaupun tentu berbeda keadaan dengan pada saat saya studi lanjut pertama, walaupun pengangguran, tapi belum punya tanggungan, masih bujangan. Sedangkan pada studi lanjut kedua, walaupun sudah memiliki pekerjaan dan penghasilan, tanggungan bukan hanya satu dua, sehingga tidak bisa menyumberkan biaya pendidikan dari pekerjaan.

Bisa jadi ini adalah wujud dari doa-doa yang dipanjatkan, sebulan lalu, mungkin setahun lalu, mungkin dua tahun lalu. Mungkin juga do’a yang sampai dari Ibu, doa-doa yang dipanjatkan isteri dan anak-anak, atau doa-doa yang dipanjatkan orang-orang baik terbaik kita. Saya akhirnya dimampukan dan bisa lulus, walaupun, istilah dalam ceritanya harus berdarah-darah. Sangat terlihat tidak berdaya.

Itulah keajaiban keyakinan. Walaupun harus melalui ragu. Demotivasi. Down. Mencoba lagi. Bangkit sedikit. Tertekan. Sampai harus stress. Dan juga merelakan. Ya sudah jika bikan rezekinya. Ikhtiar-ikhtiar walaupun minim, Allah tetap memberikan yang maksimal.

Beberapa hal yang saya rasakan adalah, doa dan keyakinan itu seperti bensin yang terbakar, menjalar walaupun lambat, jejaring dan pertemanan juga ternyata berdampak terhadap penyelesaian studi ini. Jejaring pertemanan membuka jalan dan rezekinya sendiri sehingga selama beberapa semester, walaupun secara ekonomi tidak terkalkulasi, namun tetap bisa mempertahankan status mahasiswanya.

Nol Kilometer

Ilustrasi prustasi karena tidak tahu apa-apa, membaca. Sumber: DepositPhotos

Dengan dinamika, drama, dan lika-likunya tersebut hingga akhirnya mencapai titik puncak. Setelah mencapai puncak. Seolah titik puncak itu adalah titik nol kilometer.

Sebetulnya, saya membahasakan dalam kehidupan sehari-hari, saya merasa menjadi orang yang bodoh yang tidak tahu apa-apa. Namun sebagai narasi dalam catatan ini saya membahasakannya kembali lagi dari nol.

Setelah saya mencapai titik nol kilometer. Saya harus mulai lagi dari 0,1 kilometer untuk pulang. Apa yang saya dapatkan selama pendidikan seolah hilang tersapu angin dan kabut. Pengetahuan saya dinolkan lagi. Saya merasa tidak tahu apa-apa ketika kembali lagi ke tempat kerja. Selama dua tahun terakhir, lebih banyak di depan laptop dan ruang kerja di rumah. Jejaring lama terputus, aktivitas lama tidak mungkin tiba-tiba dengan sendirinya datang lagi. Apalagi menjelang dan ketika meyakinkan untuk menyelesaikan, semua aktivitas di luar pekerjaan saya undurkan diri. Maka wajar, bukan karena merasa serba tidak tahu, juga aktivitasnya mulai lagi dari nol.

Ke Mana Melangkah?

Dua minggu setelah lulus malah bingung mau ngapain. Walaupun sebetulnya, kalau pekerjaan sudah seperti template. Akan tetapi untuk kembali ke setelah awal, harus mulai lagi membangunnya dari nol. Dan untuk kembali ke titik awal dulu, itu tidak tiba-tiba hadir, tidak tiba-tiba muncul, tapi perlu diciptakan. Sehingga bisa menciptakan kembali peluang dan membuka jejaring dan pekerjaan lagi.  

Mulai dari mana? Itu yang saya pikirkan selama dua minggu pasca lulus. Apa yang harus saya lakukan? Tidak benar-benar bisa melangkah dengan pasti. Seperti menunggu, membaca situasi, membaca arah angin. Kemana harus melangkah.

Maka karena merasa mulai lagi dari nol, tanpa ide, tanpa jejaring. Saya memulai seperti mahasiswa baru yang haus ilmu, saya mulai membaca. Mengumpulkan lagi buku-buku lama yang menjadi kesukaan, menyelesaikan satu bacaan, dan menargetkan bacaan lain selesai. Selain buku-buku yang relatif berat, karena bersifat teori, juga mulai lagi membaca karya sastra untuk memperkaya kosakata dan metafora.

Membaca saya anggap sebagai langkah awal untuk memulai lagi kembali ke titik awal, sebagai satu langkah pertama dan seterusnya. Jadi pekerjaan saya kurang lebih selama satu bulan ini adalah membaca. Pagi dan sore. Saat bangun tidur dan menjelang tidur. Serasa bisa mewujudkan dejavu mimpi lama, banyak waktu untuk membaca. Namun entah sampai kapan.***[]

26 komentar untuk "Mulai dari Nol Ya..."

  1. begitu kuat motivasi dari jejaring ya Bah. Sehingga dapat mendorong kita berjalan kembali menempuh satu tujuan. Yah ibarat motor itu kelistrikannya.
    Ditunggu karya-karyanya Abah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya saya merasakan banget itu, termasuk juga jejaring blogger....

      Hapus
  2. Terkadang dunia ini begitu beragam. Ada yanv adil dan kadang gak adil. Hanya waktu yang bisa menjamin hidup seseorang yang akan berubah kelak nanti.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan terkadang lagi, tapi sangat beragam, dinamis, dan tentu saja ada yang merasakan adil dan tidak adil ya, hanya perasaan tapi hehe

      Hapus
  3. Kadang kita emang butuh momen buat tekan tombol reset dan mulai semuanya dari awal lagi dengan semangat baru. Artikelnya ngena banget nih buat asupan pagi-pagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener, pada akhirnya penting untuk mereset diri ya

      Hapus
  4. Pertama..selamat atas kelulusannya yaaa .. Saya yakin ini akan memacu utk makin semangat berkarya. Semoga sukses selalu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih Mbak Mechta, semoga memacu untuk berkarya, saya juga harapannya begitu mbak hehehe

      Hapus
  5. Memulai dari nol memang tidak mudah, tapi seringkali justru menjadi awal yang paling berharga. Kadang langkah kecil yang konsisten justru membawa perubahan besar di kemudian hari. Jadi rindu lagi suasana ramadhan, bismillah bisa bertemu ramadhan berikutnya amin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya memang seperti kehilangan arah rasanya...serasa tidak berguna hehehe

      Hapus
  6. Mulai daro nol dalam hal kesucian diri tentu sangat baik. Namun, kalau kaitannya dengan proses, hmmm

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga ya, ya ini bener2 saya ngerasa settingannya nol lagi. Harus bangun lagi semacam tema baru agar bisa melangkah lagi

      Hapus
  7. Selamat kak atas elulusannya sudah menyelesaikan kuliah. Perjalanan hidup jadi berasa kembali ke tiik nol yaa meskipun sebenarnya tidak juga. Tapi titik nol disini adalah menyetel tujuan perjalanan hidup selanjutnya. Semoga kesuksesan selalu menyertai kehidupan kakak yaa, Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya menyetel ulang sebenarnya saya itu mau ke mana sih...

      Hapus
  8. Tulisan jujur yang menjangkau nurani terdalam saya.. Memang matematika Allah tak sama dengan kita dan sungguh bersyukur sampai dibabak yang diharapkan.
    Pun serasa kembali ke titik nol tak mengapa, karena selama hayat masih di kandung badan artinya masih diberi kemampuan berusaha. Semoga dengan bekal gelar baru, kali ini bisa mengakselerasi kecepatan bertumbuhnya ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin Yaa Robbal Aalamiin, salah satu harapan saya adalah soal berkarya, betul semoga bisa mengakselerasi berkarya...

      Hapus
  9. Matematika manusia beda sama metamatikanya Allah. Setujuuu

    BalasHapus
  10. Jadi ingat dulu pas awal-awal lulus kuliah juga begitu. Semua orang terbawa suasana wisudah kelulusan, ucapan selamat atas wisudanya hampir setiap hari mampir. Padahal sebetulnya diri sendiri bingung, habis ini apa? Mau ngapain? Kayak ada rasa hampa, sebelumnya rutinitas pulang-pergi kampus-kosan sekarang jadi berdiam diri kos. Memang betul, jejaring itu besar sekali dampaknya. Ketika merasa hampa itu, orang-orang dalam circle jejaring seolah mengulurkan tangan: ayo sekarang ikut ke sini, kita mulai langkah dari nol lagi!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sejak lulus saya juga gitu, kerja pulang kerja pulang. Kayak kurang berguna gitu hehehe. Berguna bagi nusa dan bangsa gitu...

      Hapus
  11. Siip banget Abah sudha berbagi, karena jadi pengingat Kalau Allah yang sudah menjamin kehidupan seseorang, maka tak ada yang bisa menghalangi malah jadinya kejutan manis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya teh, ternyata ilmu hidup itu harus dipraktikkan ya

      Hapus
  12. Alhamdulillah Abah..
    Ketika kita di titik merasa butuh ilmu, in syaa Allah jalan apapun akan terasa harus ditempuh dan Allah bantu arahkan.

    Saya kagum karena Abah jadi memotivasi pembaca untuk banyak membaca dan mencari ilmu Allah ini tentu berasa 24 jam ga cukup.

    Semoga ilmu yang diperoleh bisa menjadi keberkahan yang memanjang.

    Barakallahu fiik, Abah Raka.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin yaa Robbal Aalamiin, semoga teh, makasih ya...

      Hapus
  13. Wah, keren nih tulisannya. Mengnolkan diri sendiri. Hmm, bisa gak ya? Jadi bahan releksi nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya serasa kembali ke nol kilometer. Kita mulai berjalan lagi dari titik nol

      Hapus

Terima kasih telah berkunjung, tunggu kunjungan balik saya ya...